Ayu Arman | 2019-07-26 11:54

Ilustrasi gambar Oleh Yudi Irawan

Penduduk desa di sekitar Wawiyai digegerkan oleh tumbuh suburnya ratusan pepohonan sagu dan kelapa. Padahal, di seputar kali Wawiyai, meski sudah bertahun-tahun lamanya penduduk menggunakan kali itu sebagai sumber air minum dan mencari ikan, mereka belum pernah melihat kelapa dan sagu tumbuh selebat itu. Kelapa dan sagu-sagu itu menjadi peneduh raksasa perbukitan kampung.

Bentang kali Wawiyai memanjang dengan sisi kanan dan kirinya dibentengi tebing-tebing yang menjorok ke dalam, membentuk gua-gua kecil.

Airnya jernih. Saking jernihnya, ikan-ikan yang berenang terlihat jelas dari permukaan. Suara airnya terdengar bergemeresik, mengalir di antara celah bebatuan yang menjulang. Di salah satu gua kecil itulah pasangan suami istri, Aliyab dan Bukidemi, membungkus telur batu dengan serat pohon.

“Ibu!”

Seorang anak berusia lebih kurang 8 tahun tiba-tiba muncul di hadapan Bukidemi dan memanggilnya dari dalam rumahnya. Bukidemi yang duduk seorang sendiri di bawah pintu depan rumahnya terkejut oleh kehadiran seorang anak yang tak ia ketahui kapan masuknya.

“Siapa kamu, Nak?” tanyanya pada anak yang hanya mengenakan cawat putih. Pada wajah, lengan, dan dadanya dihiasi guratan-guratan putih berhuruf aneh.Sekilas, wajah anak itu menyerupai keenam anak-anaknya yang mulai tumbuh remaja.

“Aku anakmu, Bu,” ucap bocah lelaki itu. Mendengar ucapan itu, Bukidemi mengayunkan langkahnya, mendekati anak lelaki yang berdiri tak jauh darinya.

“Siapa namamu?” tanya Bukidemi pelan.

“Aku, Pakatna,” jawab sang anak.

“Aku telur yang membatu itu, Ibu.”

Bukidemi terperangah oleh pengakuan dari bocah lelaki itu. Namun, Bukidemi segera menenangkan dirinya.

“Kemarilah,” ucap Bukidemi.

Sang bocah bergeming. Ia tetap berdiri tegak, meski Bukidemi memanggilnya. Dengan wajah tenang, Bukidemi menghampiri dan meraih tubuh bocah lelaki itu dengan kedua tangannya ke dalam pelukan dadanya.

“Nak,” bisik Bukidemi pelan. Ajaib, tangan Bukidemi tidak memeluk siapa-siapa. Bocah itu masih berdiri tegak di jarak lima langkah dari keberadaannya.

Bukidemi melihat ke belakang. Ia menyakinkan dirinya sendiri bahwa ia telah bergerak maju ke depan, meraih tubuh anak itu. Ia melihat kedua kakinya sudah berdiri tepat di mana anak lelaki itu pertama kali berdiri. Bukidemi baru sadar bahwa bocah itu tidak bisa tersentuh olehnya.

“Siapa sesungguh kamu?” Bukidemi panasaran oleh bocah di hadapannya itu. Pikiran Bukidemi dipenuhi rentetan pertanyaan.

“Dari mana asalmu?”

“Aku adalah Pakatna,” sang bocah itu mengulang, menyebut namanya kembali. “Aku berasal dari telur yang membatu yang ibu letakkan di tebing gua.”

“Benarkah?”

Bocah lelaki itu mengangguk.

“Aku sengaja tak ingin lahir ke dunia manusia seperti keenam saudaraku. Aku memilih lahir di alam roh.”

“Di mana tempat itu?”

“Rumahku tak mengenal batas-batas seperti di alam duniawi keenam sadaraku. Rumahku di alam roh, berbaur dengan yang belum lahir, dewa-dewi, peri-peri, dan makhluk-makhluk lain yang tak terlihat oleh dunia ibu. Namun, kami bisa mengambil beragam wujud bentuk ketika menunjukkan diri pada kehidupan dunia seperti di hadapan ibu kali ini.

Hari ini saya datang kepada Ibu untuk memberitahu bahwa keberadaan saya di alam roh, yang memiliki hubungan erat dengan keenam anak-anak ibu, yang suatu saat akan menjadi raja-raja di kepulauan ini.”

Bukidemi terkesiap. Ia belum percaya atas apa yang dilihat dan didengarnya.

“Saya datang kepada ibu untuk memberi tahu bahwa saya adalah salah satu penjaga alam kepulauan ini dari tangan-tangan manusia jahat dan serakah. Kepulauan ini adalah taman surga bagi semua makhluk alam nyata dan alam gaib yang menghuninya.

“Meski rumah kami tak mengenal batas-batas, tetapi keberadaan kami ada dalam satu semesta dengan manusia. Kami bersemayam pada hutan-hutan, pada gunung-gunung, pada samudra, dan pada langit-langit.

“Saya adalah salah satu makhluk gaib yang mengemban tugas yang kekal; menebar kebaikan melalui perilaku dan tutur kata untuk kedamaian dan kelestarian bumi kepulauan ini.

“Siapa pun manusia yang merusak laut, hutan, gunung, dan seisi alam kepulauan ini, saya tidak akan berdiam diri. Saya akan memberi pelajaran kepada manusia-manusia yang bodoh yang merusak alam bumi ini. Bencana alam dan wabah penyakit adalah satu dari bentuk kemarahan dari kami, para makhluk gaib pada manusia.

“Bila suatu saat keenam saudaraku dan seluruh keturunannya menjadi raja di sini, saya siap membantu dan melindunginya dari segala kekuatan energi jahat. Tetapi dengan satu syarat.”

“Syarat?” tanya Bukidemi lirih. “Iya. Sebuah syarat yang menjadi perjanjian antara manusia dan makhluk kami.”

“Apa itu syaratnya?”

“Siapa pun manusia yang kuat hatinya untuk menjaga kebaikan, kedamaian, dan kelestarian seluruh makhluk hidup seluruh alam di kepulauan ini, saya akan membantu dan mewujudkan impiannya.

“Siapa pun raja yang akan memimpin daerah ini, mereka harus menjaga keberlangsungan alam yang kita tempati bersama ini. Dia harus menjadi raja yang baik hati dan bijaksana untuk semua golongan manusia dan untuk semua makhluk semesta, baik terlihat maupun tidak terlihat.”

Bukidemi menyimak ucapan bocah yang dari perawakannya, pastilah belum sepuluh tahun. Namun, ucapannya jauh melampaui ukuran tubuhnya. Pastilah, pikir Bukidemi, bocah di hadapannya yang memanggilnya “Ibu” ini bukan sembarang anak. “Lalu, bagaimana jika kami ingin menemuimu, Nak?”

“Datanglah ke tempat di mana Ibu meletakkan telur batu di sana. Itulah tempat penghubung antara dunia nyata Ibu dan dunia saya. Bacalah syair-syair mantra ini jika Ibu memanggil saya,” ucap sang bocah sembari mengulurkan selembar daun kering yang bertuliskan bahasa Maya ke tangan Bukidemi.

Bukidemi mengalihkan pandangannya pada daun kering, melihat aksara dalam daun, dan ketika pandangannya kembali ke tempat bocah itu berdiri, bocah itu tak ada lagi di hadapannya.

“Pakatna! Pakatna!” panggil Bukidemi sembari menengok kanan-kiri di segala sudut dan sekeliling rumah. Namun, bocah itu tak ia temukan lagi.

Beberapa menit kemudian, Bukidemi terbangun dari tidurnya. Bukidemi berbaring terlentang. Dia terbangun dari mimpi yang sangat nyata dengan melihat telapak tangannya masih menggenggam selembar daun bertuliskan mantra.

Bukidemi duduk. Ia mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal. Ada butiran keringat dingin menempel di dahinya. Ia bergegas membangunkan suaminya, Aliyab, yang tidur di sampingnya dan menceritakan semua mimpinya.

“Kita harus segera menengok telur batu itu. Pakatna pasti telah menunggu kita di sana.”

Esoknya, mereka mendayung perahu menuju kali yang tak berpenghuni. Ketika memasuki kali Wawiyai, pasangan suami istri ini melihat tempat ini telah jauh berubah dengan sepuluh tahun saat mereka meletakkan telur batu di salah satu gua tebing dipinggir kali.

Mereka melihat air kali terlihat begitu jernih. Batu berwarna-warni yang tampak jelas dari dalam air seperti dunia pelangi bagi ratusan ikan yang berenang ke sana kemari. Di sekitar kali itu pulatelah tumbuh lebat pepohonan sagu dan kelapa. Ketika perahu mereka memasuki kali bercabang yang tenang, Aliyab dan Bukidemi telah merasakan suasana tak biasa.

Bukidemi mencium aroma Pakatna persis seperti aroma yang tergambar dalam mimpinya. Sekelebat senyum wajah Pakatna tergambar pada tebing-tebing dan pantulan air yang teduh di bawahnya. Mereka merasakan Pakatna telah menyambut dengan sapaan angin dan air yang sejuk dan tenang.

Mereka kemudian turun di goa di mana telur batu mereka tempatkan. Telur batu itu masih tergeletak di atas bebatuan besar, sebagaimana awal diletakkan. Tak ada yang berubah, baik posisi mapupun bentuknya. Bukidemi menyentuh batu itu dengan penuh perasaan. Ia mengangkat batu telur dan memandikannya seperti ia memandikan keenam anaknya.

Di saat itulah Pakatna kembali menampakkan wujud dirinya kepada Aliyab dan Bukidemi, yang dianggapnya sebagai kedua orang tuanya. “Di sinilah kerajaan saya. Siapa pun manusia boleh datang ke sini, dengan niat baik, saya akan membukakan pintu kerajaan alam saya,” ucap Pakatna berpesan kepada pasangan itu.

Semenjak itulah Aliyab dan Bukidemi selalu menjenguk dan menjaga Wawiyai dengan sepenuh-penuh hati, baik kali maupun alam hutannya. Sebab, ini adalah rumah mereka juga. Rusak Wawiyai, rusak pula rumah raya mereka.*** (AA)