UPACARA (1)

okIMG_0742 (300x191) (2)

 

 

 

 

 

 

 

 

"Dunia roh adalah keabadian.
Tak ada hitungan seperti di bumi.
Segalanya serba dalam kebaruan sepanjang waktu."
Puruk Cahu, 1974.

 

Umai adalah orang pertama yang menyebut secara eksplisit kata Tuhan kepada Willy.  Katanya, Tuhanlah yang menciptakan bumi dan langit serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya. Ketika Tuhan (Yahweh) menjadikan bumi dan langit itu, bumi masih kosong dan gelap menutupi samudera raya.

 

Lalu terang jadi pemisah gelap di cakrawala. Yang basah dan kering dipisahkan, jadilah daratan. Di antara basah dan kering itu, Tuhan menciptakaan penghuni, binatang-binatang memenuhi kedua alam itu. Ketika semuanya sudah lengkap, Tuhan menciptakan pengatur bagi seluruh alam, terciptalah manusia. Seluruhnya rampung dalam 6 enam hari.

 

Umai pula yang mengatakan bahwa dalam Kristen, agama yang mereka anut, Tuhan itu disebut Tuhan Bapa. Segala sesuatu di semesta ini berawal dari Bapa, berproses melalui bantuan PutraNya, Tuhan Yesus, dan menjadi efektif di dunia karena adanya Roh yang Imanen.

 

Ketika Willy menginjak dewasa, ia baru memahami bahwa apa yang dijelaskan oleh Umainya itu sesungguhnya konsep Trinitas. Ia teringat ketika guru sekolah minggunya menjelaskan konsep itu dengan pengandaian yang paling mudah.

 

Kita tak akan pernah mengenal Tuhan Bapa sekiranya tak ada wahyu kepada putraNya, demikian pula kita takkan pernah mengenal Putra Tuhan, Yesus Kristus, jika tak ada Roh yang membuat kita mengenalnya. Roh mendampingi Firman Suci Bapa, tak bedanya dengan napas mendampingi kata-kata yang diucapkan oleh manusia.

 

Agama-agama lain pasti punya nama–nama tersendiri bagi Tuhan yang disembahnya. Menurut Umai, itu wajar. Tidak perlu dipertengkarkan, seperti halnya sebutan tentang perempuan yang melahirkan manusia.

 

Ada yang menyebutnya “umai”, ada “emak”, ada “ibu,” ada “bunda”, ada “mama”, ada “inang” dan seterusnya, sesuai dengan adat kebiasaan dan kepercayaan yang sudah turun temurun.

 

Umai juga menceritakan bahwa leluhur mereka dulu beragama Kaharingan. Itu terjadi sebelum seorang Jerman, Barnstein, datang membawa misi Agama Kristen ke bumi Kalimantan pada tahun 1835. Mulanya banyak pendeta yang menjadi sasaran mandau dan sumpitan rakyat karena dianggap sebagai kaki tangan penjajah.

 

Seiring dengan waktu, sebagian besar masyarakat Dayak menerima agama yang mengajarkan kasih kepada sesama manusia itu. Banyak sekolah-sekolah yang dibangun oleh gereja dan memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak pedalaman. Seperti si Umai yang mendapat pendidikan SGKP secara gratis dari Gereja.

 

Meski semua keluarga mereka kini telah memeluk Kristen, kata Umai, tidak boleh melupakan adat masyarakat Dayak. Jauh sebelum Agama Islam dan Kristen datang, Kaharingan adalah agama sejati masyarakat pedalaman Dayak. Kaharingan memiliki aturan dan tata tertib sendiri dalam menjalankan kehidupannya sebagai manusia, dan telah menjadi bagian dari alam semesta.

 

Willy belum paham benar waktu itu. Maklum ia masih duduk di kelas 5 SD. Si Umai menceritakan itu semua ketika mereka sedang duduk-duduk di batu besar tepi Sungai Barito. Kelak ia akan memahaminya sendiri, batin si Umai.

 

Menjelang gelap, dilihatnya orang-orang hilir mudik di sungai. Sepekan lagi akan digelar upacara Balian di Batang, rumah adat di dekat Sungai Lunuk.

“Kau datanglah melihat upacara di desa sebelah sana,” itulah kali pertama si Umai menyuruh Willy menyaksikan upacara Balian di desa seberang.

“Tapi itu acara malam hari, Umai,”

“Kau sudah kuanggap besar sekarang,”

Willy berangkat. Tak lupa ia menggandeng gengnya, berjalan kaki tanpa alas kaki.

****

Dari kejauhan, terdengar keriuhan yang teratur berkumandang lirih. Ada suara musik yang ditabuh, ada nyanyian beriringan. Iramanya turun naik mengombak dalam alun dan liuk yang kadang tenang kadang keras. Ada pula sorak kegirangan. Segala macam bunyi-bunyian itu mengalun dalam irama yang padu dan harmonis.

 

Willy menyaksikan keceriaan dan kegembiraan penduduk yang terdendang menggema ke seluruh pelosok desa-desa pedalaman. Tak terkecuali Puruk Cahu, desa yang jauh terpencil di hulu sungai Barito. Kesunyiannya kini menjadi riuh.

Bagi Willy dan teman-temannya, upacara adalah pesta.

 

Panggung-panggung didirikan, diisi dengan berbagai pertunjukkan yang menakjubkan. Ada juga berbagai barang diperjualbelikan. Orang-orang desa menyemut di sana. Tua-muda, laki-perempuan, dan anak-anak tak mau ketinggalan menjadi bagian dari keramaian itu. Segalanya bercampur. Pasar malam yang sempurna.

Balian adalah upacara yang selalu mengundang pengunjung paling banyak. Balian, seperti artinya, belian, pawang atau dukun.Upacara ini bisa dianggap sebagai pertaruhan kedukunan para dukun. Ada berbagai macam jenis belian, ada Balian Bawo, Balian Dadas, Balian Patandak, juga Balian Balaku Untung. Balian Bawo dan Dadas merupakan jenis belian yang memakai gelang pontoh.

 

Balian Patandak biasanya dilakukan untuk mengakhiri ritual tiwah dan berfungsi untuk meminta restu agar diberi umur panjang dan kebahagiaan. Sementara Balaku Untung adalah permohonan kepada Dewa agar dianugerahi rezeki yang melimpah dan umur panjang.

Peranan Basir dalam upacara Balian sangat menentukan dalam pengobatan. Masyarakat banyak mendapatkan pengobatan dari Basir-basir dalam upacara Balian itu dengan cara yang khas, musykil. Mereka percaya bahwa segala penyakit berasal dari para Dewa, maka pengobatannya juga dari Dewa.

 

(Bersambung)

Cerita ini merupakan bagian dari cuplikan kisah dalam buku saya “MEMERDEKAKAN MURUNG RAYA UNTUK INDONESIA sebuah biografi Dr. Ir. Willy M Yoseph.

0 Comments

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *