Sunyi (1)

Sunyi itu mungkin menakutkan, jika dilihat dari kejauhan. Tapi,  coba, sesekali kita berani memasuki pusarannya. Diam dalam kesendirian, diam dalam keramain, diam dalam gelap malam, diam dalam cahaya terang, diam dalam gerak, diam dalam diam, diam dalam hening, dan diam merasai tubuh sendiri.

Disitu kan terdengar suara. Suara yang muncul dari  tubuh kita sendiri.  Suara detak jantung. Suara tarikan nafas. Suara gemericik perut. Suara geraham gigi. Suara darah mengalir.  Suara kentut dan suara-suara lain.Jika sekali masuk, masuklah, teruslah masuk, tanpa bicara atau membicarakan apapun tentangnya

Semakin dalam memasukinya, semakin kan terdengar alunan suara-suara tubuh itu mengalun lembut, bak simponi yang merdu, yang memancarkan berbagai getaran rasa yang bisa dicumbui.  Suka-sedih-getir-manis-asam-kecut, yang semuanya tak bisa terkatakan oleh bahasa bibir.

Mungkin, satu-satunya yang terkatakan adalah  bahasa air mata. Tapi, entah, air mata apa itu, apakah wujud dari kesedihan atau kebahagiaan? Semua tak bisa dikenali oleh nama.Kecuali nama kata rindu. Rindu akan ruang ini, ruang di mana aku bisa berintim dengan diriku sendiri.

 

 

1 Comment

  1. You can certainly see your expertise within the article you
    write. The sector hopes for even more passionate writers like you who aren’t afraid
    to say how they believe. Always go after your heart.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *