BORNEO; Bermula dari Sungai

 

525674_4325905098555_28046042_nPada mulanya adalah sungai. Besar dan memanjang.Berkelok  dan bercabang.

Menjadi peta penunjuk jalan bagi kehidupan anak manusia untuk membuka dan menembus dunia luar.

 

Sungai-sungai itu menyebar di seluruh penjuru pulau. Berkelok-kelok tak ubahnya seekor naga yang meliuk-liuk dan membelah daratan.

 

Dari ketinggian Gunung Muller, air mengalir membentuk empat anak sungai seperti sebuah pohon silsilah keluarga. Anak pertama ke arah barat disebut Kapuas, anak kedua ke arah timur disebut Mahakam, anak ketiga dan keempat ke arah tengah dan selatan disebut Barito. Kapuas dan Mahakam memilih bermuara ke Selat Karimata, sementara Barito mengambil jalur lain ke Laut Jawa. Masing-masing sesuai urutannya tercatat sebagai sungai terpanjang di Republik ini, 1.143 KM, 980 KM, dan 900 KM.

 

Anak ketiga dan keempat yang melebur dalam Barito melahirkan anak-anak sungai yang lain, seperti sungai Tewe, Murung, Lahei, Kumai, Arut, Lamandu, Jelai, Martapura, Negara dan Kahayan dengan anak-anak sungainya.

 

Sungai Martapura dan Negara menjadi penghubungkan daerah-daerah di pedalaman. Maka tak ayal jika mereka dianugerahi anak. Martapura melahirkan Sungai Alalak, Sungai Riam Kiwa (Kiri), dan Sungai Riam (Kanan). Dan Nagara melahirkan Sungai Amandit, Tapin (Margasari), Berabai, Balangan, Batang Alai, Tabalong, dan Tabalong Kiwa (Kiri).

 

Mereka pun beranak. Dari rahim Sungai Amandit mengalir Sungai Bangkan dan Kalumpang. Sungai Tapin mengalirkan air ke Sungai Muning, Tatakan, Halat, dan Gadung. Sungai Kahayan yang memanjang 250 KM membelah kota Palangka Raya memiliki puluhan anak sungai, membentang dari hulu Gunung Mas dan bermuara di Laut Jawa.

 

Kelahiran anak-anak sungai itu mengemban misi masing-masing dalam menghidupi alam yang dikepungnya. Sebab itulah, penduduk asli yang mendiami pulau itu menganugerahi mereka sebuah nama KALIMANTAN. “Kali” berarti sungai dan “Mantan” berarti besar. Pulau yang memiliki sungai yang besar dan panjang. Selebihnya, pulau itu dipenuhi belantara hutan rimba, tempat roh para dewa-dewi kayangan.

Sekitar empat dekade lalu, orang-orang Eropa merapatkan kapal-kapal besar mereka ke pulau itu. Lidah mereka berdecak kagum menyaksikan kekayaan dan keindahan ada. Mereka menyebutnya, “Borneo, Negeri Seribu Satu Sungai”.

 

Pulau itu luasnya mencapai 550.000 kilometer persegi, 5 kali Pulau Jawa. Terbesar ketiga di dunia setelah LandGreen—Kanada dan Papua. Tanahnya dipenuhi emas, intan permata, batu bara, minyak serta ditumbuhi miliaran pohon dari segala arah, dihiasi pegununungan serta dialiri seribu satu sungai.

 

Sungai adalah sebuah cerita. Ia membabar kisah awal peradaban manusia. Sungai Gangga melahirkan peradaban India (Maha Bharata). Sungai Nil melahirkan peradaban Mesir di Afrika. Sungai Eufrat dan Tigris melahirkan peradaban Mesopotamia di Jazirah Arab. Dan sungai-sungai yang membentang di penjuru Pulau Kalimantan itu, telah melahirkan peradaban bagi kehidupan suku-suku bangsa yang mendiami hulunya Nusantara. Republik ini.

 

Dayak. Begitulah mereka menyebut identitas penduduk asli yang menghuni pulau raksasa Kalimantan. Dayak berarti orang gunung.[1] Disebut begitu karena umumnya mereka dahulu hidup berpencar, di hulu-hulu sungai, di gunung-gunung, di bukit-bukit, dan di tengah belantara hutan. Jauh dari hiruk pikuk keramaian manusia. Mereka hanya berteman dengan kesunyian dan riuhnya suara rimba.

 

Hidup selalu bergantung pada air, maka sungai-sungai itu menjadi mata dan telingga mereka; menjadi jendela dan pintu mereka. Di sanalah mereka saling bertemu, bersapa, mengenal dan berbagi cinta. Kemudian sungai-sungai itu menjelma menjadi identitas diri, dengan menyebut tempat asal mereka, dengan memakai daerah aliran sungai di mana mereka bertempat tinggal.

 

Lalu lahirlah subsuku dalam masyarakat Dayak. Oloh[2] Barito adalah mereka yang berasal dari sungai Barito. Oloh Kapuas, oloh Kahayan, oloh katingan dan seterusnya. Terdapat 405 Suku Dayak yang menyebar di seluruh pulau Kalimantan, dengan bahasa yang berbeda-beda.

 

Meski berbeda bahasa dan menyebar di penjuru pedalaman yang berjauhan, mereka memiliki ikatan batin yang kuat dan kepercayaan yang sama. Mereka meyakini bahwa nenek moyang mereka diturunkan dari langit ketujuh dengan Palangka Bulau[3] oleh Ranying Hatalla Langit di empat tempat, yaitu di Tantan Puruk Pamatuan yang terletak di hulu sungai Kahayan dan Barito; di Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting yang terletak di sekitar Gunung Raya; di Datah Tangkasiang, di hulu sungai Malahui yang terletak di daerah Kalimantan Barat; dan di Puruk Kambang Tanah Siang yang terletak dihulu Barito.

 

Jauh sebelum Soekarno memekikkan Kemerdekaan pada tahun 1945, peradaban masyarakat Dayak sudah ada, ditandai dengan munculnya Sarikat Dayak pada tahun 1926. Organisasi pertama yang menyepakati peniadaan asang kayau[4], menghapuskan budak, memberlakukan hukum adat serta membangun spirit persatuan untuk melawan penjajahan Belanda, yang saat itu kembali menguasai pehuluan sungai Barito, Kapuas, Mahakam dan Kahayan.

 

Bahkan pada tahun 1905, masyarakat Dayak sudah menggalang solidaritas bersama untuk melakukan perlawanan secara frontol kepada penjajah. Perlawanan itu berakhir setelah Sultan Mohamad Seman, putra Pangeran Antasari Kerajaan Banjar terbunuh di Sungai Menawing. Ia dimakamkan di Puruk Cahu, sebuah perkampungan yang terletak di hulu Sungai Barito. Di jaman kolonial Belanda tempat itu dipilih sebagai District Barito Hulu, benteng pertahanan untuk menangkal serangan dari pribumi atau asing.

 

Ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1963, Puruk Cahu dipilih TNI sebagai salah satu tempat latihan persiapan pasukan untuk mengganyang Malaysia. Dan di dusut yang lain, Puruk Cahu dipilih sebagai tempat kelahiran seorang lelaki. Melalui perkawinan aliran Sungai Kahayan dan Barito; dari lelaki Bawan bernama Midel Yosep dan perempuan Tanah Siang bernama Liana Lawing Silam, lelaki itu terlahir ke dunia.***

Kisah ini di ambil dari Prolog buku  saya : ” MEMERDEKAKAN MURUNG RAYA UNTUK INDONESIA; Sebua Biografi Dr. Ir. Willy M Yoseph.


[1] Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari Bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. Ada juga yang mengartikan Dayak adalah orang gunung.
Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah Sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah Sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil. Sejak itu istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya, khususnya nonmuslim atau nonmelayu. Pada akhir abad ke-19 (setelah Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.
Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.
[2]  Oloh dalam Bahasa Dayak berarti orang
[3]  Bulau dalam Bahasa Dayak berarti emas permata
[4] Kayau adalah Kebiasaan maysrakat Dayak memenggal kepala musuh.

0 Comments

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *