“Cry Jailolo” Indonesia Menari

 

kolase36 (640x489)

Tujuh pasang kaki itu terus bergerak seluas ruang, sepanjang pergelaran. Gerak mirip orang berjinjit itu membentuk posisi diam, tapi terus bergerak. Mirip diamnya sekelompok ikan merah yang umumnya tinggal di terumbu karang, namun ekornya terus bergerak, sayapnya terus berkibasan. Gerak itu tak menimbulkan riak; seperti tak sedang menahan beban tubuh yang menggayuti.

Dalam ruang-tanpa-apa yang gelap dan hanya diterangi cahaya mirip sepotong bulan rendah di laut teduh subuh hari, kaki-kaki itu menghentakkan lantai yang menimbulkan suara lembut yang diikuti musik-latar ritmis yang menggambarkan suara sepi dunia bawah laut Jailolo.

“Cry Jailolo” adalah sebuah narasi yang berkisah lewat perantaraan tubuh. Narasi tentang kerusakan biota bawah laut di perairan dangkal yang ditumbuhi karang-karang. Ruang tanpa apa-apa adalah pesan kuat tentang rumah-karang yang tiada; dan tujuh penari bercelana merah yang terus bergerak adalah sekelompok ikan yang sedang mencari ke sana-kemari rumahnya yang hancur. Kadang mereka diam dengan kaki (ekor) yang terus berkibasan; kadang mereka merentangkan tangan serupa ikan terbang untuk melihat dunia dari atas air. Mungkin berdoa. Atau bisa pula mengadu aduh kepada burung Bidadari yang juga kian langka. Kadang pula tubuh-tubuh itu, setelah tahu tiada lagi yang tersisa, TIADA LAGI YANG TERSISA, bergerak berderak-derak seperti sedang mengekspresikan kemarahan dalam dunia bawah laut yang gelap

Terumbu karang adalah rumah bagi ikan-ikan dan Eko Supriyanto mempresentasikannya dalam narasi-gerak bernama “Cry Jailolo”. Ide penciptaan Cry Jailolo lahir ketika laki-laki kelahiran Astambul, Kalimantan Selatan, 26 November 1970 ini menyelam ke dunia bawah laut Jailolo. Ia kaget dengan panorama bawah laut, terutama terumbu karang yang rusak akibat pemboman. Meski begitu, ia masih dengan mudah menemukan keindahan kesultanan laut Jailolo. Saat dalam air yang sunyi itulah melintas di benak Eko gagasan schooling fish. Dipadu dengan tarian Legu Selai dan Soya-soya khas Halmahera Barat lahirlah koreografi “Cry Jailolo” dengan dipadu komposisi musik-ritmis yang disusun Setyawan Jayantoro.

Dipentaskan pertama kali pada Festival Teluk Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Mei 2014 dengan melibatkan penari-penari muda berbakat alam setempat. Ketujuh penari ini – Veyndi Dangsa, Gretsia Yobel Yunga, Gerry Geraldo Bela, Fernandito Wangelaha, Geri Krisdianto, Noveldi Bontenan, dan Budiawan Saputra Riring – dipilih dari 150 remaja yang setahun sebelumnya di festival yang sama memainkan drama musikal kolosal “Sasadu On the Sea”.

Sebagai koreografer yang sejak kecil dididik kakeknya di sanggar tari, Eko Supriyanto cepat mengenali tubuh-tubuh yang memiliki potensi tari meski bukan berasal dari sekolah tari. Apalagi untuk memainkan gerak dinamis tarian Halmahera Barat yang memerlukan, tidak saja kejeniusan, melainkan daya tahan tubuh yang berlimpah.

“Penari mesti memiliki gerakan-gerakan tubuh yang cerdas. Tanpa dibaluti properti, kekuatan penari berada pada gerak tubuh mereka sendiri,” kata dramaturgi Arco Renz dari Belgia yang turut terlibat dalam pementasan “Cry Jailolo”.

Eko Supriyanto adalah penari dan koreografer yang cerdas. Seperti kata Arco Renz, ketiadaan properti menjadikan gerak tubuh-tubuh penari sebagai fokus dan inti perhatian. Kepada ketujuh tubuh dengan bakal alam itulah Eko Supriyanto meniupkan narasi dan pesan.

“Cry Jailolo” adalah pesan Halmahera Barat kepada dunia. Kosagerak yang ditimba Eko Supriyanto dari tari tradisi khas Jailolo (Legu Salai dan Soya-soya) itu melesat dari tepian air Maluku Utara menjadi duta biota laut.

Mula-mula ikut pada Aswara International Dance Festival yang diinisiasi sahabat Eko asal Malaysia, Joseph Gonzales. Gonzales yang bertekad menghidupkan lagi festival tari di Malaysia yang selama 18 tahun matisuri justru sekaligus menjadi panggung awal bagaimana “Cry Jailolo” menyapa dunia. Standing applause di akhir pertunjukan membuat Eko Supriyanto menggarap ulang “Cry Jailolo”; bukan saja menambah durasi waktu yang hanya 20 menit menjadi satu jam, tapi juga menambah gerak-gerak dinamis dan rampak.

Saat dipertunjukkan di Indonesia Dance Festival, karya Eko ini menuai pujian; termasuk dari Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya. Sardono W Kusumo bahkan menganggap “Cry Jailolo” menjadi tonggak kesenimanan Eko Supriyanto sebagai seorang penari. Karya ini melebihi karya-karya sebelumnya. Bukan saja hasil akhir, melainkan proses penggalian ide, penciptaan bentuk, pencarian penari, dan usahanya menghidupkan tarian tradisi di sebuah tempat yang teramat jauh dari pusat dan membawanya menjadi perhatian dunia.

“Cry Jailolo” menyapa Australia, Jepang, New Zealand, beberapa negara Eropa, dan New York serta Washington DC di Amerika Serikat. “Cry Jailolo” juga mendapat kesempatan mewakili Indonesia di acara Frankfurt Book Fair 2014 di Jerman dan di beberapa panggung teater di Eropa seperti Belgia dan Swiss.

Salah satu cerita menarik datang dari Jepang saat Festival Tari Internasional digelar di negari sakura tersebut. Pada sesi speed meeting yang dihadiri perusahaan seni di seluruh dunia, para seniman yang memiliki karya baru dipersilahkan presentasi dalam durasi waktu tertentu. Jika ada perusahaan tertarik, karya seniman tersebut dibeli. Jika tidak tertarik, presentasi diganti seniman lainnya.

Eko awalnya mau ikut presentasi. Namun, produser melarang. Eko hanya diwajibkan untuk latihan persiapan pentas acara penutup festival. Bagi sang produser, karya Eko tak lagi untuk dipresentasikan, tetapi untuk dipertunjukkan kepada publik. Dan benar, seisi gedung pertunjukkan yang berkapasitas lima ribu penonton itu bergemuruh di ujung pementasan. Standing applause membahana untuk “Cry Jailolo”.

Sepanjang kalender tahun 2015, jadwal pertunjukan “Cry Jailolo” berderet. Di mulai dari Bali pada Maret, lalu kembali ke atas panggung apung Festival Teluk Jailolo tempat kelahiran tari ini pada Mei.

Untuk kalender internasional, di mulai dari Darwin Australia pada Agustus, disusul pentas di Humberg (Jerman), kemudian ke Zurich (Swiss), dan Groningen dan Roterdam (Belanda).

Di bulan September, “Cry Jailolo” tampil dalam Bird Festival Kobe (Jepang) dan Adelaide (Australia). Pada bulan Oktober, pementasan Cry Jailolo bisa disaksikan di Antwerpen (Belgia), Frankfurt dan Darmstadt (Jerman), dan berakhir di Esplanade (Singapura).

Dari muhibah “Cry Jailolo” di separuh bulatan bumi itu, kita menjadi tahu bahwa alam dan kreativitas adalah kekayaan kultural yang membawa pada kejayaan dan renaisans. Keduanya adalah berkah dan sekaligus metode bagaimana membagi pesan bahari secara universal.

Bermula dari gerak tubuh yang diciptakan para kamitua di Halmahera Barat yang kemudian ditafsir sedemikian rupa dalam bentuk koreografi kontemporer oleh ketujuh tubuh anak-anak Jailolo yang terus bergerak sepanjang pergelaran, Halmahera Barat menyapa dunia.

Jalan yang diambil Bupati Namto Hui Roba kini memperlihatkan hasil. Jalan kebudayaan yang dirintisnya lewat Festival Teluk Jailolo sejak 2009 merupakan jalan benar. Tidak saja jalan kebudayaan ini memulihkan luka akibat kerusakan sosial 1999-2000 di seantero Maluku, tapi juga menerbitkan kebanggaan bahwa Halmahera Barat bisa memberi sekuplet semangat terus bergerak untuk Indonesia Raya. Atas jasanya pada kesenian di daerah yang dipimpinnya itu, Bupati Namto Hui Roba menerima penghargaan dari pemerintah Australia di Darwin pada Agustus 2015.

Lewat kosagerak tari warisan tepian air Halmahera Barat, Indonesia menari.

 

2 Comments

  1. Salam kenal mbak Ayu, tulisan anda menginspirasi saya dalam menggali khasanah seni dan budaya Indonesia.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *