“Sasadu On The Sea”

“Sasadu On The Sea”,  Rumah Bersama, Keberangkatan, dan Kepulangan

Ratusan penari berusia belia dengan mengenakan kostum berwarna-warni yang dihujani lampu pentas yang megah sebagaimana umumnya pentas-pentas di kota-kota besar. Panggung yang terpacak di atas air Teluk Jailolo di malam akhir pekan 18 Mei 2013 itu sebuah pergelaran drama musikal kolosal dilangsungkan.

 

Drama musikal Sasadu On The Sea yang terbagi atas 7 bagian ini berkisah tentang kelahiran yang sederhana seorang anak laki-laki Jailolo di rumah Sasadu yang kerap dikitari burung Bidadari.

 

Walau sederhana, setiap kelahiran disambut dengan kemeriahan dan sekaligus memperbaja semangat menghadapi dunia luar yang keras. Atraksi “bambu gila” dengan menari di atas papan yang diguncang-guncang ”gelombang” menjadi representasi laki-laki keras-hati mengarungi hidup yang menantang.

 

Musik cakalele dan tariannya mengiringi sang anak dalam perantauan. Musik dan tarian itu menjadi metafora kebersamaan yang terus dijaga. Bahwa anak-anak warisan “Moluku Kieraha” tak pernah sendiri. Selalu bersama. Sekaligus pengingat bahwa setiap pengembaraan bersifat siklis. Pada suatu saat keberangkatan berakhir dengan kepulangan. Sebab di titik keberangkatan itu, di titik di mana tali pusar ditanam, suara kerinduan selalu memanggil-manggil. Kerinduan pada tanah asal; kerinduan yang tak bertara pada Jailolo yang tanah dan airnya bak sepetak surgawi yang diwariskan Tuhan untuk dijaga sepenuh hati dan sekuat usaha.

 

Sepanjang cerita kelahiran-keberangkatan-kepulangan inilah disuguhkan perpaduan yang harmonis musik yanger, sara dabi dabi, dan legu sale yang bersilang-padu dengan zapin Melayu dan ambience musik kontemporer. Juga tata cahaya yang menyoroti terus-menerus rumah warisan Sadadu dan hentakan tari cakalele dan dana dana.

 

Drama musik itu bukan sesuatu yang jadi begitu saja. Ia sesuatu yang dicari, didialogkan, dibentuk, dikomposisikan. Dan untuk mengorkestrasi pertemuan dan perpaduan antara yang asali dan kontemporer, yang amatir dan profesional, ritus adiluhung dan hiburan kekinian, Pemda Halmahera Barat bekerjasama dengan Eko Supriyanto, koreogrfaer lulusan UCLA Amerika Serikat dengan pengalamannya pernah berkolaborasi dengan musisi-musisi kenamaan seperti megadiva Madonna, konsultan dalam Lion King karya Julie Taymor untuk memajukan pariwisata daerah Halmahera Barat.

 

Sehingga terciptlah komposisi gerak, bunyi, cahaya, dan narasi menjembatani masyarakat Halmahera Barat menyusuri kembali akar-akar kebudayaannya yang adiluhung dan sekaligus merepresentasikannya pada kehidupan kontemporer. Rumah Sasadu yang menjadi warisan arsitektural suku Sahu di masa-masa yang jauh bukan lagi rumah yang diperlakukan selayaknya benda museum yang tak tersentuh; melainkan sebuah semangat yang tetap hadir, dekat, dan mengikat kehidupan bersama yang dijalankan saat ini. Rumah Sasadu beratap daun sagu yang ditopang pilar tanpa dinding menjadi piranti budaya penting mempertemukan keragaman suku di Halmahera Barat dalam satu ikatan harmoni yang dibangun dengan tetabuhan musik, hentakan tari, keanggunan kostum, dan siraman cahaya.

 

Kehadiran Sasadu di panggung atas laut juga menegaskan bahwa daratan dan lautan; agraris dan bahari; semangat budaya dan kesejahteraan ekonomi; masa lalu dan masa depan bukan sesuatu yang mesti dipertentangkan, tapi kenyataan yang perlu diiringkan dan dipadukan. Oleh, Sasadu dipinjam sebagai ”rumah” bagi sebuah kisah pengembaraan seorang anak Halmahera Barat menjumpai dunia luar hingga akhirnya kembali dan membangun negeri.

 

Untuk mengerjakan drama musikal 1.5 jam itu, Eko Supriyanto membangun tim. Bukan semata untuk kepentingan panggung semalam itu, melainkan proses pembelajaran yang panjang untuk 250 penari yang terdiri dari remaja-remaja Jailolo. Melatih ratusan penari amatir yang diseleksi dari siswa SMP dan SMA di Halmahera Barat adalah jalan pendidikan awal untuk terbitnya fajar renaisans kebudayaan di Jailolo. Talenta-talenta muda muncul dari sini. Sebut saja nama Veyndi Dangsa dan Simon Tobelo. Keduanya mampu mengekspresikan gerak warisan masa silam yang perlahan redup menjadi gerak dinamik kekinian di atas panggung.

 

Pemda Halmahera Barat memberikan dukungan seratus persen pada gagasan-gagasan Eko dan para seniman prosesional dan berpengalaman mengelola pergelaran kolosal seperti Oleg Sanchabakhtiar dan Dimas Leimena, sehingga terciptalah penampilan kehidupan baru Halmahera Barat; bahwa Sasadu On The Sea bukan kisah tentang orang Sahu belaka, melainkan representasi kehadiran suku-suku adat di Halmahera Barat, seperti Tobaru, Wayoli, dan Gamkonora.

 

Untuk mencapai kesepahaman itu Eko menempuh proses dialog yang panjang dengan masyarakat setempat. Untuk memadukan gerak kontemporer dengan gerak warisan beberapa suku, seperti cakalele dari Tobaru yang dimainkan di rumah budaya Sasadu, Eko perlu menemui para pemangku adat untuk “izin”. Jalan menuju kesepahaman itulah menjadikan drama musikal ini bukan semata soal hiburan dalam Festival Teluk Jailolo, melainkan metode kebudayaan untuk berdialog lewat sarana dan perangkat yang melekat pada adat secara turun-temuran.

 

Tak mengherankan kemudian pergelaran ini mendapatkan partisipasi yang tak terduga dari masyarakat. Panggung permanen di atas laut yang berukuran 20 m x 14 m dengan tinggi sekira 11 m untuk menampung ratusan penari itu dikerjakan secara gotong-royong oleh masyarakat setempat.

 

Lewat “Sasadu On The Sea”, Sasadu yang berasal dari desa adat Sahu menjadi ”halaman terdepan” dan digeser sebagai cara masyarakat Halmahera Barat untuk berinteraksi dengan dunia luar. Sebuah kultur kolektif, ramah, dan terbuka pada setiap denyut perubahan yang dipupuk dari “Rumah Bersama” bernama Sasadu yang kini berdiri anggun di tepian air Teluk Jailolo.

 

 

 

1 Comment

  1. ameblo.jp says: - reply

    Thanks for another magnificent article. The place else could anyone get that kind of info in such a perfect method
    of writing? I’ve a presentation subsequent week, and I’m
    on the look for such information.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *