Being a Muslim Woman in Contemporary Indonesia (Aku, Islam, dan Keberagaman)

DHE_8233 (640x427)

Foto by Dewi Nurcahyani

Puncak cinta adalah pemberontakan
sebuah proses pembebasan diri dari kepalsuan
menuju diri yang hakiki,
untuk jalan penemuan hakikat diri

–Ayu Arman

(1)

Akar: Kejawen, NU, dan Muhammadiyah

Ketika lahir, saya mendapatkan begitu saja status baru: beragama Islam. Demikianlah saya berkenalan dengan agama monoteistik yang datang dari jazirah Arab ini sebagai sebuah penerimaan otomatis; semacam warisan sakral yang diturunkan orangtua kepada anak-anak biologis mereka.

 

Orangtua saya, terlebih bapak, adalah penganut agama Islam yang “lurus”, taat, dan menolak segala ibadat yang tak digariskan syariah. Terutama praktik-praktik keagamaan yang berbau klenik (magis), seperti memuja kuburan, memohon pada pohon, dan percaya pada kekuatan takhayul sebagaimana dipraktikkan sebagian besar masyarakat di kampung saya, Latek, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

Saya tak tahu persis kapan dakwah Islam masuk dan menjadi agama utama penduduk desa Latek itu. Konon menurut tuturan lisan para kamitua, penduduk desa ini mulanya menganut agama Hindu sebelum konversi keyakinan ke agama Islam. Maka jamak dalam keseharian masih banyak ditemukan warga yang masih menjalankan tradisi-tradisi sadran, sesajen, dan mendatangi tempat-tempat yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.

 

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam pertama yang hadir di desa ini—setelah Partai Masyumi tumbang pada tahun 1960-an. NU adalah organisasi Islam tradisional terbesar di Indonesia. Didirikan Kiai Hasyim Asyari pada 1926 dengan tujuan, di antaranya menahan laju purifikasi Islam yang digelorakan beberapa tokoh Wahabi Indonesia yang dikhawatirkan merobohkan adat-istiadat di Nusantara. Dengan demikian cara berdakwah organisasi ini memakai pendekatan kultural, tidak ofensif terhadap budaya lokal. NU, misalnya, afirmatif dengan ritus selamatan/kenduri kematian berupa doa-doa, tahlilan, yasinan di hari ke 7, 40, 100, dan 1000 hari, ziarah kubur, dan diba’an.

Namun, bapak saya memiliki pandangan yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Ia tak bisa menerima praktik-praktik keislaman yang berbaur dengan tradisi-tradisi lokal tersebut, yang diikuti oleh kedua orangtuanya sendiri, juga seluruh keluarga besarnya, dan menyebar hingga hampir seluruh masyarakat kampung. Sehingga ayah saya memilih organisasi “seteru” NU dalam pandangan keagamaan, yakni Muhamadiyah, sebagai gerakan keagamaannya.

Ya, selain NU, Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia,yang didirikan KH. Ahmad Dahlan pada 1912 di Kauman Yogjakarta, yang watak gerakannya sebagai lokomotif gerakan pembaharu—reformis—untuk memurnikan aqidah Islam dari segala macam ritus syirik dalam keimanan (tauhid) dan membersihkan aktivitas peribadatan dari bid’ah (menambah-nambah rukun ibadat yang tak diajarkan Nabi Muhammad SAW). Dalam kerja intelektual dan pemikiran, organisasi yang tumbuh dalam masyarakat perkotaan ini menghilangkan praktik taklid buta (mengikuti tokoh tertentu) dan memberikan kebebasan dalam melakukan ijtihad. Upaya pembaruan itu diringkus dalam akronim terkenal: TBC. Akronim TBC ini dipilih di satu sisi memberi apropriasi dengan salah satu penyakit menular yang menakutkan, Tuberkolosis; tapi juga memberi arti lain: Takhayul , Bidah , dan Khurafat . Seperti halnya penyakit tuberkolosis, seperti itulah bahayanya trisum takhayul-bidah-khurafat dalam praktik keagamaan.

Pilihan bapak saya pada Muhammadiyah saat itu barangkali karena ia pernah bersekolah di SMP Muhammadiyah Lamongan meski tak menamatkannya. Bisa pula bersumber dari bacaan beberapa kitab kuning Nasihin—kitab yang dipakai di Lembaga Dewan Dakwah Islamiyah (LDDI) yang sempat ia kaji. Dan bisa juga pilihan itu berasal dari asupan surat kabar, majalah, dan buku-buku. Membaca memang hobi ayah saya. Ia menyukai buku, terutama buku-buku sejarah (agama).

Bagi ayah saya, Muhammadiyah adalah gerakan pembebasan yang penting agar manusia tampil sebagai pribadi yang merdeka lahir-batin, tidak hanyut dalam arus perbudakan fisikal dan spiritual. Manusia hanya boleh menghamba pada satu kekuatan, yaitu Tuhan.

Secara kuantitas, mulanya pengikut Muhammadiyah di desa kelahiran ayah saya hanya beberapa segelintir orang saja. Berdirinya ranting Muhammadiyah di desa saya dibuat pertama kali H Makrib. Ia warga Latek yang tak sependapat dengan beberapa praktik ibadah di satu-satunya masjid di desa. Penolakan M Takrib itu mendorongnya memisahkan diri dan membangun langgar bersama beberapa warga yang memiliki pemikiran yang sama.

Di langgar Muhammadiyah itulah bapak saya banyak menghabiskan waktu mudanya. Ia lalu didaulat menjadi kepala ranting Muhammadiyah pada decade 70 hingga 80- an setelah H Makrib. Bersama dua kawan seperjuangannya—H. Podho dan H. Syuuni (janda)—ayah saya kemudian menggerakan Muhammadiyah dengan mendirikan Madrasah Ibtidayah Muhammadiyah, dan ia menjadi kepala sekolah pertama di sekolah tersebut dengan jumlah murid tidak kurang dari sepuluh anak.

Ketika muridnya bertambah, ayah saya mencari guru di beberapa daerah yang kemudian ia latih untuk menjadi guru di sekolah tersebut. Tak hanya bertanggung jawab pada aktivitas mengajar, ayah saya juga bertanggung jawab pada soal pendanaan sekolah dan segala aktivitas Muhammadiyah. Maka dari itu di sela-sela mengajar, bapak saya membuka amal-usaha selep (penggilingan padi menjadi beras), jual beli beras, dan berladang. Dari keuntungan selep tersebut, kadang uangnya untuk membayar para guru.

Dari aktivitas sekolah inilah bapak saya berjumpa dengan seorang muslimah yang kemudian menjadi ibu saya. Rumah gadis itu tak jauh dari lokasi sekolah dan langgar Muhammadiyah. Tetapi keluarga ibu saya dari keluarga Islam “abangan”—yang secara formal memeluk Islam, namun praktik keseharian keluarganya lebih cenderung mengikuti sistem kepercayaan lokal ( kejawen). Hampir seluruh saudara nenek—ibu dari ibu saya—menganut kepercayaan “Sapto Darmo”, salah satu aliran besar kejawen di Indonesia. Sementara kakek saya pengikut NU yang sangat mencintai dunia wayang.

Dari tiga kultur itu— Muhammadiyah, NU, Kejawen—saya tumbuh hingga remaja. Maka dari  kecil, saya sudah terbiasa melihat bagaimana orang-orang terdekat saya mengekspresikan keagamaannya dengan cara berbeda-beda. Dari kakek di pihak ibu, saya melihat dan tahu tentang tradisi kejawen seperti memandikan keris-keris dan tombak di setiap tanggal I Syuro, mendengar gending-gending Jawa dan cerita pewayangan. Saya juga terbiasa melihat mereka bersembahyang—diam sambil duduk bersila—menghadap ke timur dengan mata terpejam. Bahkan saya melihat bagaimana “mbah buyut” saya menghunuskan tombaknya ke atas langit dengan bibirnya komat-kamit membaca doa-doa untuk meredakan hujan lebat dan menurunkan kilatan halilintar, yang kemudian hujan angin lebat itu menurun menjadi sahabat.

Dari kakek-nenek dari pihak ayah, saya melihat—dan kadang mengikuti—shalat di masjid dengan qunut, sholawatan, tahlilan, selamatan orang meninggal, dan ziarah kubur. Sementara dari bapak, saya melihat dan menerima ajaran bahwa segala gerak aktivitas kehidupan ini harus menyesuaikan dengan apa yang tertulis dalam Alquran dan Hadis. Jika seseorang melakukan praktik kegamaan yang tak ada tuntunannya dalam kedua kitab itu, maka seseorang itu telah melakukan perbuatan takhayul, bidah, dan khurafat. Ganjaran untuk ritus ibadat yang becampur dengan takhayul, bidah, dan khurafat adalah dosa dan digiring masuk ke dalam neraka.

Masih teringat dalam memori saya ketika saya mendapat berkat selamatan kematian dari tetangga. “Berkat” itu adalah makanan yang berisi nasi ayam-telur dicampur mie, dan tak ketinggalan apem—kue kesukaan saya. Tahu hal itu, bapak saya langsung menyuruh untuk membuangnya di perkarangan untuk menjadi santapan ayam.

Kerap saya bertanya:” Mengapa makanan itu harus dibuang? Saya menyukai kue apem-nya?”

“Jangan dimakan. Itu haram,” jelas bapak saya singkat. Jika sudah demikian, saya menjadi tak berani melanggar perintah ataupun bertanya lagi.

Baru ketika memasuki kelas lima Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, saya mulai berani bertanya pada bapak saya karena saya tak rela setiap mendapat “berkat” yang di dalamnya ada apem, selalu dibuang dan tak boleh dimakan.

“Mengapa kita tidak boleh memakan nasi dan kue “berkatan” dari selamatan?” tanyaku.

”Nabi tidak pernah mengajarkan itu. Lagi pula, kita dosa jika memakannya karena kita makan dari keluarga yang sedang sedih karena ditinggal mati keluarganya. Seharusnya kita membantu mereka, memberi nafkah kepada mereka, bukan malah kita meminta makan kepada mereka—keluarga yang ditinggalkan,” bapak saya memberikan alasannya. “Lagi pula itu tidak ada ajaran dalam Quran dan Hadis.”

Mendengar penjelasan itu, saya menerima begitu saja. Apalagi suara ayah dalam keluarga saya seperti suara Tuhan. Tidak bisa dilawan atau digugat. Apa yang dikatakan oleh ayah saya adalah perintah yang harus dijalankan dalam keluarga, termasuk ibu saya sendiri. Maka sejak kecil, perintah ayah seperti perintah Tuhan; bahwa saya harus menjalankan shalat dengan tepat waktu, mengaji, dan memakai jilbab. Jika tidak shalat, maka bisa kena pukul oleh bapak. Bahkan, jika suara adzan subuh belum bangun, wajah dan kepala saya basah kuyup oleh siraman air dari bapak. Rambut pun—meski tertutup jilbab—tak boleh dipotong pendek, karena perbuatan dosa bila menyerupai laki-laki.

Semua perintah dan larangan bapak itu saya jalankan dengan sepatuh-patuhnya. Kecuali satu, saya tak bisa dilarang untuk tidak menari. Menari adalah aktivitas kesukaan kecil saya. Entah dari mana asal-muasalnya saya suka sekali menari. Tubuh saya selalu bergerak sendiri jika mendengar musik, apalagi jika bunyi itu berasal gending-gending Jawa yang diperdengarkan kakek dari ibu saya. Sehingga saya kecil kerap sekali menciptakan gerak tari sendiri dan mengajarkan pada teman-teman dan anak-anak yang masih kecil. Maka dari itu setiap perpisahan sekolah atau malam tirakatan (memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus), saya selalu tampil menari.

Sesungguhnya ayah marah jika mendengar saya menari. Kerap ia menasehatiku bahwa menari itu dosa. Katanya, aurat perempuan tidak boleh diumbar. Sungguh, saya saat itu tidak mengerti penjelasan ayah saya tentang apa itu aurat, apa itu dosa. Seperti ketidakmengertian saya pada “isi” dalam tubuhku ini, yang ingin terus bergerak ketika mendengar suara gamelan.

Yang saya tahu saat itu adalah jika saya tak menjalankan perintah dan larangan bapak, saya pasti mendapat murka sehingga saya takut jika tidak mematuhi perintah bapak. Namun, dorongan menari dari tubuh saya justru berani melawan ketakutan saya pada bapak. Saya tetap senang menari meski bapak saya berulang kali melarangnya. Tentu, saya berlatih menari dengan sembunyi-sembunyi. Biasanya, saya menari di rumah teman atau kakek saya.

Hingga suatu hari, bapak saya mendengar, bahwa sedang belajar menari jaipongan untuk acara hari kemerdekaan. Mendengar kabar itu, sontak, bapak mencari saya. Ketika saya dan teman-teman sedang asyik latihan di rumah tetangga, tiba-tiba bapak saya datang, dan tanpa bertanya-tanya, ia mengambil tape dan kaset, lalu ia banting ke tanah hingga hancur. Saya terdiam ketakutan, begitu juga teman-teman saya. Dan, akhirnya, pementasan tari jaipongan untuk memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus pun batal.

(2)
Pesantren: Yang Mengenalkan Islam tak Berwajah Tunggal

aku dan pesantren

Aku dan teman-teman MAPK di Pesantren Karangasem Paciran Lamongan 95-97

Di usia ke-13, saya keluar dari kampung halaman untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah; sebuah pendidikan Islam dengan sistem asrama. Di Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan, saya “dititipkan”. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional khas Jawa. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, gerak kehidupan sehari-hari setiap santri dibatasi oleh aturan yang ketat. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, semua diatur sesuai jadwal.

Di pesantren ini saya dan santri lain benar-benar tertutup dari dunia luar. Menonton TV dibatasi; hanya sekali dalam sepekan, yakni malam Jumat. Satu-satunya informasi dunia luar yang kami konsumsi berasal dari koran Jawa Pos yang dipasang di aula. Kami pun tak boleh berkomunikasi atau berhubungan dengan laki-laki. Mengintip santri pria dari balik jendela kamar saja, bila ketahuan, para pembina pesantren memberikan hukuman.

Hukumannya pun tak main-main. Dipermalukan dengan menyapu asrama putra atau membersikan kamar mandi selama berhari-hari. Bahkan bila ada yang ketahuan memiliki hubungan dengan laki-laki, seorang santri bisa dikeluarkan dari pesantren. Karena perbuatan itu dianggap menodai citra seorang santri dan mendapatkan sebutan minor: “santri nakal”.

Meski ruang gerak di pesantren dibatasi, tak boleh keluar, tetapi dunia pesantren telah mengenalkanku pada perbedaan suku di pelbagai daerah Indonesia. Lewat pergaulan dengan teman-teman santri, saya mengenal Bali, Banyuwangi, Situbondo, Surabaya, Malang, Jombang, Gresik, Madura, Bawean, Jakarta, bahkan Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Dari ritus hidup sehari-hari dengan keragaman latar santri itu saya bisa mengenal karakter khas banyak suku; mulai dari logat bahasa hingga kuliner. Karena itu setiap sepulang liburan sekolah, misalnya, teman-teman saya di asrama kerap membawa cerita daerah dan makanan khas masing-masing. Saya kemudian mengerti bahwa pelajaran pluralitas Indonesia justru mula-mula bukan saya dapatkan lewat peta dan mata pelajaran Geografi dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP), melainkan dari persentuhan sehari-hari saya dengan teman-teman sesama santri di pesantren.

Tak hanya itu, pesantren juga mengajarkan pada saya tentang kemandirian hidup dan kedispilinan waktu. Saya terlatih hidup mandiri walau hidup jauh dari keluarga, dan tak mau merepotkan orang lain, karena segala sesuatu dilakukan sendiri. Pesantren mengajarkan saya tentang arti berbagi dan kebersamaan.

Hanya saja, pada tiga tahun pertama, pemahaman tentang Keislamaan saya tak banyak beranjak. Masih seperti yang diajarkan bapak saya: Islam yang keras terhadap produksi kebudayaan dari sintesis kehidupan lokal di Nusantara. Karena pada tingkat pendidikan di pesantren ini, saya hanya belajar Al-Jalalain, sebuah kitab tafsir Al-Quranyang umumnya dianggap sebagai kitab tafsir klasik mazhab Sunni; Bulughul Marom; dan belajar kaidah bahasa arab, seperti Nahwu dan Shorof.

Pemahamaan saya tentang Islam mulai berubah ketika saya masuk Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK); sebuah proyek percontohon pendidikan madrasah yang digagas Menteri Agama Munawir Sjadzali sejak dekade 1980-an. Program MAPK ini menjadi embrio mencari siswa-siswa unggulan dari sekolah Keislaman di pesantren Karangasem. Sebab kurikulum MAPK ini 70 persen pengetahuan agama dengan pengantar bahasa Arab, sementara sisanya pengetahuan umum dan diwajibkan menghafal Alquran. Untuk mendapatkan lulusan siswa yang demikian, maka asrama MAPK dipisahkan dengan santri lainnya.

Madrasah ini menjalankan tradisi disiplin yang ketat. Tidak ada hari libur bagi siswa, kecuali hari Jumat. Kegiatan di mulai dari waktu subuh dan diakhiri pada pukul sepuluh malam. Kegiatan pagi dimulai dengan menyetor hafalan selembar Alquran pada kyai usia shalat subuh. Pagi hingga siang hari, saya bersama santri terpilih mengikuti pelajaran sekolah, yang 70 persen bermuatan keagamaan, dengan buku-buku berbahasa Arab gundul, yang dilanjutkan dengan toturial sore hari dengan mata pelajaran kitab-kitab kuning. Tutorial yang sama berlanjut setelah sholat isya hingga pukul sepuluh malam.

buku kuning

Di MAPK inilah saya bersentuhan dengan pelbagai kitab kuning, antara lain (1)Kitab Mushtholah Al-Hadits; (2)Fiqh al-Sunnah-al-Sayyid Sabiq; (3)Mana’ul Qatan Mabakhis fii Ulumul Quran; (4) Syari’ Ibnu Aqil; (5) Fajrul Islam; (6) Subulus Salam; (7) Fatkhul Majiid; (8) Kifayatul Akhyar; (9) Mulakhosh Lughoh Arabiyah; dan (10) Alfiyah dan Shorof.

Dari kajian kitab-kitab tersebut, pengetahuan tentang Keislaman saya mulai terbuka, bahwa dalam peradaban atau khazanah Islam ternyata memiliki ragam pemikiran dan aliran mazhab. Seperti saat mengkaji ilmu fiqh (hukum Islam) karya Sayyid Sabiq, saya menemukan perbedaan (khilafiyyah) madzhab dan aliran fiqh yang berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan cara pemahamaan dan pedekatan yang digunakan masing-masing imam. Ada lima madzhab fikih besar yang masih bertahan sampai sekarang, yaitu Hanafi, Malik, Syafi’i, Hambali, dan Syiah Imammiyah. Perbedaan madzhab itu disebabkan selain perbedaan sosialogis dan orientasi politik di kalangan imam, juga karena perbedaan metodologis yang mereka pakai dalam menggali hukum dari sumber utama, yakni Alquran dan Alhadis.

Saya juga diajari bagaimana menganalis kualitas sebuah hadis yang menjadi salah satu dalil dalam penentuan hukum Islam. Ketika belajar kitab Mushtholah Al-Hadits karangan al-Qodhi Abu Muhammad ar-Romahurmuzi, saya mengenal seluk-beluk ilmu hadis. Dari kitab yang dikarang atas perintah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini saya berkenalan dengan macam-macam hadis, kriterianya, syarat orang yang berhak meriwayatkan, dan seterusnya yang dapat dijadikan bukti kevalidan isi atau matan suatu hadis.

Dengan semakin mendalami pelbagai kitab kuning tersebut, selubung wawasan keislaman saya terbuka; bahwa Islam itu mengalami pasang-surut. Di masa Nabi dan era Khulafa’al-Rasyidin (632-661) ekspresi keislaman relatif tunggal. Lebih-lebih di era kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, semua masalah yang muncul di kalangan umat Islam bisa diselesaikan dengan otoritasnya sehingga umat Islam bersikap: Sami’na wa atha’ba (kami dengar dan kami taat).

Seperti ketika pertama kali saya membaca teks-teks agama di pelbagai literatur kitab-kitab kuning tersebut, ekspresi kegelisahanku bergolak. Bagaimana tidak. Sebagai muslimah, niat, pikiran, sikap, gerak-laku kita dalam kehidupan sehari-hari tak pernah lepas dari teks—yakni, Alquran, Alhadis, kaidah moral, dan fikih. Rangkaian teks itu telah menjadi titik pijak sekaligus titik rujuk. Aktivitas sejak bangun hingga tidur kembali, bahkan dari dilahirkan hingga wafat, semuanya diatur—atau kita temukan “referensi”-nya—dalam teks itu. Masalahnya, kian banyak yang saya rujuk, kian banyak ketentuan dalam teks-teks itu yang rasanya kurang adil terhadap kaum saya, perempuan.

Sebut saja, misalnya, soal penciptaan perempuan yang berasal dari tulang rusuk Adam yang bengkok itu; ihwal akal perempuan yang cuma “separuh” yang mengakibatkan ia tak boleh menjadi pemimpin; tentang laknat malaikat terhadap istri jika ia tidak mau diajak bercinta yang karena itu suami boleh memukulnya; perihal kesaksian perempuan yang harus empat orang; soal hak waris perempuan;perihal poligami, bahkan sampai suaranya pun dianggap aurat dan pemicu fitnah.

Apa sih sebenarnya yang membuat laki-laki itu sepertinya lebih istimewa dari seorang perempuan? Setiap pertanyaan itu saya lontarkan pada guru-guru saya, dan jawabannya selalu seragam: “Karena lelaki ditakdirkan sebagai pemimpin.”

Jika saya tanya lagi: “Mengapa lelaki harus menjadi pemimpin perempuan?” Jawabannya selalu mentok: ” Ayu, kamu jangan banyak tanya. Emang dari sana-Nya, lelaki ditakdirkan lebih kuat dari perempuan sehingga ia menjadi pemimpin.”

Tentu saja jawaban itu tak memuaskan. Bahkan saking kesalnya, aku pernah sengaja melempar buku ke selokan kotor karena aku tak kuasa menahan kesal usai menyimak isinya: “Seorang pria beriman kelak bakal dihadiahi bidadari di surga.”Kucari-cari baris demi baris, akankah Tuhan mengaruniai bidadara bagi hamba-perempuan-Nya yang beriman? Mengapa hanya pria saja yang diistimewakan? Tak ada jawaban; hanya jejal tanya campur resah yang kian menggeriap dalam hati.

Jawaban itu baru saya temukan belakangan, ketika saya kuliah di semester tiga di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta; bahwa ketimpangan relasi itu terjadi lebih disebabkan oleh setumpuk legitimasi kultural dan pemahaman agama yang sifatnya patriarkal.

(3)
UIN Syarif Hidayatullah- Jakarta: Benih Pemberontakan Tumbuh

@DHE_09 (640x427)

Saya ingin melihat dunia ini tanpa diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Maka, keadilan gender harus ditegakkan secara proposional tak terkecuali di dunia Islam. Soal gender dalam fikih tak semata berpihak pada laki-laki semata lantaran ditulis kaum ini. Kenyataan yang tak adil ini membawa saya pada kegelisahan yang panjang.

Saya tahu bahwa Alquran dan Alhadis adalah dwitunggal yang menjadi sumur ajaran Islam. Dalam doktrin selalu ditekankan bahwa tak ada keraguan kedua sumber rujukan itu. Dalam Alquran dan Alhadis disinggung persoalan perempuan, baik perempuan sebagai individu, sebagai istri, maupun sebagai bagian dari masyarakat. Namun, kedua rujukan ini memiliki dua penggambaran yang berbeda tentang perempuan.

Dalam konteks emansipasi manusia, Alquran mempersepsikan perempuan sebagai individu yang memiliki hak setara dengan laki-laki. Apabila perempuan berbuat sesuatu yang baik, maka pahala mereka sama sebagaima laki laki bisa mencapai kesempatan dalam bidang ketakwaan. Namun, dalam hal kehidupan rumah tangga, perkawainan, Alquran justru menarik porsi kesetaraan yang dimiliki perempuan atas laki-laki.

Dalam Alhadis pun demikian. Ada Alhadis yang memiliki pandangan kesetaraan dan hadis-hadis yang menggambarkan ketaksetaraan atau dikenal dengan istilah misoginis—kebencian. Lalu bagaimana memahami kecenderungan Alquran dan Alhadis yang menggambarkan ketaksetaraan perempuan dan laki-laki tersebut? Ataukah memang benar, secara sosial, Islam menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua?

Untuk memahami tersebut, hal pertama yang harus diingat adalah Islam bukanlah Arab meski Islam lahir pertama di Arab. Sehingga kita bisa membedakan mana ajaran Islam sebagai doktrin keimananan dan mana budaya-budaya Arab yang melatari penurunan wahyu atau terciptanya hadis-hadis tersebut.

Hal kedua, Islam datang sebagai pembebas. Kedatangannya di jazirah Arab merupakan sebuah momen yang revolusioner. Perlu ditekankan, terdapat sekian banyak kontradiksi dalam masyarakat Arab jahiliah sebelum Muhammad memperkenalkan Islam. Di satu sisi, masyarakat Arab pra-Islam memiliki tradisi kesusastraan dan perdagangan yang kuat, namun, di sisi lain bekerja sistem penindasan atas kelompok masyarakat tertentu, dalam hal ini kaum perempuan dan perbudakan pada kaum papah.

Yang revolusioner dari ajaran Nabi Muhammad SAW adalah tuntutan-tuntutannya yang bersifat emansipatif: seruan atas tatanan sosial yang egaliter baik dalam ritual (seperti shalat dan zakat), kehidupan sosial (penghapusan perbudakan secara perlahan-lahan), ekonomi-politik (penentangan atas akumulasi kekayaan dan monopoli ekonomi oleh sejumlah pedagang besar yang bersifat eksploitatif) dan hubungan antar agama (dengan para penganut agama lain).

Tetapi, seruan revolusioner yang universal dari Alquran itu juga tidak melupakan konteks sosial masyarakat Arab jahiliah. Penghapusan perbudakan, misalnya, dilakukan secara gradual. Sehingga pembebasan kaum tertindas merupakan wujud perjuangan kemanusiaan yang tertinggi dalam Islam . Karena menurut etik Alquran, melindungi orang-orang yang tertindas adalah suatu keharusan. (QS 4:75)

Oleh karena itu, pembacaan pada ketaksetaraan itu haruslah menggunakan pendekatan historis. Sebab kesan ketaksetaraan pada Alquran dan Alhadis tersebut sering muncul pada konteks sejarah tertentu yang kemudian ditafsir seorang mufassir—yang mayoritas laki-laki—dengan pendekatan dzahiriyyah, yaitu membaca dan memaknai Alquran berdasarkan apa yang tertulis yang kemudian melahirkan kebenaran pada bunyi kalimat dan sama sekali mengabaikan konteks kesejarahannya.

Dalam kajian tafsir, penafsiran tekstual ini merupakan pendekatan tertua dalam kajian keagaaman dan banyak dijumpai di banyak kelompok, termasuk di tubuh umat Islam sendiri di era terkini. Dan mereka yang memiliki cara pandang ini biasanya memiliki sikap keagamann yang kaku dan jarang berkompromi dengan perubahaan sosial, politik, dan budaya yang di sekitar mereka.

Berbeda apabila cara pandang yang digunakan adalah penafsiran kontekstual, membaca Alquran dalam konteks—baik konteks ketika ayat-ayat Alquran itu diturunkan maupun ruang di mana kita hidup sekarang ketika membaca Alquran. Cara pembacaan dengan melibatkan konteks ini memberi mendorong terciptanya ruang emansipasi bagi laki laki dan perempuan.

Namun harapan semacam ini masih sulit diterima dalam kehidupan komunal. Tak jarang mereka yang memiliki pemahaman pentingnya kesetaraan gender mengalami deadlock saat berhadapan langsung di lapangan kehidupan. Bila ada perempuan yang keras kepala memperjuangkan keadilan untuk hidup dan nasibnya, mereka kerap dicap sebagai “perempuan pembangkang” atau “perempuan liberal”.

Masih teringat dalam memori saya ketika pertama kali melepas salah satu atribut kemuslimahaan saya, yakni jilbab. Sebagai busana yang dikenakan bagi setiap muslimah, jilbab diatur kewajibannya bersandar pada Q.s al-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59). Kedua ayat itu melegitimasi kesucian para pemakai jilbab di ruang keluarga maupun publik. Sayang sekali, jarang diungkap konteks sosial di balik turunnya ayat-ayat tersebut sehingga jilbab seolah-olah menjadi substansi ajaran agama, simbol kesalehan, dan ketaatan seseorang terhadap otoritas agama.

Sementara bagi saya, jilbab bukanlah sebuah kewajiban bagi muslimah, tetapi hanya ekpresi budaya Arab. Karena jilbab sebenarnya masuk pada arena kontestasi —sebuah permainan makna dan tafsir. Relasi-kuasa bermain dan saling tarik antara kalangan agamawan normatif dan liberal; antara atas nama kepentingan norma (tabu, aurat, kesucian, dan privasi) dan atas nama kebebasan perempuan (ruang gerak, persamaan, dan sebagainya). Oleh karena itu, saya melepaskan jilbab yang telah menempel di kepala saya sejak kecil itu dengan penuh kesadaran.

Apa yang terjadi saat pertama saya melepas jilbab saya itu, bahkan sampai saat ini? Tidak sedikit teman-teman di sekeliling— masyarakat kampung, rekan di pesantren, maupun sesama organisasi mahasiswa di Muhammadiyah—sinis melihat keputusan saya itu, dengan melontarkan aneka tuduhan, bahwa saya liberal, imannya lemah, agamanya kurang, dan terpengaruh gaya hidup hedonis metropolitan. Apalagi ketika saya menjadi single parent, pandangan sinis itu makin menjadi-jadi.

Keluarga—bapak dan ibu—pun sudah bisa ditebak reaksinya melihat keputusan saya yang “berani” ini. Mereka merasa telah dipermalukan anak perempuannya. Tak henti-hentinya bapak menasehati dengan nada keras dan beradu argumentasi yang akhrinya membuat bapak bertambah-tambah murkanya ketika saya tetap pada pendirian bahwa jilbab bukan kewajiban dalam Islam melainkan hanya budaya Arab, dan saya lebih menjadi diri saya dengan tidak mengenakan secarik kain itu .

Mendengar jawaban saya yang demikian itu, pada suatu hari, bapak menyambar setrika dan melemparkannya ke kepala saya. Bapak pun mendiamkan sayabeberapa bulan. Bahkan ibu saya pun ikut tertekan memikirkan pola anak perempuannya, yang dianggap telah keluar dari jalur syariat Islam. Pelepasan jilbab itu merupakan awal pemberontakan pertama terhadap bapak-ibu dari ketentuan teks-teks agama itu, sebelum rentetan “pemberontakan” lain yang saya lakukan.

Pendidikan pesantren dan Univesritas Islam Negeri (UIN) yang dipilihkan bapak telah mengajarkan kemandirian dan membuka wawasan keislaman saya di satu sisi, namun di sisi lain membuat saya dan bapak berada dalam arus yang berseberangan.

Saya tahu konsekuensi dari semua pilihan yang telah saya buat. Dan saya memundakinya semampu yang saya bisa lakukan. Dan saat ini, melewati perjuangan yang meletihkan, saya bisa membuktikan bahwa saya nyaman dengan jalan pilihan saya dengan tak memakai atribut keagamaan apa pun di tubuh saya.

Mungkin cara yang saya ambil ini telah menyakiti bapak dan ibu saya. Namun dari lubuk hati saya yang terdalam, saya tetap mencinta mereka dengan cara saya sendiri. Karena bagi saya, puncak cinta adalah pemberontakan, sebagai sebuah proses pembebasan diri saya, dari kepalsuan menuju diri yang hakiki,untuk jalan penemuan hakikat diri saya. Karena itu, pemberontakan kerap dibutuhkan ketika kita dalam situasi dan kondisi yang terkungkung meski harus dibayar oleh barisan gunjingan. Namun, saya percaya jika kita sudah menemukan diri, menjadi diri sendiri dan berkuasa atas jiwa dan tubuh sendiri adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira di dunia ini.

(4)

Mengenali Keberagaman Nusantaraaneka budaya2

Pencarian pada makna keberagamaan dan menghikmati kehidupan di jalan literasi itu kemudian membawa saya berkeliling ke beberapa daerah di Nusantara. Lebih dari setengah dekade sejak 2009 saya bolak-balik Jakarta-Raja Ampat (Papua). Selain untuk kebutuhan menulis biografi founding father kabupaten dengan eksotisme laut yang mendunia itu, saya turut menelisik bagaimana kehidupan keagamaan yang bersifat plural terbentuk. Mereka hidup berdampingan secara harmonis. Mereka saling membantu pada saat perayaan-perayaan agama (Islam dan Katolik atau Kristen) dan pesta adat. Sehingga dalam pandangan saya, masyarakat Raja Ampat lebih terbuka dan toleran dengan agama lain. Saya kerap mengikuti acara-acara yang dimulai dan diakhiri dengan doa dua agama—Islam dan Katolik/Protestan—bersama-sama.
Pada 2011 saya diberkahi untuk mendalami kebudayaan di Halmahera Barat, Maluku, lewat perahu penulisan biografi pemimpin pertama kabupaten yang pernah terpapar ledakan kerusuhan agama pada 1999 ini. Saya masih menyaksikan reruntuhan rumah yang hangus terbakar; merasakan sorot-sorot mata curiga ketika melihat orang baru memasuki daerah mereka. Ketika saya bertanya kepada sebagian masyarakat tentang sebab-musabab terjadi katasrofa sosial itu, umumnya mereka tidak tahu akar penyebab yang pasti. Tiba-tiba saja kerusuhan itu terjadi secara massal. Sebagian besar masyarakat Maluku Utara menganggap kerusuhan itu hanyalah permainan politik belaka.

 

Dan, Halmahera Barat, daerah yang saya datangi itu, menjadi kawasan yang paling cepat dalam memulihkan konflik antar pemeluk agama itu. Pilihan Halmahera Barat pada festival budaya (Festival Teluk Jailolo) untuk memulihkan luka itu, saya lihat menjadi jalan damai efektif mengembalikan keretakan akibat dendam menjadi solidaritas yang bersandar pada kebersamaan (gotong royong). Sehingga masyarakat Halmahera Barat kembali mengikat kesatuan etnis mereka melintasi batas-batas agama.

 

Dari Maluku Utara, saya berjalan ke Kalimantan Tengah pada 2013 untuk tugas penulisan biografi pemimpin pertama Murung Raya. Di kabupaten yang berada di jantung Borneo ini saya menyelami tanah dayak yang dipenuhi emas, batu bara, minyak, serta ditumbuhi miliaran pohon dari segala keluarga dan dihiasi pegunungan serta dialiri seribu satu sungai. Di daerah ini, saya bisa berinteraksi dengan menemukan masyarakat dayak yang mempertahankan agama leluhurnya, “Kaharingan”. Agama ini memiliki aturan dan tata tertib sendiri dalam menjalankan kehidupanya sebagai manusia, dengan menggelar ragam upacara, seperti Tiwah—upacara kematian—dan Balian—upacara pengobatan—dan lainnya.

Meski saat ini mayoritas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah telah berpindah agama ke Islam dan Kristen (50: 50%), namun mereka—baik itu dayak Muslim atau Kristen—masih mengakui dirinya sebagai orang dayak, yang mengikuti upacara Tiwah (upacara pemakaman Kaharingan) di mana dalam penyembelihan kurban dilakukan Muslim, sehingga saudara-saudara Muslim lain dapat ikut bersama upacara Tiwah. Bahkan dalam satu keluarga menganut banyak agama.

Kesadaran keberagaman itu tercermin dalam “Huma Betang”, rumah adat masyarakat Kalimantan Tengah, yang dibangun berukuran besar dan panjang mencapai 30-150 meter, lebarnya antara 10-30 meter, bertiang tinggi antara 3-4 meter, yang dihuni puluhan jiwa dengan kepercayaan yang berbeda-beda. Mereka hidup rukun dan saling gotong-royong. Semangat dalam perbedaan (togetherness in diversity) telah membentuk dalam diri masyarakat adat Dayak hingga saat ini.

 

Pada 2014, dari Kalimantan saya bergerak ke Sulawesi, khususnya di Wakotobi di Sulawesi Tenggara, Mamuju Barat di Sulawesi Barat, dan Palu di Sulawesi Tengah. Di Wakatobi, Sulawesi bagian Tenggara saya ditakjubkan oleh pembangunan wisata laut berkobar-kobar. Sementara di bagian baratnya, terutama Mamuju Barat, saya dikagetkan pemandangan di sebuah kampung terpencil di mana saya seperti masuk dalam kosmos film “Osama”; film Afganistan yang disutradai Siddiq Barmak. Saya tak bisa mengenali wajah-wajah sebagian dari mereka. Sebab kebanyakan perempuan dan anak anak yang berusia 9-10 tahun sudah menutup seluruh tubuhnya dengan rapat. Rapat sekali. Yang tersisa hanya matanya saja.

Perjumpaan demi perjumpaan itu; dari Papua, Maluku, Kalimantan, hingga Sulawesi mengantar pemahaman saya bahwa Islam Indonesia adalah Islam yang memiliki sistem integrasi sosial dan strategi harmoni yang berangkat dari kultur autentik Nusantara (Local Wisdom). Namun, saya juga, tidak menutup mata, melihat ada gerakan dari kelompok Islam yang radikal, antara lain Ikhwanul Muslimin, Salafi, Hizbut Tahrir, dan FPI yang sebenarnya bukan hanya membuat khawatir non Muslim, tapi juga mayoritas umat Islam Indonesia karena cara-caranya yang menebar kultur kekerasan. Mereka umumnya adalah kelompok minoritas yang lahir bukan dari kultur masyarakat Indonesia, melainkan dari Timur Tengah. Oleh karena itu, bagi saya, Islam di Indonesia adalah Islam yang masih terus bertarung—berkontestasi—antara wacana literal dan kontekstual; antara eksklusif dan inklusif; antara pengekangan dan pembebasan.##

IMG_1304 crop (800x390)

Aku bersama para penari Cakalele di Festival Teluk Jailolo 2011

62 Comments

  1. kekagumanku padamu, perempuan perkasa, semakin bertambah. Aku ingin melihat lebih banyak Ayu-Ayu lain di Nusantara, dan tulisanmu ini adalah satu cara membuka mata. Aku yakin Michel dan Mahesa akan tumbuh menjadi anak2 yg terbuka mata hati dan pikirannya, dan mengakui bahwa perempuan adalah separuh dari keseluruhan kemanusian.

    love you, my soul-sister

  2. pengen liat foto mbak ayu pas make hijab 🙂

  3. maria andriana says: - reply

    Ayu tulisannya bagus dan mengalir mengungkapkan jati diri Ayu. Bagian awal dan tengah lebih enak sedang bagian akhir seperti tergesa gesa… Kurang puas nih
    Semoga sukses dalam presentasi di Adelaide nanti.
    Salam

  4. Rahayu alias ayu arman, tulisanmu bagus banget.

  5. Raya says: - reply

    you can swim in the deepest ocean and climb the high peak…jos gandosss

  6. Erika says: - reply

    Tulisannya sangat menginspirasi terutama buat saya yg mulai beranjak dewasa dan sedang mencari tahu agama mana yg paling “pas” untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Pengetahuan agama saya jelaslah masih minim, hingga memiliki persepsi bahwa semua agama sama saja. Tapi belakangan ini saya mulai tersentuh ajaran Islam, sampai ingin mengenakan hijab. Jika Kak Ayu berkenan dan ada waktu luang, bolehkah kita diskusi mengenai ini?

  7. RomanHinesr says: - reply

    I see your blog needs some fresh content, i know writing takes
    a lot of time, but there is solution for this hard task, simply type in google:
    Mamjo’s article tool

  8. Johna963 says: - reply

    Howdy! Would you mind if I share your blog with my twitter group? Theres lots of people that I believe would really enjoy your content. Please let me know. Thanks kecfdacefkdd

  9. Smithf885 says: - reply

    This kind of game gives a real experience of building a badadakgcekbcbfk

  10. A Haris Mokoginta says: - reply

    Bagus sekali tulisannya mbak Ayu … Tapi sayang … 🙁

  11. rudi says: - reply

    terima kasih atas kesediaan berbagi kisah hidup. Memberi saya inspirasi tentang pilihan saya dan istri untuk mengirim putri tercinta ke pesantren putri Gontor setelah lulus SD tahun lalu. Semoga dia juga mendapat kesempatan menjalani proses dengan bebas dan mandiri seperti Anda. Kami hanya memfasilitasi, dia yang menjalani. Semoga dia menemukan “kebenaran” dan mempunyai keberanian dan ketabahan menjalani “kebenaran” yang dia yakini seperti Mbak

  12. Liza says: - reply

    Pingin sekali kenalan dengan mba Ayu, sy bookmarked artikel ini sdh brp lama dan hari ini sy baca kembali dan tetap bagus. Menguatkan sy ttg pendpt bahwa berkerudung memang budaya arab. Apa mba Ayu akan menulis lbh dlm ttg perempuan dr sudut pandang islam? Looking forward to more of your articel n books. Salam..liza

    • admin says: - reply

      Salam kenal Mbak Liza. Senang jika tulisan saya bisa dibaca oleh Mbak. Tema perempuan menjadi salah satu kajian saya dulu dari sudut Islam. tetapi sekarang sedang asyik menulis buku biografi dan tourisme Mbak. Tapi kalau mau ngobrol soal perempuan dari sudut pandang Islam, boleh kok. Maaf ya baru balas. Salam hormat saya.

  13. Teresa says: - reply

    I was just looking at your Being a Muslim Woman in Contemporary Indonesia (Aku, Islam, dan Keberagaman) : Ayu Arman site and see that your site has the potential to get a lot of visitors. I just want to tell you, In case you didn’t already know… There is a website network which already has more than 16 million users, and the majority of the users are looking for websites like yours. By getting your website on this network you have a chance to get your site more visitors than you can imagine. It is free to sign up and you can read more about it here: http://hothor.se/1gj55 – Now, let me ask you… Do you need your site to be successful to maintain your business? Do you need targeted visitors who are interested in the services and products you offer? Are looking for exposure, to increase sales, and to quickly develop awareness for your website? If your answer is YES, you can achieve these things only if you get your site on the service I am describing. This traffic network advertises you to thousands, while also giving you a chance to test the service before paying anything at all. All the popular sites are using this network to boost their traffic and ad revenue! Why aren’t you? And what is better than traffic? It’s recurring traffic! That’s how running a successful website works… Here’s to your success! Find out more here: http://hothor.se/1gj55

  14. Rebekah89 says: - reply

    I see many interesting posts here. Your site can go viral easily, you need some initial traffic only.
    How to get initial traffic?? Search for: masitsu’s tricks

  15. Joselyn says: - reply

    I was just looking at your Being a Muslim Woman in Contemporary Indonesia (Aku, Islam, dan Keberagaman) : Ayu Arman website and see that your website has the potential to get a lot of visitors. I just want to tell you, In case you don’t already know… There is a website network which already has more than 16 million users, and the majority of the users are interested in topics like yours. By getting your website on this service you have a chance to get your site more popular than you can imagine. It is free to sign up and you can find out more about it here: http://aici.cf/a – Now, let me ask you… Do you need your site to be successful to maintain your way of life? Do you need targeted visitors who are interested in the services and products you offer? Are looking for exposure, to increase sales, and to quickly develop awareness for your website? If your answer is YES, you can achieve these things only if you get your website on the service I am describing. This traffic network advertises you to thousands, while also giving you a chance to test the service before paying anything at all. All the popular sites are using this network to boost their readership and ad revenue! Why aren’t you? And what is better than traffic? It’s recurring traffic! That’s how running a successful site works… Here’s to your success! Read more here: http://www.dreamingson.com/r/us – Unsubscribe here: http://macanasmagazine.com/yourls/lbvi

  16. Silvan says: - reply

    Tulisan Ayu sangat bagus. kisah dan gaya bahasanya sangat menyentuh.

  17. Precious says: - reply

    This artcile is a home run, pure and simple!

  18. Oksanaber says: - reply

    dieta dna moczanowa podagry http://seeknet.pl/ kwasica cukrzycowa moczanowa dna

  19. Elisa Brown says: - reply

    I came across your Being a Muslim Woman in Contemporary Indonesia (Aku, Islam, dan Keberagaman) : Ayu Arman website and wanted to let you know that we have decided to open our POWERFUL and PRIVATE website traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our targeted traffic network with a free trial as we make this offer available again. If you need targeted traffic that is interested in your subject matter or products start your free trial today: http://priscilarodrigues.com.br/url/v

  20. I’m really enjoying the design and layout of your blog.
    It’s a very easy on the eyes which makes it much more enjoyable for me to come here and visit more often.
    Did you hire out a developer to create your theme?

    Excellent work!

  21. 79Natalie says: - reply

    I must say you have hi quality articles here.
    Your blog should go viral. You need initial boost only.
    How to get it? Search for: Miftolo’s tools go viral

  22. a! says: - reply

    pengalaman keagamaan kita sangat mirip, mbak. mungkin karena sama2 berakar di lamongan dan muhammadiyah namun kemudian berinteraksi pula dg keberagaman begitu kita keluar cangkang.

    terima kasih telah menuliskannya. koyoe enak nek mudik taun depan kita rasan2 bareng mas muchlis, faiq, dan konco2 lamongan liane sing peduli juga soal keberagaman dan pembebasan dalam beragama.

  23. Johnk292 says: - reply

    Good web site! I really love how it is easy on my eyes and the data are well written. I am wondering how I might be notified whenever a new post has been made. I’ve subscribed to your RSS which must do the trick! Have a great day! adacadefgedg

  24. Johng834 says: - reply

    Today, while I was at work, my sister stole my apple ipad and tested to see if it can survive a 30 foot drop, just so she can be a youtube sensation. My apple ipad is now destroyed and she has 83 views. I know this is entirely off topic but I had to share it with someone! kgcdeecgebcd

  25. Smithk617 says: - reply

    I really appreciate this post. I’ve been looking all over for this! Thank goodness I found it on Bing. You’ve made my day! Thanks again! egcedaeaakdeckbd

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *