UPACARA (II)

 

okIMG_0757 (209x300)

Suara getang dan giring-giring sudah berpadu dengan irama musik yang lain. Lembut dan harmonis suaranya. Iramanya naik turun sesuai kehendak dan suasana Balian.

 

Upacaranya dimulai dengan pencarian roh yang dipimpin oleh Basir dengan alat-alat istimewa. Destar dipasang kepala. Kalung tergantung di leher. Kalung kekayuan dan taring binatang tertentu dianggap punya kekuatan gaib. Sumbang sawit, namanya.

 

Kedua tangan memakai sepasang gelang logam yang dinamai getang. Gemerincing dan berdering kalau digerakkan. Lilin terus dinyalakan di atas kepala. Suara dan tarian sinden terus didendangkan.

 

Berbagai sesaji tergelar. Sesaji itu bermacam rupa isinya, ada lemang, kain digantung di dinding, hati ayam direbus dan ditancapkan pada beberapa lemang, darah ayam, darah babi, berbagai macam bunga, akar-akaran dan dedaunan, arang dari akar-akaran, air, timba, anding, keranjang dari anyaman bambu, ayunan dari rotan, mangkuk dan lilin, beras, sepasang ayam jantan dan betina juga telur yang digantung pada dinding rumah orang yang sakit.

 

Pencarian roh terus dilanjutkan oleh Basir, mengaca ke sana-sini, mengaca dengan lambing telapak tangan. Gerakan Basir mengisahkan perjalanan yang sengit dalam pencarian roh si sakit.

Dalam kepercayaan mereka, sakit itu diakibatkan oleh rohnya yang hilang, disekap oleh Tonoy[9] yang marah.

Istana tempat penyekapan roh itu terletak di suatu dataran yang lebih dalam, di sebuah peti tembaga tujuh lapis. Kuncinya harus diperebutkan, diambil, dicuri atau dirampas. Tugas Balian tentu tidak ringan, membukanya dan merebut roh yang terkurung, membawanya pulang. Mengembalikan ke wadag menjadi sukma yang sehat.

Willy mengusap-usap mata, tak percaya sekaligus ngeri. Ia melihat seorang ibu di depannya, dengan penyakit semacam bisul besar dan bernanah. Basir menjilat bisul itu, membedahnya, membuang nanah busuk di dalamnya. Lalu seketika sembuh. Tak ada bekas, tak ada. Tak sedikit pun tersisa bekas luka. Memang ajaib. Tapi nyata. Benar-benar sembuh. Lalu para penonton bersorak-sorai. Basir dielu-elukan kesaktiannya.

 

”Bagaimana Basir itu bisa begitu sakti sedemikian rupa?” tanya Willy dalam benaknya. Dalam hatinya, ia juga ingin bisa mempelajari ilmu pengobatan Balian itu. Tetapi itu tidak mungkin, pikir Willy. Tidak sembarang orang bisa menjadi Balian. Seseorang menjadi Balian karena sudah ditentukan atau dipilih para leluhur.

 

Para Sinden lalu mengakiri upacara dengan lele, nyanyian pelepasan yang hanya satu nada dan satu kata. Bersahut-sahutan lama, panjang sekali sebagai tanda acara Balian telah usai. Lalu dipasang tanda-tanda di sekitar Lamin, sebagai pemberitahuan kepada orang-orang di luar agar menghormati masa-masa pantang.

Pagi-pagi, satu persatu para penonton pulang. Willy dan teman-temannya pun cepat cepat bergegas pulang. Semalaman ia menginap di kampung Sungai Lunuk itu. Ia dan keempat kawannya tidak ada yang berani pulang malam. Sebab jarak Batang atau Lamin yang terletak di Sungai Lunuk, tempat upacara itu, berjarak 30 kilometer. Melewati kebun karet, pepohonan hutan belukar.

 

”Bagaimana Basir itu bisa sakti begitu, ya?” Willy membuka obrolannya di tengah perjalanan ketika memasuki hutan belukar.

 

“Saya bilang apa,” ucap Markus dengan berlagak. ”Kita harus bisa mempelajarinya,”

 

“Apa kalian mengerti apa yang diucapkan oleh basir saat ada kesurupan?” tanya Markus seolah memberi tebakan.

“Tidak,” jawab mereka serentak.

“Itu mantra,” ucap Markus dengan yakin. ”Mantra memanggil roh leluhur. Mantra memanggil arwah,”

Bibir Markus komat-kamit, mencoba menirukan ucapan dan gaya tubuh Basir. meliuk-liukan tubuhnya seolah hendak terbang saat kesurupan.

“Markus, diam kau,” teriak Dedy yang sedari tadi membisu. “Jangan kau berulah macam-macam,” Dedi mengingatkan.

Markus terdiam. Kaget mendengar hentakan Dedy.  Bola matanya melirik ke kanan dan ke keri sambil mematung. Sesaat hening, bersama sepinya hutan. Bulu kuduk mereka tiba-tiba mulai merinding.

 

“Kalian merasakan sesuatu?” tanya Willy kepada keempat kawannya.

 

Dedy mengangguk. “Iya, aku merasakan. Seperti ada orang bertubuh besar yang sedang mengamati kita,” ucap Dedy dengan suara lirih.

“Coba kita berhenti lalu menoleh ke belakang sama-sama ya,” ucap Willy. ”Pada hitungan ketiga kita menoleh ke belakang!”

“Satu.. dua…tiga!”

Serentak mereka memalingkan kepala mereka ke belakang. “Tidak ada siapa-siapa,”ucap mereka serentak.

Mereka menarik nafas lega. Lalu melanjutkan perjalanan. Baru beberapa langkah, Willy kembali merasakan sesuatu. Semacam ada bayangan yang membuntutinya dan mengamati gerak-gerik mereka semenjak masuk hutan.

Untuk kedua kalinya, Willy menghentikan langkah. Keempat kawannya pun turut berhenti.

“Kau merasakan sesuatu, Dedy?”

Dedy mengangguk.

“Kau, Markus?”

“Iya, sama,”

“Beng, Henry?”

“Iya. Iya,” ucap mereka pelan sambil mengamati pepohonan yang tinggi mungkin sepuluh kali tinggi mereka.

Willy menarik napas panjang, mencoba mengosongkan pikirannya. “Jangan ada yang takut. Biarlah mereka mengikuti kita selama mereka tidak menganggu kita. Ayo, kita harus melangkah lebih cepat lagi,” ucap Willy seraya mempercepatkan langkahnya.

****

Kisah ini merupakan bagian dari buku  MEMERDEKAKAN MURUNG RAYA;  Sebuah biografi Dr. Ir. Willy M Yoseph.

0 Comments

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *