10 Tahun Wakatobi, 10 Top Destinasi Pariwisata Indonesia 2016

 

 20160413 Update Paparan 10 Destinasi.rev2_013

 

Visi yang nyata dalam benak

mimpi yang terpahat kuat dalam hati

akan menjadi  kenyataan pada saatnya

–Ir. Hugua

(1)

 

2006, Wangi-wangi.

Setelah pelantikan yang tertunda selama sembilan bulan sepuluh hari, akhirnya Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi meneguhkan Hugua menjadi bupati Wakatobi periode 2006-2011. Tepuk tangan menggemuruh dari para pegawai dan masyarakat yang memenuhi gedung wanita Wangi-Wangi. Mereka  menyaksikan lahirnya pemimpin baru mereka di seantero Wakatobi. Sebuah kepulauan yang begitu lama tak terurus.

Usai penobatannya, Hugua langsung mengajak Gubernur Ali keluar meningalkan orang-orang yang masih asyik bercengkrama di ruangan. Ia seakan tak mempedulikan ucapan selamat yang ditujukan kepadanya.

“Pak, mari ikut saya,” ajak Hugua pada Gubernur Ali.

“Ke mana kita?”

“Mari kita ke lapangan, mencari lokasi bandara untuk Bapak resmikan.”

“Lokasi Bandara?” tanya Ali Mazi menyakinkan pendengarannya atas ucapan Hugua.

“Iya,” Hugua menjawab dengan yakin.

Meski setengah meragukan ide Hugua, Ali Mazi tetap mengikuti langkah kaki Hugua keluar menuju parkir mobil. Orang-orang di gedung Wanita pun kebingungan melihat Bupati Wakatobi dan Gubernur Sulawesi Tenggara keluar ruangan, yang ternyata tidak menuju rumah jabatan.

Kepada sopirnya, Hugua meminta untuk membawa mereka berkeliling ke luar kota Wangi-Wangi di mana dulunya daerah ini masih berupa hutan. Ketika mobil melintasi hamparan luas yang dipenuhi rimbunan pepohonan di area Desa Komala, Gubernur Ali berkata, ”Lokasi ini barangkali cocok untuk bandara.”

“Iya, ya. Barangkali ini cocok untuk sebuah bandara. Ayo kita turun,” seru Hugua.

“Kita berhenti di sini, Dik!” ucap Hugua meminta sopir berhenti.

Mobil pun menepi.

Kedua lelaki berbadan tinggi tegap dengan seragam putih-putih itu kemudian turun dan berdiri tegak memandang hamparan hutan di depannya, lalu saling menatap dan tertawa bersama.

“Lalu bagaimana acara peresmian peletakan batu pertama bandara ini?” tanya Gubernur Ali.

“Bapak tentukan lokasi bandaranya dulu setelah itu saya akan cari batu di sekitar sini.”

“Oke, di sini!,” seru Gubernur Ali sembari menunjuk lahan yang masih dipenuhi barisan pepohonan dan semak-belukar.

Hugua mengangguk, menyetujui lokasi yang ditentukan Gubernur Ali. Hugua kemudian mengangkat batu seukuran 10 kali kepalan dan diberikannya pada Gubernut Ali. Tidaklah sulit untuk menemukan batu di sekitar lokasi itu. Karena tanah Wakatobi adalah tanah berkarang dan berbatu.

“Di letakkan di mana batu ini?” tanya Gubernur Ali lagi ketika mengambil alih batu dari Hugua.

“Letakkan di mana saja, terserah Bapak?”

“Apa nama bandara ini?”

“Saya tidak tahu apa namanya. Bapak kasih nama apa saja. Terserah.”

“Tapi bagaimana cara peresmian peletakan batu bandara ini?”

“Bapak letakkan batu itu sebagai simbol peresmian batu pertama bandara lalu kita tepuk tangan,” ucap Hugua memberikan arahan sembari tertawa renyah.

“Oke! Oke!”

Gubernur Ali kemudian meletakan batu itu sebagai tanda peresmian peletakan batu pertama pembangunan bandara Wakatobi. Bupati Hugua kemudian bertepuk tangan dan diikuti Gubernur. Kedua lelaki berseragam putih itu seolah-olah telah meresmikan peletakan batu pertama pembangunan bandara Wakatobi dengan dihadiri ratusan hadirin dan para wartawan di depannya.

“Jadi acara peresmian peletakan batu pertama pembangunan bandara sudah selesai?” tanya Gubernur Ali.

“Iya, Sudah,” jawab Hugua

Sembari menuju mobil, Gubernur Ali Mazi masih menahan tawa. “Kita ini lucu ya. Meresmikan bandara seperti sedang bermain-main acting.”

“Ah, tidak!” jawab Hugua. “Kita tidak sedang bermain-main acting. Apa yang Bapak resmikan hari ini akan menjadi kenyataan nanti.”

“Oh, begitu?”

Iya. Bung Karno mengajarkan pada kita untuk menyatakan kemerdekaan terlebih dahulu, setelah itu baru kita isi kemerdekaan. Artinya, kita nyatakan pembangunan bandara Wakatobi dengan meresmikan peletakkan batu pertama ini terlebih dahulu, baru nanti kita pikirkan langkahnya.”

 

Oh begitu?” ucap Gubernur Ali kembali.
“Iya. Itu filosofi hidup pertama,” ucap Hugua sembari diiringi tawanya yang khas. Renyah.

                                                                                                                                                                        

(2)

 

DSC_8584

Foto oleh Dewi Nurcahyani

Akhirnya, berita rencana pembangunan bandara Wakatobi dengan anggaran APBD itu menyebar. Namun, tak satu pun yang mendukung program Hugua saat itu. Hampir 90 persen masyarakat menolak. Mereka menganggap ide Hugua terlalu berlebihan. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Wakatobi, daerah yang sepi, yang penduduknya saja meninggalkan tanah kelahirannya karena tidak ada sumber mata pencahariannya, bisa dibangun sebuah bandara. Lalu siapa yang akan menaiki pesawat itu? Masyarakat tidak akan mampu membeli tiket pesawat.

Semua Anggota DPRD Wakatobi  pun menolak gagasan pembangunan bandara itu. Mereka beranggapan bahwa membangun bandara di daerah, khususnya daerah terpencil, umumnya karena ada perusahaan asing yang sedang mengelola sumber daya alam yang dimiliki oleh daerah tersebut. Sementara apa yang dimiliki Wakatobi? Wakatobi tidak menyimpan kekayaan yang bisa menarik para investor atau pemerintah untuk membangun infrastruktur bandara. Tanahnya kering dan berkarang. Tidak bisa ditumbuhi tanaman. Kecuali tanaman jagung dan ubi kayu. Kedua tanaman itu pun belum tentu bisa hidup bila tidak ada kebaikan langit menurunkan hujan.

Karena beberapa alasan itu, masyarakat Wakatobi dan Anggota DPRD menolak rencana pembangunan bandara. Setiap hari kantor bupati dan rumah jabatannya ditongkrongi ratusan masyarakatnya. Laki dan perempuan. Dewasa dan anak-anak. Mereka berdemo, berteriak, memaki Hugua dengan sebutan “Bupati GILA”. Mereka juga menghunuskan parang untuk menghentikan langkah Hugua.

 

Meski mayoritas masyarakat dan pejabat daerah tidak menyetujui, meski jabatan dan nyawanya terancam, ia tetap bertekad untuk membangun bandara di Wakatobi. Sekilas, Hugua tampak otoriter, memaksakan keputusannnya tanpa menghiraukan suara rakyatnya. Namun, jauh di balik keputusannya itu, ia punya  alasan sendiri.

Pengalamannya sebagai anak kepulauan yang terisolasi; keprihatinannya pada kondisi kampung halamannya yang miskin dan dicap wilayah “merah” akibat tingginya angka kriminalitas; serta pengetahuannya tentang potensi kekayaan alam Wakatobi yang melimpah, membuat Hugua berkeyakinan bahwa membangun bandara adalah satu-satunya pintu untuk menghidupkan kampung halamannya.

Bandara itu, yakin Hugua, bisa menghubungkan Wakatobi dengan dunia luar dan membuka mata internasional bahwa Wakatobi adalah kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati bahari terbesar di dunia. Ia memiliki 750  jenis karang dari total 850 jenis karang yang ada di dunia (bandingkan dengan Carribean Amerika Latin yang  hanya memiliki 50 jenis dan Laut Merah Mesir hanya mmeiliki 300 jenis saja). Luas terumbu karangnya mencapai 180 ribu hektar. Jenis ikannya mencapai 942 jenis. Juga memiliki karang atol Kaledupa sepanjang 48 kilo yang merupakan atol tunggal terpanjang di dunia.

 

020_UWM_8623

Berakar pada realitas masalah dan potensi yang dimiliki kampung halamannya itulah Hugua menyusun sebuah peta harapan (visi) : “Terwujudnya Surga Nyata Bawah Laut di Pusat Segi Tiga Karang Dunia.”

 

“Surga nyata” adalah perwujudan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. “Bawah laut” maujud dari kemanfaatan dan kelestarian lingkungan atas potensi sumber daya laut. “Pusat Segi Tiga Karang Dunia” merupakan aktualisasi posisi geografis Wakatobi sebagai pusat segi tiga karang dunia yang memiliki keaneragaman hayati tertinggi di dunia.

 

Berdiri pada tonggak itulah maka kelautan dan pariwisata menjadi leading sector kepemimpinan Hugua. Pariwisata adalah kunci pembangunan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Pariwisata adalah salah satu kunci dalam pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur. Dan, dalam mimpi Hugua, Wakatobi akan menjadi tujuan wisata bahari (marine tourism) dunia.

 

Sayang, visi besar dan konsep pembangunan yang dikibarkan Hugua itu tidak mendapat respons positif dari pegawai dan masyarakat. Apalagi, langkah pertama yang diambil dalam kepemimpinan Hugua adalah membangun bandara di tengah kehidupan masyarakat dengan kondisi jauh dari hidup yang layak. Sampai di situ, Hugua makin tak terpahami.

 

Kata para pegawainya, pemikiran Hugua terlalu melangit. Kata masyarakat, Hugua itu lelaki gila. Dan apa tanggapan Hugua? Jalan terus segawat apa rintangan yang bakal menenggelamkannya. Apa pun makian dan cemooh yang dilemparkan padanya ia telan habis tanpa ampas. Apa pun ancaman dan fitnahan yang dilemparkan ke wajahnya dihadapinya dengan kepala tegak. Demi tanah tumpah darah, Hugua tak mundur.

 

Setelah menghadapi 184 kali demonstrasi dari masyarakat, dua tahun menjadi bupati “buronan” masyarakat, mendapat gelar “bupati gila” dari masyarakat, dan melewati perjuangan panjang yang berliku-liku untuk menyakinkan pemerintah pusat, akhirnya Wakatobi memiliki bandara perintis. Bandara ini mulai beroperasi tahun 2009 dengan penerbangan perdana maskapai Susi Air yang melayani rute penerbangan Wakatobi- Bau-bau dan Wakatobi – Kendari (PP). Bandara perintis yang dinamai Matahora ini kemudian menjadi “titik balik” penting dalam memajukan Wakatobi melalui pariwisata bahari dan keindahaan alam bawah lautnya.

 

1 Susi Air.Dullah.

(3)

Kini, Wakatobi genap  10 tahun Membangun.

Sebuah perubahaan tengah hadir di sana. Pola pikir masyarakatnya telah berubah. Dari masyarakat yang apatis menjadi masyarakat optimistis. Rasa bangga masyarakat pada kampung halamannya tumbuh; dari tradisi masyarakat merantau menjadi masyarakat yang mencintai pulau dan mau tinggal di dalamnya.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat menggeliat. Dari hanya bertumpu pada profesi nelayan dan petani kebun, kini melebar pada profesi jasa, pengusaha, dan politisi. Kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat juga meningkat. Dari rumah papan reyot berganti rumah tembok. Dari hanya mengenal kasuami, kini mengenal singkong bakar cokelat-keju

AHMAD NIZAR_h

Tingkat dan kualitas pendidikan masyarakatnya juga meningkat. Dari hanya lulusan SMP-SMU kini telah muncul para sarjana dan doktor. Dari hanya memiliki sekolah berjenjang tingkat SMU, kini di Wakatobi telah hadir universitas dengan konsentrasi pada dunia konservasi kelautan dan pusat pengkajian dan penelitian kelautan berkelas internasional.

 

Penataan infrastruktur sebagai pijakan dasar kota modern yang lestari juga terbangun dengan baik. Kebudayaan lokal sebagai pijakan nilai dan tatanan sosial masyarakat juga dihidupkan dan diletasrikan kembali.

Sebuah peradaban surgawi yang dimimpikan Hugua kini berjalan di atas treknya yang benar di Wakatobi. Peradaban surgawi adalah pembangunan yang tak sekadar  bertumpu pada pembangunan fisik sebagai indikator kesuksesan, melainkan berpijak pada pembangunan bentang pikir dan transformasi mental masyarakat sehingga tumbuh masyarakat yang berbudaya.

Masyarakat berbudaya adalah masyarakat yang memiliki cara pandang dan kesadaran diri untuk berterima kasih kepada Tuhannya; berterima kasih kepada alam semesta dan kepada sesama manusia. Manusia berbudaya adalah manusia yang mengerti dan percaya pada energi semesta ini yang mewujud pada kecintaan pada Tuhan yang terekspresikan dalam ragam agama. Manusia jenis ini memahami bahwa segala ciptaan di bumi ini harus dilindungi. Bukan saja memberikan penghormatan pada manusia dan kehidupannya, tapi juga bertakzim pada kehidupan pepohonan, ikan-ikan, terumbu karang, keragaman hayati, dan kebhinekaan budaya. Itulah wujud dari rasa berterima kasih atas sebuah kehidupan; sebuah peradaban surgawi. Pandangan pandangan ini dipatri dalam dua buku dari sekian buku karangan  Hugua ; Surgaisme tawaran Ideologi baru dan kaya atau miskin adalah pilihan .

(4)

AMRULLAH PAEMBONAN_RUNNER UP1_c

Memang, visi saja tak cukup untuk mewujudkan harapan itu. Gagasan besar itu membutuhkan kaki yang kokoh lewat sebuah perjuangan. Komitmen dan integritas diri juga menjadi syarat mutlak. Apalagi, Wakatobi merupakan daerah kepulauan dengan medan sulit karena aksesibilitasnya masih tertutup. Otak yang cemerlang saja tak cukup untuk menjangkau Wakatobi hingga ke ceruk-ceruk terdalamnya. Dibutuhkan mental baja dan otot yang prima.

 

Dan, Hugua telah membuktikan itu. Tapak demi tapak, Hugua mewujudkan peradaban surga di Wakatobi itu menjadi sebuah kenyataan dengan membuat program-progam yang mengarah pada keseimbangan antara melestarikan keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi, dan penghormatan pada gerak ritmis kebudayaan.

Ia tampil sebagai pemimpin kapitan. Pemimpin yang tumbuh dan berkembang dari bawah. Ia pemimpin yang bukan didrop dari atas. Jiwa kepemimpinannya telah dipupuk sejak kecil. Pengalaman hidup “pahit” di masa kecilnya telah menempanya menjadi sosok yang tak gampang doyong dan memiliki mimpi jauh ke depan. Hugua adalah pemimpin visioner.

Visinya telah teruji oleh kenyataan di lapangan. Pariwisata dan kelautan yang menjadi leading sector kepemimpinannya telah mampu mengangkat nama Wakatobi,kepulauan yang sepi dan tak dikenali itu, menjadi salah satu kawasan tersohor dan mampu mengangkat kesejahteraan masyarakatnya.

Hanya dalam waktu satu dekade, nama Wakatobi telah diakui secara nasional dan internasional.

 

Di mata internasional, Wakatobi telah dikukuhkan sebagai kawasan Cagar Biosfer Bumi melalui sidang ICC – MAB ke-24 di Kantor Pusat UNESCO Paris pada 11 Juli 2012. Cagar biosfer adalah suatu kawasan ekosistem unik yang keberadaannya diakui dunia internasional sebagai bagian dari program Man and Biosphere dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

FGD PERCEPATAN 10 DESTINASI INDONESIA_012

Zona inti cagar Wakatobi adalah kawasan Taman Nasional Wakatobi yang telah ditetapkan sebagai taman nasional pada 1996 dengan luas 1.390.000 hektar. Kawasan ini terdiri dari 142 pulau, 3 gosong, serta 5 atol. Dan, saat ini, UNESCO telah menetapkan 11 wilayah di Indonesia sebagai cagar biosfer, antara lain kawasan Cibodas, Tanjung Puting, Lore Lindu, Pulau Komodo, Pulau Siberut, Gunung Leuser, Giam Siak Kecil – Bukit Batu, Taman Laut Wakatobi, Takabonerate, dan Semeru Tengger

Setelah satu dekade pembangunan, posisi Wakatobi kini setara dengan sejumlah kota terkemuka di dunia dalam pengelolaan pembangunan dan  lingkungan yang lestari. Sebut saja Melbourne di Australia, Paris di Perancis, Barcelona di Spanyol, Napoli di Italia, Philadelphia di Amerika, Hamamatsu di Jepang, dan Seoul di Korea Selatan.

Selain menjadi cagar biosfer bumi, Wakatobi juga dikukuhkan sebagai salah satu kawasan dari enam negara yang menjadi pusat segitiga karang dunia, yakni  Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

FGD PERCEPATAN 10 DESTINASI INDONESIA_019

 

Sebagai salah satu kawasan yang menjadi pelopor (champion) dan sekaligus tuan rumah pertemuan para bupati pesisir dari 6 negara pada tahun 2011, Wakatobi berkomitmen membangun dan menjadi garda depan konservasi karang dunia secara kolektif sebagaimana tertuang dalam Komunike Wakatobi yang ditandatangani oleh perwakilan 6 negara . Bahkan, dari beberapa kali pertemuan internasional—mulai dari pertemuan yang digelar di Manila, Ambon, Buleleng, dan terakhir di Wakatobi—kabupaten tepian air ini dipercaya oleh 6 negara kawasan segi tiga karang dunia sebagai ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Maritim 6 negara CTI (Local Government Network / LGN-CTI)  dalam rangka mendorong partisipasi button up planning di kawasan coral triangle initiative (CTI).

 

Wakatobi juga menjadi salah satu anggota UNACLA (United Nations Advisory Committee of Local Authorities). UNACLA adalah badan Adhok penasehat PBB yang beranggotakan 40 bupati/walikota/gubernur terpilih. Bupati/Wali Kota yang tergabung dalam UNACLA bertugas memberikan nasehat kepada direktur UN HABITAT yang berpusat di Nairobi, Kenya, atas ragam soal daerah dalam upaya mewujudkan target Millenium Development Goals (MDGs) yang sekarang berubah menjadi Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Sejak  Tahun  2011, Wakatobi  mendapat keistimewaan di mata dunia internasional setelah Hugua terpilih menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia dalam Komite Eksekutif Daerah atau REC (Regional Executive Committee) dan Dewan ICLEI (International Council for Local Environmental Initiative) atau Dewan Internasional Penginisiasi Pembangunan Berkelanjutan di Daerah. Hugua juga menjadi salah seorang Anggota Biro Council Member UCLG – ASPAC (united cities local government  asia Pasifik) satu-satunnyas organisasi pemerintah Daerah tinggkat dunia yang diakui oleh PBB. Hugua juga pada tahun 2014 -2016, dinominasikan oleh VNG Belanda  sebagai anggota tetap UCLG CIB Working Group mewakili Asia Pasifik. Organisasi ini beranggotakan 9 Bupati/Waliokota yang bertugas mempromosikan mengenai eksistensi dan peran otonomi derah pada semua pemangku kepentingan di semua tingkatan.

 

Hugua banyak diberikan kehormatan untuk tampil sebagai pembicara pada forum Interrnational yang antara lain  pada Konggres ICLEI pada 2015 yang diselenggarakan dari 8 hingga 12 April 2015 di Seoul, Korea Selatan. Demikian juga pada Konferensi Urban Mobiditi di Johanesburg dan terakhir Pada Kongres Cagar Biosfir ke 4  di Kota Lima Peru pada tgl 14 – 17 Maret 2016.  Pertemuan- pertemuan itu mengangkat tema-tema utama: “Solusi Pembangunan Berkelanjutan untuk Masa Depan Perkotaan dan daerah Dunia”.

Wakatobi juga menjadi jalur emas dalam pergerakan kapal-kapal yacth internasional. Saat ini Wakatobi menempati posisi penting karena Hugua dipercaya sebagai Ketua ASWINDO (Assosiasi Sail Wisata Indonesia).  Sebuah organisasi yang beranggotakan 40 pemerintah  Dearah tujuan Wiasata Yacht  dan 4 buah Pemilik Pelabuhan Marina . Tugasnya  antara lain mengatur pergerakan kapal dan mengatur segala hal yang berkaitan dengan dokumen kapal-kapal yacht yang masuk ke perairan Indonesia. Memanfaatkan peluang ini, pemerintah Wakatobi telah membangun Marina yang nantinya digunakan untuk dermaga kapal-kapal yacth milik wisatawan asing. Sudah bisa diraba, dermaga ini memberikan sumbangan pendapatan asli daerah yang nilainya mencapai miliaran rupiah per tahun dan juga membuka lapangan kerja dan memperbesar peluang sumber pendapatan masyarakat Wakatobi.

Secara nasional, Wakatobi juga meraih beragam penghargaan, seperti Indonesia Government Award, Citra Bhakti Abdi Negara, Satya Lancana Pembangunan, International Leadership, World Wildlife Fund Award, Indonesia Tourism Award, Metro TV MDG’s Award, Best Indonesia Grand City Award, Penghargaan Khusus Bandara Award (Kelas Tiga).

Dan yang paling membahagiakan, Wakatobi kini ditetapkan sebagai 10 Destinasi Pariwisata Prioritas 2016. Apa arti menjadi 10 Destinasi Pariwisata Prioritas 2016-2019? Wakatobi, bersama 9 daerah lainnya, seperti Mandalika, Danau Toba, Borobudur, Labuhan Bajo, Bromo-Tengger-Semeru, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Kelayang menjadi titik fokus percepatan pembangunan kepariwisataan nasional pada pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla.

AMRULLAH PAEMBONAN_RUNNER UP1_i

Ditetapkannya Wakatobi sebagai salah satu dari 10 Top Destinasi Pariwisata oleh Pemerintah Pusat merupakan “hadiah besar” bagi Hugua tepat di akhir kepemimpinannya di tahun ke-10. Tentu, Hugua sangat bahagia karena mimpinya menjadikan Wakatobi sebagai kota maju dan destinasi wisata yang berdaya tarik internasional setapak demi tapak terwujud dengan penetapan itu. Hugua yakin bahwa dengan masuknya salah satu destinasi unggulan ini maka akan sangat signifikans peranya dalam mendukung pencapaian target nasional yaitu pada tahun 2019 angka kunjungan ke Wakatobi mencapai 500,000 orang dengan nilai devisa US$  satu juta.

Kini, tak hanya masyarakat Wakatobi yang merasakan manfaatnya, tapi  seluruh daerah di Sultra pun mendapat tuahnya, seperti berita yang santer beredar pada media online yang dipublikasi oleh Bapak Don Kardono,  staf Ahli Menteri Pariwisata “ Beli satu dapat tiga”. Beli  wakatobi dapat Pulau Buton, Pulau Muna, Pulau  Kabaena,  Pulau Wawonii dan seluruh daratan Sulawesi Tenggara.

Artinya, Wakatobi kini telah hidup. Kehadirannya telah memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakatnya, perekenomian daerah Sulawesi Tenggara, dan perekonomian nasional.

Wakatobi kini telah menjadi inspirasi pembangunan kemaritiman dan pemicu pertumbuhan Kawasan Timur Indonesia.

Dan jangan dilupakan, keberhasilan Wakatobi itu merupakan gabungan dari desain kekuatan visi yang dipahatkan oleh pemimpin dan karakter yang berani menempuh risiko untuk menerabas tantangan dalam proses perwujudannya. Visi yang dijunjung tinggi dalam benak, mimpi yang dipahat dalam hati menjadi sebuah kenyataan di suatu hari. Sebab jika seseorang menginginkan sesuatu, dan seseorang mulai melangkah, saat itulah seluruh alam semesta bersatu mewujudkannya.

 

Inilah sebuah kisah peradaban surga di Wakatobi yang diperjuangkan Hugua. Ia datang dari bawah dengan semangat merawat alam, menjaga budaya, dan memberi ruang hidup untuk kebahagiaan manusia. Alam, budaya, dan manusia adalah tiga entitas penting yang tak bisa dipisahkan dalam konsep pembangunan Surgawi Hugua.***

DSC_9334

Ayu Arman (penulis) dan Ir Hugua (Bupati Wakatobi 2006-2016)

4 Comments

  1. aiz dwi alam says: - reply

    Luar biasa

  2. Diki Donker says: - reply

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai “10 top destinasi pariwisata indonesia2016”. “yoi, ternyata makin banyak yah pariwisata yang ada di indonesia”.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di sini

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *