Raja Ampat Menyembuhkan Lukaku, Surat untuk Sang Kekasih.

Aku dan pulau Painemo oleh fotografer Opan Alteng R4.

“All journeys have secret destinations

of which the traveler is unaware.”

– Martin Buber

 

Kepada kekasihku, Daniel James Warman, aku ingin bercerita tentang sebuah perjalanan. Beberapa tahun terakhir ini, hidupku sepi. Hatiku beku. Segalanya tampak hambar. Kosong. Aku berjalan hanya mengikuti gerak alam kemana aku harus berjalan. Aku tak pernah memiliki planning yang ketat. Semua perjalananku datang tanpa ku duga sebelumnya. Langkah kaki ini seakan digerakkan oleh semesta untuk berjalan, dan berjalan. Dari satu pulau ke pulau untuk sebuah pekerjaan kepenulisan, dan itu merupakan sebuah anugerah besar dalam hidupku.

Aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak melakukan perjalanan dalam hidupku ini. Mungkin aku akan membusuk—mati—di kamarku yang sempit itu, akibat sayatan luka penghianatan dan pencampakan; rasa sepi yang berkepanjangan, dan tekanan suara tangisan rewel dua bocah yang harus aku tanggung akibat perceraian.

 

Diusaku yang ke-30 tahun, aku harus menelan pil pahit dari sesuatu yang aku agungkan dan aku perjuangkan selama ini, yaitu cinta. Cinta bagiku seperti narkotika. Mula-mula mendatangkan euphoria kesenangan dan kebahagiaan. Saling berbagi perhatian, saling memuja-memuji, saling ingin terus bersama dalam penyatuan, dan itu adalah energy, entah bagaimana, bisa membentuk jiwa kita merasa utuh, dan nyaman. Dan pelan-pelan kita mencandunya, merinduinya.

Namun, disitulah sebenarnya bahaya mulai datang! Ketika kita mulai merasa dekat dan memberikan penyerahan total pada sang kekasih, pelan-pelan, jiwa kita dalam gengaman orang lain. Pelan-pelan kesimbangan diri kita goyah. Karena kita mulai tergantung pada sesuatu diluar diri kita. Bila satu hari saja tidak bertemu,tidak menerima pesan, atau sapaan manis dari sang kekasih, jiwa kita kan meradang dan tubuh melemes.

Aku merasakan itu semua. Setelah dihujani ratusan puisi-puisi cinta, dipuja bak bintang di atas langit sana, hingga membuat jiwa ini mambuk cinta—menyerahkan jiwa dan raga ini tanpa batas—hingga tak ada lagi misteri, aku kemudian seperti dicampakkan dalam tong sampah. Aku ditinggalkan sendiri dalam kondisi perut membesar: hamil.

Berbulan-bulan aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Mulai dari melatih mengontrol pikiran, mengenyahkan pikiran-pikiran negative dari otak, dan mengisi dengan mantra-mantra yang positif, bahwa semua akan berlalu dan semua akan baik-baik saja!  Dan mantra ini ternyata mujarab.

Aku mulai menyadari bahwa tidak ada obat yang mujarab untuk menyembuhkan luka hati atau jiwa yang terluka atau dendam kecuali berdamai dengan kenyataan. Aku menerima kenyataanku sebagai kebenaran diri, dan menjalaninya dengan ikhlas. Ya, apapun yang terjadi, hidup harus terus berjalan. Aku harus melanjutkan hidup.

Ketika aku sampai pada titik ini, aku baru merasakan tangan Tuhan bekerja. Aku, yang saat itu bekerja sebagai redaktur feature sebuah majalah fashion dan lifestyle di Jakarta, diminta oleh seorang kepala daerah Raja Ampat-Papua Barat untuk menulis edvotorial Raja Ampat. Seketika aku menyanggupinya, dan aku memutuskan keluar dari pekerjaan.

Keluar dari pekerjaan, berarti aku akan kehilangan penghasilan tetap perbulan. Sementara aku akan segera memiliki tanggungan dua anak. Tapi, entah mengapa, feelingku begitu kuat ingin keluar dari pekerjaan, dan melakukan traveling.

Usai menggurus perceraian pada tahun 2009, aku langsung berjalan menuju Papua—ujung Timur Indonesia. Sebuah pulau yang memiliki keindahaan dan kekayaan alam yang menakjubkan. Tanahnya sungguh luas. Terbesar di Indonesia, dan bahkan terbesar kedua di dunia. Ia memiliki hutan-hutan yang masih alami, padang rumput yang sejuk, sungai-sungai yang mengukir jurang melalui hutan lebat, laut dengan panorama alam bawah laut yang kaya dan indah, puncak gunung bersalju menjulang tinggi di danau glasial, hingga gunung beremas. Sehingga pulau ini menjadi kawasan konservasi terluas di Asia tenggara.

Peta Kepulauan Raja Ampat Papua Barat (https://www.google.com)

Aku bersyukur, mendapat kesempatan mengunjungi pulau ini, tepatnya di Raja Ampat-Papua Barat, yang terletak di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) pulau Papua. Pulau ini lama terpendam, terisolasi, tak dikenali, namun kemudian menghentak mata dunia, bahwa Raja Ampat adalah Coral of Kingdom.

Tim ahli dari Conservation International, The Nature Conservancy, dan Lembaga Oseanografi Nasional (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan penilaian cepat pada 2001 dan 2002. Mereka mencatat di perairan ini terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, 700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi gonodactyloid stomatopod crustaceans. Ini menjadikan 75% spesies karang dunia berada di Raja Ampat. Tak satupun tempat lain yang memiliki jumlah spesies karang seluuas area perairan laut Raja Ampat. Sehingga Raja Ampat menjadi harapan kehidupan dunia maritim.

Daniel, ketika menginjakkan kaki pertama kali, aku terpukau oleh beningnya perairan laut Raja Ampat. Airnya bening seperti kaca. Hingga ribuan ikan berwarna-warni bisa ku lihat dari permukaan laut. Gugusan gunung gunung kecil yang melatari laut juga terlihat indah, membentuk formasi tersendiri.

Pulau ini seperti menggambarkan namanya, Raja Ampat. Kata “Raja” merujuk pada kemasyhuran, kuasa puncak, juga mahkota di mana spiritual tertinggi bersemayam. Bagiku, Raja Ampat semacam hasil perkawinan rasi istimewa dari apa yang digambarkan manusia tentang surga, tanah, dan air. Teritorialnya membentang seluas 4 juta hektar meliputi tanah dan laut yang memiliki 1.844 pilar pulau, termasuk empat yang terbesar: Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool (Batanme). Di pulau ini, semesta memperlihatkan aku pada keindahan alam yang masih murni, alam yang hijau berpadu dengan air jernih alami, udara yang basah menyejukkan, hingga mampu membawa alam pikiranku tenang dan jernih kembali.

Kesedihanku pun sirna. Apalagi ketika aku berada di sebuah perkampungan kecil Arborek, yang dikepung oleh lautan yang maha luas. Menghadap arah barat, timur, utara dan selatan, aku hanya melihat laut dan langit menghampar biru, yang seolah-olah menjadi kesatuan.

Tak ada listrik. Tak ada tv. Tak ada koran. Tak sinyal handphone, atau apapun yang bisa menghubungkan aku dengan dunia luar. Suara luar yang sering kudengar hanya angin, ombak, suara binatang malam, tangisan atau canda anak-anak dari rumah –rumah, yang terbuat dari kayu yang sudah reyok. Sehingga aku seperti digiring, masuk ke dalam diriku sendiri.

Bila pagi dan sore menjelang, aku melihat anak-anak yang bertelanjang dada, ingusan, kumal, bau amis, itu bermain berlarian di pantai dengan gembira. Aku juga melihat perempuan-perempuan yang hanya memakai sarung untuk membungkus tubuh hingga dada, menyusui anak-anak mereka, sembari memakan pinang dengan bibir merah-merah, mengobrol ke sana kemari. Wajah-wajah mereka tampak bahagia meski hidup dalam serba kekurangan—dalam versi pikiran saya–karena mereka tidur di atas pasir dengan anjing-anjing mereka.

Melihat kehidupan mereka, aku bercermin pada diri sendiri. “Hey, Ayu? Apa yang kamu sedihkan dari hidupmu? Kau jauh beruntung dari kehidupan mereka. Lihatlah disekitarmu itu? Dan rasakan!”

546516_10150729947258617_1097376270_n

Di kampung Arborek.

Perjalanan awal ke Arborek tahun 2009 itu telah menyadarkan aku untuk bersyukur, karena ternyata, masih banyak perempuan yang lebih menderita dari pada diriku. Aku justru malu karena aku masih sering meraung oleh “cubitan hidup” yang tak seberapa.

Dari Arborek, aku melangkah ke Waisai, ibukota Raja Ampat. Enam tahun yang lalu, kota ini juga masih sepi. Waisai mulanya hanya sebuah dusun kecil, yang hanya terdapat 10 rumah, 1 puskesmas dan 1 sekolah dasar yang merupakan tindaklanjut dari kegiatan ABRI masuk desa pada waktu itu. Semua fasilitas infrastruktur yang ada di sana hanya jalan setapak yang selain dilalui oleh manusia, tapi juga dilalui oleh binatang hutan dan selebihnya hutan perawan.

Aku menyaksikan sebagian tanah Waisai masih hutan belukar itu, lalu perlahan tapi pasti, disibak menjadi kota kecil, menjadi ibu dari 24 distrik yang bertebaran di pelbagai pulau Raja Ampat, dan kini menjadi pusat pemerintahaan Raja Ampat. Di Waisai inilah kekayaan hayati, ritus budaya, dan festival bahari Raja Ampat digelar setiap tahunnya, di bulan Oktober, di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC)—salah satu pantai kebanggaan dan tempat hiburan masyarakat Raja Ampat saat ini.

Dari Aborek dan Waisai, aku berjalan ke kampung Sauwandarek, Sawingrai, Yenwaupnor, Saleo, Serpele, yang semua berada di pulau Waegio. Jarak antara satu kampung ke kampung lainnya dipisahkan laut dan hutan.

Dan setiap kali aku membelah birunya laut Raja Ampat pikiranku seketika berhenti berpikir. Pikiranku tertunduk oleh keindahaannya. Di saat seperti itulah aku sering mendengar suara lirih yang muncul dalam diriku: “Ayu, hidup ini seperti ombak di laut. Kadang naik, kadang turun. Kita adalah “peselancar kehidupan” yang bermain di atas ombak kehidupan. Jadilah peselancar yang tangguh. Latihlah ketahananmu dalam menghadapi gelombak ombak  hidup yang bisa datang secara tiba-tiba.”

Ya, lautan Raja Ampat seakan mengajak diriku berjalan ke dalam diri dan mengajariku tentang gerak kehidupan.

Dan ketika kembali ke daratan, memasuki kampung-kampung mereka, hatiku trenyuh dan sedih melihat kehidupan mereka yang bertahun-tahun terisolasi. Tertutup oleh dunia luar. Begitu pun masyarakat luar, hampir tidak pernah mendatangi kampong mereka karena ketiadaan akses. Rumah-rumah mereka berdinding dan beratap daun rumba. Tak ada kursi. Tak ada meja. Tidur pun di atas pasir yang menjadi lantai rumah-rumah mereka.

522702_10150791964053617_1498876717_n

Arborek 2009

Maka ketika ada orang luar mengunjungi kampung mereka, mereka akan senang dan menyambutnya dengan suka cita. Keramahaan masyarakat local Raja Ampat sungguh membuatku terharu dan tak pernah terlupakan dalam ingatanku..

Dan, saat ini, kampung-kampung yang pernah aku datangi itu kini telah menjadi kampung wisata. Sehingga akses menuju kampung-kampung itu sudah bisa dijangkau oleh siapapun dengan mudah, dan kehidupan masyarakatnya juga sudah jauh lebih baik. Sungguh ini menggembirakan bagiku dan khususnya mereka—masyarakat asli Raja Ampat.

Dalam catatanku, sejak 2009, pemerintah daerah Raja Ampat memang getol membangkitkan industri pariwisatanya sebagai tujuan wisata bahari. Karena tanah Raja Ampat memang dikepung lautan kaya dan dijaga tradisi yang masih bestari. Apalagi spesies burung endemis Cenderawasih Merah dan Cenderawasih Wilsson hanya bisa dijumpai di Raja Ampat. Dan itu menjadi modal yang sangat besar untuk menjadikan suaka alam Kepulauan Raja Ampat sebagai destinasi unggulan wisata bahari.

Di Indonesia, pariwisata bahari memang sedang berada dalam trek yang menjanjikan. Apalagi tren pariwisata dunia mulai bergeser dari pariwisata massal menuju pariwisata minat khusus, baik dalam bentuk ekowisata hutan, bahari, maupun petualangan tertentu. Tren pariwisata global ini memberikan harapan besar bagi wilayah yang memiliki panorama alam dan kebudayaan yang eksotis. Sehingga pariwisata di kawasan Indonesia timur pun mulai berkembang untuk merespons tren pariwisata global.

 

Daniel, kau tahu, negeriku ini tercatat sebagai Negara kepulaun terbesar di dunia, memiliki berbagai macam ekosistem pesisir dan laut (seperti pantai berpasir, goa, laguna, estuaria, hutan mangrove, padang lamun, rumput laut, dan terumbu karang) yang paling indah dan relatif masih ’perawan’ (pristine, unspoiled)).

Diantara sepuluh ekosistem terumbu karang terindah dan tarbaik di dunia, enam berada di tanah air yakni Raja Ampat, Wakatobi, Taka Bone Rate, Bunaken, Karimun Jawa, dan Pulau Weh. Karena itu, kawasan pesisir dan laut Indonesia merupakan tempat ideal bagi seluruh jenis aktivitas pariwisata bahari seperti (1) sun bathing at the beach or pool; (2) ocean or freshwater swimming; (3) beachside and freshwater sports such as water scooter, sausage boat, water tricycle, wind surfing, surfboarding, paddle board, parasailing, kayacking, catamarans, etc; (4) pleasure boating; (5) ocean yachting; (6) cruising; (7) fishing; (8) diving, snorkeling, glass boat viewing and underwater photography; (9) marine parks; (10) canoeing; and (11) coastal parks, wild life reserves, rain forest, gardens and trails, fishing villages.

IMG_9864

Pulau Painemo. Foto oleh Opan.

Dan, Raja Ampat memiliki pesona dunia bawah laut yang sangat indah, mirip sebuah dunia mimpi dalam cerita fantasi. Sehingga jika dahulu para turis mancanegara seperti dirimu hanya mengenal keindahan Pulau Bali, maka kini mereka dan kau pun mendengar wilayah kepulauan Raja Ampat yang keindahannya bahkan melebihi Pulau Bali.

Karena itu, perjalananku ke Raja Ampat untuk sebuah kepenulisan ini merupakan sebuah berkah. Karena diluar sana, pasti ada banyak penulis yang lebih hebat dari saya. Tetapi mereka, mungkin, tidak memiliki kesempatan seperti saya; diberi kesempatan dan kepercayaan menulis daerah Raja Ampat dan melakukan perjalanan dari kampung-kampung kecil yang tersebar di pulau Waigeo- Raja Ampat.

Lewat perjalanan itu, Tuhan memberiku ruang gerak hidup yang lebih luas, berkelana, mengenali nusantara, tanah kelahiranku, Indonesia, dan itu membuat hidupku semakin mencintai negeriku. Karena dari perjalanan demi perjalanan, aku bisa banyak tahu, banyak melihat, banyak kenal, dan banyak belajar untuk memahami seribu cara pandang manusia, yang baru aku temui dan kenali.

Aku menjadi tahu bahwa berita dilayar kaca atau media elektronik maupun cetak yang sering mengabarkan Papua sebagai daerah rawan konflik suku dan agama itu tidak sepenuhnya benar.

Lebih dari setengah dekade sejak 2009 hingga 2015, aku bolak-balik Jakarta-Raja Ampat (Papua), tak kutemukan kekerasan terjadi di sana. Selain untuk kebutuhan kepenulisanku, saya pun turut menelisik bagaimana kehidupan keagamaan yang bersifat plural terbentuk di sana. Mereka hidup berdampingan secara harmonis. Mereka saling membantu pada saat perayaan-perayaan agama (Islam dan Katolik atau Kristen) dan pesta adat. Sehingga dalam pandangan saya, masyarakat Raja Ampat lebih terbuka dan toleran dengan agama lain. Bahkan saya kerap mengikuti acara-acara yang dimulai dan diakhiri dengan doa dua agama—Islam dan Katolik/Protestan—bersama-sama.

Jikalau pun ada konflik agama atau suku yang terjadi di wilayah Papua, saya yakin konflik itu bukan murni muncul dari masyarakat bawah Papua, tetapi mungkin, hanya permainan segelintir orang–yang memiliki agenda, kuasa dan dana–, yang ingin mengadu domba dan memecah belah umat beragama di Indonesia.

Semakin aku banyak melakukan perjalanan, dari satu pulau ke pulau, aku semakin mencintai tanah kelahiranku, yang memiliki banyak pulau dengan ragam wajah budaya yang berbeda-beda. Negeriku ini tak hanya memiliki gugusan pulau yang dijalin oleh miliar kubik air dari Sabang hinga Merauke, yang luas lautannya mencapai 5,8 juta km2 atau mendekati 70 % dari luas keseluruhan daratannya, tapi juga memiliki 1001 ragam budaya, upacara adat dengan beragam keunikannya, tarian yang khas, dan surga makanan yang terwariskan dari masa yang jauh.

11149396_1412902565694110_4055267894712965708_n

Demikian pula Raja Ampat. Raja ampat tak sekadar poros segitiga karang dunia: surga bagi pecinta rekreasi bawah laut, tapi juga memiliki ragam karya seni dan budaya yang unik. Ada banyak nilai nilai leluhur atau kearifan local masyarakat adat yang tetap mereka lestarikan dan ekspresikan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Setiap musik, syair, tarian dan lukisan masyarakat adat Raja ampat memiliki makna tersendiri. Mereka menari bersama alam, menyanyi bersama alam, dan hidup pun selalu berdampingan dengan alam. Sehingga apa yang mereka ekspresikan dalam bentuk tari, syair, lukisan memiliki hubungan alam sekitarnya dan hubungan dengan leluhur nenek moyan dan sang pencipta.

Dan, Raja Ampat memiliki kebudayaan dan kesenian yang berbeda dengan masyarakat yang hidup di wilayah tengah dan timur Papua. Kebudayaan maupun keseniaan Raja Ampat merupakan perpaduan antara kebudayaan Papua dan Islam dari Maluku Utara.

34046_421536443616_5904804_n

Tarian Yospancar. Foto oleh Endro Gunawan

Ada beragam tarian Raja Ampat yang sempat aku saksikan diberbagai upacara adat atau acara masyarakat. Yaitu, tarian Wor, Suling Tambur, Gemutu, Yospan, Mon , yoko, Lan Jin, Walla, Bintaki, Massorandak, Pangur sagu dan lainnya. Corak tarian Raja Ampat pada umumnya gerakannya dinamis, serentak, terkadang ritmis, dan ada cerita yang disampaikan. Tarian-tarian itu bukan hanya sekadar seni gerak tapi meliputi system social, moral, dan spiritual.

Salah satu tarian yang menarik perhatianku adalah tarian Wor. Wor adalah salah satu tarian sakral, yang biasanya sebagai pengiring dalam sembayang suci atau ritual adat, seperti pengangkatan Raja, menghadirkan arwah-arwah leluhur, pernikahan adat, dan penyambutan tamu.

Berdasarkan penuturan lisan para kamitua adat yang saya wawancarai, tarian Wor ini biasanya untuk menghadirkan arwah leluhur sehingga tak boleh sembarang orang mementaskannya. Tarian ini digelar apabila suku menyelenggarakan peperangan. Sebelum perang dimulai, terlebih dahulu meminta petunjuk atau ilham dari Mansren Nanggi apakah dalam peperangan itu beroleh kemenangan atau kekalahan.

30460_421269533616_3583498_n

Tarian Wor. Foto oleh Endro Gunawan

Sebelum pentas tari dimulai terlebih dahulu diawali ritual tertentu seperti membakar dupa, melafadzkan mantra, dan berpantang pada makanan. Dalam tari ritual pemanggil roh ini, gong dan tambur ditabuh serentak. Lalu disusul dengan tifa, kwur, dan bebunyian lainnya yang juga ditabuh serentak. Bunyi-bunyian musik pengiring tari itu tak akan berhenti hingga salah satu penari atau ketua adat mengalami kesurupan—trance, yakni sebuah situasi ketika gerak penari dituntun oleh arwah. Di saat ekstasenya sang penari itulah menjadi penanda bahwa arwah Mansren Nanggi telah datang dan memberi sebuah pesan.

Kekasihku Daniel, negeriku ini  memiliki ragam jenis tarian tradisional yang tersebar di seluruh Nusantara. Tradisional atau sering disebut tradisi berarti warisan budaya yang sudah cukup lama hidup dan berkembang secara turun-temurun. Dan hampir di setiap tarian tradisional itu sang penari mengalami trance—kesurupan.

Aku tidak tahu secara jelas bagaimana proses itu terjadi. Ketika aku bertanya kepada para penari, ada yang mengatakan itu terjadi karena dalam tari rakyat selalu di dasari oleh gerak dan symbol yang selalu dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi penggulangan dan membuka ruang trance seperti ritual dzikir. Namun ada juga yang mengatakan, ketika mereka sedang dalam trance, sesungguhnya mereka sedang berkomunikasi dengan leluhur atau kerasukan—roh-roh nenek moyang mereka.

okIMG_0329

Salah satu motif lukisan wajah dan tubuh dalam tarian tradisional Papua. Foto: Abdul Malik MSN

Bagi masyarakat Papua pada umumnya, dan Raja Ampat khususnya, tari dan bunyi-bunyian adalah perantara komunikasi budaya. Tari dan bunyi-bunyin adalah salah satu cara perantara komunikasi dengan leluhur mereka. Lukisan pada wajah dan tubuh yang menjadi salah satu aksesoris penting tarian Papua juga bukan sekadar tanpa makna. Lukisan-lukisan yang tergambar itu merupakan bahasa rupa yang berusia purba, yang kerap menjadi simbol untuk memanggil dan menyatukan diri dengan para arwah leluhur sehingga kehidupan yang dijalani hari ini tiada lain merupakan kelanjutan kehidupan masa lampau.

Sebelum aku melakukan perjalanan ke beberapa pedalaman di pulau Indonesia bagian Timur, segala aktivitas tradisional seperti upacara adat, memberi sesajen pada pohon, atau pada laut, atau atau pada roh-roh leluhur, aku anggap sebagai kebodohan, kampungan, dan juga pemborosan.

Namun, semenjak aku berjumpa dan hidup bersama mereka di pedalaman, pelan-pelan, cara pandangku mulai memahami bahwa upacara-upacara adat dan sesajen yang mulanya aku anggap sebagai kebodohan itu ternyata mengandung sebuah makna. Tradisi-tradisi sajen itu sesunguhnya mempunya fungsi agar masyarakat tetap menjaga hutan, air, tanah, dan segala kekayaan dimuka bumi. Tradisi -tradisi itu setara dengan perintah untuk memelihara dan menjaga bumi, tempat kita—manusia— berbijak.

Sehingga tidak ada salahnya jika berbagai upacara, sejanen, dan kepercayaan tentang roh-roh penunggu itu dilestarikan. Jangan hanya karena sesajen dipersembahkan pada yang tak terlihat lalu disimpulkan bahwa sesajen itu diberikan pada yang dianggap Tuhan, yakni berhala. Itu kesimpulan yang kurang tepat.Sebab orang-orang yang menghantarkan sajen bisa saja menghayati perbuatannya dengan cara yang sama sekali lain. Mungkin, mereka mempersembahkan sajen itu kepada yang mereka percaya bahwa alam raya ini ada penunggunya. Bukan manusia sendiri yang memilikinya. Kalau kita melakukan apa saja terhadap alam ini, kita harus permisi terlebih dahulu dan harus tahu batas.

IMG_9077

Salah satu keindahan alam di pulau Misol. Foto oleh Opan.

Sungguh, aku mendapatkan banyak hal pengalaman dan pengetahuan setelah melakukan perjalanan ke Raja Ampat ini. Aku semakin mempercayai bahwa semua perjalanan memiliki tujuan rahasia tanpa kita sadari sebelumnya. Seperti perjalananku ke Raja Ampat ini ternyata menjadi obat pertama penyembuh luka hati, sekaligus pintu pembuka mataku melihat dunia dari sisi lain, dengan sudut pandang unik. Dan itu semua memperkaya batin, menambah kepekaan, memperdalam empati atas manusia dan seluruh kesahnya. Oleh karena itu, sampai detik ini, perjalanan bagiku adalah sebuah proses menemukan. Sebab kita tidak akan pernah tahu akan berjumpa dengan siapa- siapa saja dalam perjalanan kita, seperti perjumpaan antara kita.

Pernahkah kita tahu sebelumnya bahwa kita akan berjumpa? Bahwa Ayu Arman akan berjumpa dengan lelaki bernama Daniel James Warman, dan saling jatuh cinta? Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bila aku bisa jatuh cinta dengan lelaki berkulit putih, yang dulunya aku tidak pernah menyukai orang asing, karena kuanggap sebagai bagian dari para penjajah negeriku.

Perjalananku bertemu kamu adalah mengubah cara pandangku yang streotipe itu. Seperti perjalananku ke Raja Ampat juga telah mengubah cara pandangku, mengubah mentalku, hingga aku menyadari bahwa perjalanan hidup ini luar biasa indah jika kita menganggapnya sebagai petualangan yang tak kenal takut.

Ya, sebuah perjalanan memberi sesuatu pengalaman baru, dengan peristiwa-peristiwa yang tak terduga. Meski kita berjalan pada tempat atau tujuan yang sama, tetap saja perjalanan akan memberi pengalaman yang berbeda. Pengalaman-pengalaman itulah yang akhirnya menghantarkan aku untuk menghargai sebuah arti cinta dan kehidupan; menghantarkan aku pada sebuah pemahaman bahwa kebahagiaan itu sederhana. Dia tidak ditemukan dalam benda-benda, tapi dalam pola pikir, pengalaman hidup manusia, dan bertemunya dua insan yang saling mencintai.

Maka, ketika kau ingin melanjutkan perjalananmu, aku tidak akan menahanmu, meski berat hati aku harus melepaskanmu. Aku ingin kamu bahagia dengan menggapai mimpimu, melakukan perjalanan duniamu. Karena, aku tahu arti sebuah perjalanan. Tetapi, aku pasti akan sangat kehilangan dirimu.

burung-pantai

Pasir putih timbul di sekitar pulau Mansuar. Foto oleh Abdul Malik MSN

Mungkin Tuhan telah mentakdirkan sang sunyi menjadi temanku. Karena sang waktu sepertinya belum memberi waktu yang panjang untuk kita bersama. Kita dipertemukan sang waktu pada detik-detik kepulanganmu ke tanah kelahiranmu, United Kingdom.  Aku tak punya pilihan kecuali menerima kenyataan  meski hati berat. Namun, aku akan terus berdoa meminta pada semesta untuk menyatukan kita kembali. Hanya doa ini yang aku bisa lakukan untuk merawat sebuah harapan bersatu denganmu.

Seperti pesanmu padaku:” Ayu, keep me in your heart. Please, wait me. I will back for you!”

Ya, aku akan menjaga namamu di hatiku. Aku akan menunggumu di sini sembari berbisik pada angin, pada awan, pada ombok, pada laut, pada gunung, pada hutan, pada siang, pada malam, pada bintang, pada purnama untuk membawamu segera kembali ke negeriku.

Aku percaya kau pasti datang dan menyuburkan benih benih cinta ini untuk tumbuh berkembang bersama, mengarungi kehidupan ini bersama.  Namun, jikalau nanti kamu kembali ke negeriku, datang padaku, dan kau tak mendapati keberadaanku di sini, tolong jejakilah jejakku di Raja Ampat. Karena Raja Ampat adalah pulau teramat penting dalam hidupku.  Raja Ampat adalah pulau ibuku. Pulau yang tak hanya menyembuhkan psikologiku dari “tragedi gelap,” tapi juga melahirkanku menjadi penulis biografi dan mengantarku memasuki pulau-pulau Indonesia bagian timur lainnya.

BACKGROUND NULIS

Di salah satu sudut resort Waiwo-Waisai. Foto oleh Abdul Malik MSN

 

Dalam surat ini, aku akan memberimu sedikit peta panduan perjalananmu ke sana. Ada beberapa yang perlu kamu catat sebelum melakukan perjalanan ke Raja Ampat, khususnya soal waktu, lokasi, dan tempat yang bisa jadi kamu jadikan referensi.

Kapan sebaiknya kamu datang?   Kamu bisa datang ke Raja Ampat kapanpun. Namun, aku sarankan kamu memilih bulan yang baik. Hindari musim angin dan ombak besar sehingga kamu leluasa menikmati pemandangan pantai dan menyelami dunia bawah laut dengan nyaman. Namun, jika kamu ingin mengenal pelbagai seni tari dan budaya Raja Ampat secara menyeluruh, selain pemandangan alam dan lautnya, kamu bisa berkunjung pada bulan Oktober saat Festival Bahari Raja Ampat diselenggarakan. Dalam Festival Bahari itu menampilkan serangkaian pagelaran seni budaya dan tradisi kehidupan masyarakat Adat Raja Ampat; mulai dari musik, tari, kuliner, kayak, tracking, bird watching, kuliner, dan lainnya.

 

 
12606861_10153802111558617_24264836_n

Aku dan pesawat Susi Air di bandara Marinda Waisai. Moda Udara dari Sorong ke Waisai-Ibukota Raja Ampat

Bagaimana Rute Menuju Raja Ampat? Untuk sampai saat ini belum tersedia penerbangan langsung ke Raja Ampat. Pintu masuk penerbangan utama dari Sorong, yang dapat dicapai dari Jakarta, Manado, atau Makassar. Pesawat yang melayani rute ini adalah Garuda, Lion Air, Merpati Nusantara, Batavia Air, dan Ekspress Air. Kamu juga bisa berlabuh di Bandar Sorong dengan kapal PT Pelni dari Manado, Ambon, Ternate, atau Makassar. Sangat penting bagi kamu untuk memeriksa jadwal waktu keberangkat kapal dua pekan sebelumnya.
Ada dua transportasi ke Raja Ampat dari Sorong. Pertama, mengunakan spead dan kapal yang setiap hari menuju Waisai (ibukota Raja Ampat). Spead dan kapal itu berangkat pukul 13.30 dengan durasi waktu perjalanan 3 jam. Untuk bisa menjelajahi pulau-pulau di Raja Ampat, kamu perlu menyewa perahu atau spead. Disarankan mencari spead sewaan di Sorong atau di Waisai. Kedua, mengunakan pesawat susi air, yang hanya ditempuh 20 menit. Pesawat kecil ini terbang pukul 09.00 pagi. Namun, penerbangan pesawat ini tidak setiap hari. Hanya ada pada hari Senin dan Jumat.
DSC09242

Express Bahari. Salah satu moda laut Raja Ampat.

 

Lokasi-lokasi Indah yang bisa kamu kunjungi. Karena kepulaun Raja Ampat ini sangat luas, dan banyak tempat indah,sebaiknya tentukan lokasi tujuan terlebih dahulu agar perjalananmu terorganisir dan bisa menentukan budget lebih awal. Jika tidak, perjalanan ke Raja Ampat bisa memakan waktu panjang dan biaya lebih mahal karena perjalanan ke Raja Ampat adalah perjalanan laut. Ada beberapa titik lokasi pariwisata Raja Ampat yang bisa kamu datangi.

(1) Pulau Krie. Pulau ini dijadikan sebagai tempat diving dan snorkling yang mengasikkan. Dalam satu penyelaman, kamu akan melihat ribuan spesias ikan, ratusan gugusan terumbu karang dan moluska yang indah, yang dikelilingi ribuan ikan dan satwa laut lainya. Jika kamu tidak menyelam, kamu bisa melakukan snorkling untuk turut menikmati keajaban alam di Pulau Krie.

(2) Pulau Mioskon. Pulau ini juga tak kalah indah. Namun, pulau ini akan terasa lebih indah jika penyelaman di lakukan pada malam hari. Warna-warna karang akan terlihat lebih terang dan bersinar karena mereka mengeluatrkan zat sejenis fosofos yang membuat glow in the dark. Di dasar pulau ini, kamu akan menemukan jenis-jenis karang seperti Spanish, dancer, celaner shrimp, dan beragam siput lainnya. Dan yang paling berkesan, pada kedalaman sekitar 20 meter, biasanya ditemukan Wobbegong, sesosok ikan besar, badannya bertotol-totol putih atau abu-abu dan warna kulitnya oranye kecoklatan. Jenis ikan ini biasanya senang beristirahat di lantai pasir, di bawah naungan sebuah karang.

(3). Pulau Friwen. Di dasar pulau ini, kamu akan menjumpai ikan-ikan, moluska dan makluk laut lainnya. Umumnya para penyelam di lokasi ini sering melihat Wobbegong di sini, meski hanya dengan snorkling saja. Wobbegong sering muncul mengendap-endap pada kedalaman 4 meter, di atara pasir dan celah karang. Juga kadang terlihat ikan paus melintas santai sesekali menyemburkan air dari kepala raksasanya.

(4). Mansuar. Pulau ini tempat favorit para diving. Disini ini, para penyelam bisa melihat ikan pari manta, jenis pari terbesar di dunia. Ikan ini bersayap mencapi lebar 7,6 meter dan berat sekitar 2.300 kilogram. Para penyelam mengaku akan mengalami kepuasan tersendiri jika dapat menyelam bersama kawanan pari manta tersebut dan menyaksikan kepakan sayapnya seperti melihat sebuah tarian kuno yang indah.

1115259wayag-1780x390

Wayag, Ikon Raja Ampat. Foto oleh Barry Kusuma

(5) Kepulauan Wayag-Sayang. Wayag merupakan marine protected area. Pulau ini terdiri dari serakan pulau kecil aneka bentuk dan ukuran pada hamparan laut bergradasai biru terang hingga kehijauan. Tempat ini paling menakjubkan untuk dikunjugi oleh para wisatawan. Keunikan Wayag adalah pemandangan alam jika dilihat dari puncak bukit setelah berjuang mendaki gunung kecil. Begitu sampai di puncak, mata pun akan disuguhi pemandangan menakjubkan, berupa hamparan pulau kecil dengan air laut berwarna biru. Sekali menyusuri kepulaun ini, jiwa dan pikiran kita pasti langsung terhubung pada Sang Pencipta. Sungguh indah dan eksotik.

(6) Pulau Painemo. Painemo juga dikenal dengan sebutan Wayag kecil karena pemandangannya yang menyerupai Pulau Wayag, ikon wisata Raja Ampat. Tapi posisi Wayag yang berada di tempat paling jauh di bagian utara dan harus ditempuh antara enam sampai tujuh jam, membuat wisatawan yang tidak punya banyak waktu memilih Painemo.(7) Kampung Wisata Arborek.  Selain bisa melihat ikan pari manta, kamu juga bisa melihat jutaan ikan dari atas permukaan laut. Juga bisa merasakan sensasi hidup bersama penduduk local di sebuah pulau kecil ditengah laut.

(8) Kampung wisata Yenwaupnor dan Sawinggrai. Pada kedua kampung ini, kamu dapat melihat jenis burung cendrawasih merah, yang biasa disebut dengan The Bird Paradise, burung surga. Jenis burung ini sangat endemic atau langkah karena hanya ditemukan didaratan Papua saja. Selain berbulu indah, burung ini juga memilki suara yang sangat merdu, yang seakan menyuarakan melodi nada dari surga.

(9). Kali Raja-Teluk Kabui. Di pulau ini kamu bisa menapak tilas beberapa kepurbakalaan yang memiliki nilai sejarah dan juga menikmati seni budaya khas msayarakat raja ampat. Di pulau ada goa tengkorak dan situs sejarah Raja ampay di kali Raja. Kamu bisamelihat benda-benda purbakala, yang dianggap keramat, seperti tulang manusia, tempat tidur, piring dan perkakas rumah tangga lainnya, yang berada pada gua kecil di pulau dekat kampung Wawiyai. Benda-benda itu dipercaya oleh masyarakat kampung Wawiyai sebagai tulang belulang nenek moyang mereka. Namun, untuk menuju ke sana, kamu harus ditemani dengan tetokoh adat.

IMG_5068

Salah satu keindahan alam pulau Misool. Foto oleh Opan Alting R4

(9) Misool. Pulau ini juga tidak kalah menarik. Misool ibarat kapling surga kecil dengan keindahan pantai dan taman laut yang menakjubkan. Membentang sederetan pulau batu karang di bagian barat dan timurnya, Kejernihan dari perairan laut yang memungkin memandang langsung ke sub permukaan yang berwarna warni ketika masih di atas perahu dengan jarak pandang ke dalam air bisa mencapai 10-30 meter.

(10) Pulau Batanta. Objek wisata yang dapat dikunjungi adalah pulau Wai dan selat Dampier yang juga mempunyai daya tarik sendiri. Di pulau Wai, kamu dapat melakukan penyelaman di lokasi bangkai peswat thunderbolt, pesawat peninggalan peran dunia ke II. Di lokasi juga bisa melihat burung-burung yang unik terutama di kampung Wailebet.

Di mana kamu bisa tinggal? Ada banyak pilihan akomodasi yang bisa kamu pilih. Mulai dari harga 5 juta hingga 350 ribu permalam.

Jika kamu ingin tinggal di resort atau cottage, ada beberapa pilihan resort disana. (1) Resort Papua Diving-Kri Eco Resort-Pulau Mansuar Raja Ampat. (0951) 328038, 328028 | www.papua-diving.com. (2) Misool Eco Resort-Pulau Batbitim Misol Kab. Raja Ampat | (0951) 322613. | www.misoolecoresort.com. (3).Papua Paradise Eco Resort-Pulau Birie, Batanta. Kab. Raja Ampat | 081248113103 | www.seahorseparadise.com. (4) Raja Ampat Divelodge-Kamp. Kurkapa, Pulau Mansuar Kab. Raja Ampat | Jl Penyaringan 33 x (2 floor) Sanur- Bali-Indonesia | (361) 271538, 271539 | www.rajaampat.divelodge.com. (5).Resort Waiwo-Pulau Waigeo. Kab. Raja Ampat | www.rajaampatdiveresort.com. (4). Acrophora di jalan  Badar Dimara, Waisai Kab. Raja Ampat| 081244151010. (5).Waisai Beach Hotel. (6) King Dolphin di jalan Badar Dimara, Waisai Kab. Raja Ampat | 085254478465

Homestay dan hostel juga bisa menjadi pilihan alternatif. Selain murah, kau bisa berbaur dengan masyarakat lokal di sana. Ada beberapa homestay dan hostelyang bisa jadi pilihan. Diantaranya: (1) Arborek-Kampung Arborek, Distrik Meosmanswar Kab. Raja Ampat | 081344402542/085254520513. (2) Inbefort-Kampung Sawinggrai Distrik Meosmanswar Kab. Raja Ampat | 0852440559725. (3)Kobeoser-Kampung Yenwaupnor Distrik Meosmanswar Kab. Raja Ampat | 081344307327. (4) Yenbuba-Kampung Yenbuba, Distrik Meosmanswar Kab. Raja Ampat | 081344174787, 0815277728476 (5). Harapan Jaya-Kampung Harapan Jaya, distrik Misool Timur Kab. Raja Ampat | 081344353030.(6) Hostel Najwa Indah-Jln. Abdul Samad Mayor, Waisai Kab. Raja Ampat| 085244653444|0813444601345. (7) Waisai Indah di jalan Abdullah Arfan, Waisai Kab. Raja Ampat|085244155204 (8) Marcy di jalan Abdul Samad Mayor, Waisai Kab. Raja Ampat|081218107800. (9) Novalin di jalan Kimindores, Waisai Kab. Raja Ampat| 08134486908

12467964_10153802628803617_944321679_n

 

Kekasihku Daniel James Warman, semoga peta kecil yang ku tulis dalam surat ini suatu saat bisa menjadi petunjuk arahmu bila aku benar-benar tidak kau temukan dalam ruang sunyiku ini. Namun, aku berharap  sang waktu terus menjaga hati dan langkah kita untuk tetap searah dan sehati untuk melukis cerita bersama. Dan, akhirnya, aku harus mengakhiri suratku ini, dan melepas kepergianmu. Selamat melanjutkan perjalanan, sayang! Semoga dalam perjalanan barumu, kau  menemukan legenda pribadimu. Ingat dan percayalah, saat kau menginginkan sesuatu dan kau mulai melangkah, seluruh alam semesta ini akan bersatu membantumu. Dan, aku, Ayu Arman, kekasih jiwamu, akan terus mendoakanmu di sini. I Love you! ***

.

 
 


25 Comments

  1. What a lovely love later…….informative and emotional journey to the lonely planet.
    What a brilliant idea to wrap up your personal life into travel information to promote you country.

    BUT, I have to PLEASE make a correction by using word “bule”. It’s consider a calling name (without realize) and very rude toward racist in the west world. “Bule” mean pigment defected in term of health issue condition (albino). It’s origin pure Javanese prokem used for the Buffalo in Kasunanan Solo. (Kebo bule-asal usul kata bule untuk meledek orang putih tanpa menyadari bahwa kata ini adalah menghina)
    It’s insulted them, same as white people calling black -NEGRO.

    I’m teaching both Javanese and Indonesian Language at Cornell University. Do not use “bule” for a white people. I hope you do too as a writer to make a correction to the public and generation to come. I’d said Bangsa kulit putih or orang putih instead.

    Thank you.
    Salam, Niesdri Welsh.

  2. admin says: - reply

    Hello Mbak Niesdri Welsh.

    Thanks Mbak for your information. Oke, i will change it!

  3. You have been really blessed to have this journey to Raja Ampat Ayu 🙂

  4. Raja Ampat punya 610 pulau. Kampung Tomolol di Misool, mba. Total species ikan karangnya 1500-an. Species karang kerasnya sudah 600-an. Salam buat Opan Alting 🙂

  5. Hang Lekir says: - reply

    Indah sekali bahasanya..membuatkan daku hanyut dan terbuai di lautan kata kata
    Salam dari Malaysia

  6. I see, that your website needs fresh & unique articles.
    I know it is hard to write content manually everyday, but there is solution for this.
    Just search in google for: servitu’s tricks

  7. Fahreza Rizki says: - reply

    Terimakasih Kanda Ayu Arman. Sangat menginspirasi sekali.

    Salam.
    (Fahreza Rizky – Sekum PC IMM Ciputat 2014 – Wartawan MONDAY Magz, yang pernah diajarkan Ka Ayu ketika Pelatihan Jurnalistik di UMT)

  8. Nadine says: - reply

    Hi my name is Nadine and I just wanted to drop you a quick note here instead of calling you. I discovered your Raja Ampat Menyembuhkan Lukaku, Surat untuk Sang Kekasih. : Ayu Arman website and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a popular website is making sure the visitors you are getting are interested in your website topic. There is a company that you can get keyword targeted visitors from and they let you try the service for free for 7 days. I managed to get over 300 targeted visitors to day to my site. http://www.teqdar.net/shortl/6adt

  9. Very interesting 😀

    I am waiting for your next story about Misool Ya..

    Mbah Ayu…

    Salam dari Paul

  10. amazing. aku telah membacanya. semua benar 🙂
    pertama menapaki raja ampat januari 2013. kembali datang juli – agustus 2013.
    Beberapa biografi ttg pak marcus boleh dong saya beli.
    Oh ya. ada beberapa titik yang perlu ikut dipromosikan d misool selatan, dan kayaknya menarik lagi kalau mba ga hanya ngangkat ttg pariwisatanya. tapi juga beberapa perusahaan besaar disana. Seperti MER, perusahaan mutiara. akan mba temui sendiri di sana untuk memperkaya tulisan bagaimana hubungan sosial masyarakat dgn perusahaan.

    dan mgkn perlu dimasukan juga. Panun Paradise, homestay masy.lokal di Pulau Panun, Misool. Wagmap Homestay, di pulau Wagmap.
    Ah. terimakasih banget mba. sudah sharing.. saya jadi ingin segera menulis lagi soal misool 🙂 menjadi cambuk saya untuk menulis pariwisata dan masyarakat di sana.

    Salam kenal
    hanif insanwisata.com

    • admin says: - reply

      Hallo mas Hanif. Mas tinggal di mana? Nanti kita ngobrol ya. ini saya belum sempat telpon mas. Saya tertarik foto selat panah panah. Kemarin saya belum sempat ke sana. Salam hangat dari saya.

  11. Bonny90 says: - reply

    Reading your site gave me a lot of interesting informations
    , it deserves to go viral, you need some initial traffic only.
    How to get initial traffic? Search for: masitsu’s effective method

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *