Yang Berumah di Ketinggian Indonesia

 

Haru meluap saat melihat hamparan kabut putih menyelimuti barisan gunung yang saling mengikat dan menguatkan. Serupa gelombang karpet hijau raksasa, gunung-gunung itu menghampar di sisi jendela pesawat Air Fast yang membawa saya menuju Ilaga—ibukota kabupaten Puncak Papua. Saya memasuki Ilaga dan perkampungannya di ketinggian dari mega-mega.

 

 

Mata saya menumpahkan air haru bukan lantaran melihat pemandangan alam gunung yang megah. Juga bukan lantaran ketakutan karena  sang pilot membawa pesawat perintis  menyelip pada lekukan gunung-raksasa itu. Mata saya sembab lantaran rekaman memori dari beberapa narasumber yang saya wawancarai tentang perjalanan hidup Willem Wandik—saat ini menjabat bupati Kabupaten Puncak—berkelebat dalam layar pikiran.

 

Foto Dewi Nurcahyani

 

Mereka bercerita bagaimana  Willem—dan penduduk pegunungan Puncak Papua lainnya—harus berjalan kaki menembus belantara hutan, menaiki dan menuruni gunung-gunung selama 2-4 hari tanpa alas kaki dan tanpa busana memadai sebagaimana penduduk kota ketahui dengan menahan hawa dingin salju abadi untuk menuju satu kampung ke kampung, dari satu distrik ke distrik, dan ke kota kabupaten lain hanya untuk bisa bersekolah.

Ilaga adalah  jantung Papua. Ia  terletak pada ketinggian 2.309 Mdpl di atas permukaan laut. Hunian tertinggi di Indonesia.  Ia dibentengi rimba raya dengan ragam hayati dan dikuatkan delapan pasak gunung.

 

Gunung-gunung itu di antaranya adalah Gunung Cartensz bersalju es abadi—salah satu idaman para pendaki dunia karena termasuk The Seven Summit. Adapula Gunung Garsbeng berisi emas, Gunung Kelabo, Gunung Gergaji, Gunung Jawubuk, Gunung Meja, Gunung Jeloa. Tak ketinggalan tebing-tebing dan perbukitan landai yang membentuk sebuah pemandangan magnetis.

 

Gunung Cartenz. Foto Dewi Nurcahyani

 

Setiap gunungnya menyimpan daya magnet energi dan misteri alam yang belum teraba. Gunung Meja misalnya, memiliki sumber mata air yang mengaliri wilayah Papua bagian tengah. Di atasnya terdapat kolam mata air yang diyakini menjadi penawar ragam penyakit. Perut Gunung Kelabo dan Jawubuk juga dipercaya mengandung tembaga dan emas seperti Gunung Garsbeng.

 

Gunung Meja. Foto Dewi Nurcahyani

 

Seharusnya tak ada sedikit pun celah yang sulit bagi penduduk yang tinggal di atas puncak gunung ini. Jika mereka lapar, tanah mereka memberi segala makanan. Buah-buahan dan sayuran melimpah. Jika mereka haus, mata air memberi minuman berkelas. Jika mereka sakit, apotek alam tersedia. Seperti daun gatal yang ditunjukkan Kepala Suku Damal kepada saya yang jika sekali teguk satu bulir daun kecil itu seluruh penyakit gatal menghilang.

 

Daun hutan yang umumnya dijadikan obat gatal dan segala luka.

 

Sayangnya, kenyataan menjadi berkata lain Penduduk yang tinggal di bawah delapan kaki pegunungan Ilaga ini bergantung pada bahan dari luar. Kehidupan mereka menjadi luar biasa sulitnya.

Tak ada akses  pintu masuk-keluar untuk menembus daerah ini. Berpuluh-puluh tahun penduduk di hunian tinggi harus berjalan kaki berhari-hari menembus belantara hutan untuk menuju ke kota kabupaten lain, seperti Wamena, Nabire, dan Timika.

Satu-satunya moda transportasi yang bisa menembusnya hanyalah pesawat. Itu pun hanya pada pukul 6 hingga 11 siang. Itu pun hanya tiga celah  gunung yang bisa dilewati, yaitu celah Jelapass, Ilaga pass, dan U pass. Itu pun jika cuaca bagus. Jika tidak, daerah ini akan menutup diri. Kabut tebal  segera menyelimutinya. Gelap. Memasuki Ilaga kemudian seperti memasuki dimensi waktu dan ruang  tersendiri. Segalanya  tak terduga. Cuaca kerap tak bisa diprediksi oleh hitung-hitungan normatif sains. Segalanya harus tunduk pada aturan alam.

 

Foto Dewi Nurcahyani

Tertutupnya daerah ini membuat penduduk yang notabene adalah warga negara Indonesia juga, mengalami kesulitan akses informasi; kesulitan pelayanan kesehatan, pendidikan,  dan kesulitan ekonomi dan membuat segala kebutuhan bahan hidup menjadi supermahal.

 

Ilaga, tanah hunian tertinggi di Indonesia ini, ternyata bergaris lurus dengan tingginya biaya hidup. Di sini, sebungkus mi instan Rp10.000, dan sebutir telur Rp10.000.  Air mineral 600 milimiter Rp25.000. Lauk-pauk, ayam atau ikan, harus ditebus seharga Rp90.000 per kilogram. Sementara itu cabai dihargai Rp150.000 per kilo, dan minyak goreng Rp60.000 per liter.

Foto Dewi Nurcahyani

Bensin di Ilaga berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000 per liter. Harga semen per sak mencapai Rp2,5 juta. Sementara kayu dihargai Rp8,5 juta per m3. Alhasil, untuk membangun sebuah rumah yang masih terbilang sederhana di Ilaga, ongkosnya bisa mencapai Rp2 miliar. Tingginya harga barang-barang, menyebabkan kebutuhan dasar seperti infrastruktur, telekomunikasi, kesehatan, dan pendidikan pun minim.

 

Kepala Suku Damal. Foto Dewi Nurcahyani

Ada dua suku besar yang mendiami dataran tinggi ini. Suku Damal dan Dani.  Mereka umumnya tinggal di honai. Sebuah rumah berbentuk bulat, beratap rumput alang-alang dan berdinding papan kayu, tak berjendela, dan memiliki satu-satunya pintu untuk masuk-keluar. Berlantai tanah dan  di tengah ruang honai terdapat tungku api. Hanya honai yang cocok sebagai rumah nyaman bagi mereka yang hidup di daerah dingin seperti ini. Honai untuk kaum laki-laki dipisah dari honai untuk perempuan

 

Foto Dewi Nurcahyani

Aktivitas sehari-hari mereka tak banyak. Para lelaki bertugas membuka ladang dan mencari kayu bakar. Selebihnya, mereka hanya berkerumun dengan sesama lelaki dan mondar-mandir tak jelas.

Sementara itu, perempuan memiliki peran yang paling berat dalam kesehariannya. Mereka tak hanya mengurus anak-anak, tetapi juga mengurus babi, memasak, berkebun, berjualan, dan juga mencari kayu bakar. Istilah kata, semakin suami banyak harta, semakin besarlah  beban sang istri.

Foto Dewi Nurcahyani

Bertahun-tahun mereka hidup dalam keterisolasian dan pola budaya macam itu. Secercah harapan baru muncul ketika Ilaga dimekarkan menjadi kabupaten definitif dari Kabupaten Puncak Jaya pada 2008. Willem Wandik adalah bupati definitif pertama (2013-2018) yang terpilih dari enam kandidat yang mencalonkan di pilkada 2011 silam.

 

Siapa Willem Wandik? Dia putra daerah pegunungan Ilaga yang berhasil tampil beda dari lingkungannya. Dia maju sebagai pejuang muda Papua yang untuk perubahan  dan kemajuan Papua.

Willem Wandik, Bupati Kabupaten Puncak-Papua 2013-2018

Masa kanak-kanaknya dihabiskan di Beoga, Ilaga. Praktis, mata beningnya merekam secara dalam kehidupan perdesaan yang terkurung dalam rimba raya. Bukan saja terisolasi dari informasi dan komunikasi, tapi juga perhatian. Daerah yang memiliki alam yang melimpah-limpah oleh kekayaan hutan dan dan pertambangan (emas, tembaga, dan lain-lain) ini mengidap penyakit laten: mandek dalam lingkar setan kemiskinan dan kegelapan di sepanjang malam bahkan siang (kabut hitam).

 

Kondisi itu menggugah kesadaran Willem untuk berani dan aktif menyuarakan percepatan pembangunan Papua lewat organisasi sekolah, kampus, adat, gereja, dan pemerintah.

 

Sejak remaja ia  tercatat sebagai aktivis pergerakan dan tokoh adat  muda pegunungan yang aktif menyuarakan pembangunan di Papua dan turut aktif menyelesaikan konflik-konflik adat di pegunungan Papua, khususnya perang suku, dan juga melakukan penginjilan di pedalaman pegunungan. Ia tahu persis kawasan kabupaten yang ia pimpin bukanlah medan yang biasa, melainkan medan yang memiliki tantangan alam yang sangat sulit luar biasa dengan karakter manusianya yang keras.

Di awal kepemipinannya, ia dihadapkan pada perang Suku Dani berhadapan dengan Damal yang memakan korban ratusan orang. Darah harus dibayar darah. Itulah aturan kedua suku ini.  Tercatat 300 orang tewas dan korban luka-luka 900 orang, termasuk korban dari kepolisian.

Perang suku yang dipicu konflik pilkada 2011 ini tercatat sebagai perang suku terbesar di Provinsi Papua. Hampir semua bangunan di Kota Ilaga ludes terbakar dan dihancurkan. Kota Ilaga rebah di tanah.

Ilaga yang masyarakatnya mewarisi ajaran kasih dari  para misionaris Barat ini kerap diselimuti teror kebencian dan ketakutan. Apalagi, daerah ini menjadi basis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sempurnalah!

 

Dua tahun Willem melakukan upaya rekonsiliasi antara kedua suku ini dengan menghadirkan pembinaan spiritual melalui lembaga Kemasyarakatan Adat dan Gereja serta membayar denda sesuai adat.

Paling tidak, Pemda Ilaga sudah mengeluarkan anggaran sekira Rp17 miliar untuk membayar per kepala orang yang menjadi korban dan disertai upacara bakar batu babi. Satu tradisi terpenting yang berfungsi sebagai ritus syukur, menyambut tamu, atau acara perdamaian setelah perang antarsuku.

Simbol-simbol dalam bakar batu babi mengandung nilai kehidupan yang menunjukkan adanya kesatuan setiap anggota, membangun relasi antara manusia dengan leluhur, roh-roh baik/pelindung, Tuhan dan manusia, serta bentuk pelestarian cara hidup.

Senyum anak-anak Ilaga. Foto Dewi Nurcahyani

 

“Perang suku tidak akan pernah membawa kemajuan untuk tanah Papua. Perang selalu membawa penderitaan dan kehancuran bagi pihak yang kalah dan (sebenarnya) juga bagi yang menang. Kita sendiri yang akan merugi. Ada banyak korban yang mati secara sia-sia. Rumah dan harta benda hangus terbakar dan pembangunan tidak berjalan dengan baik. Mau berapa lagi kita dalam ketertinggalan dan kegelapan seperti ini?

“Saat ini, generasi anak-anak Puncak memerlukan pendidikan. Masyarakat perlu kesehatan. Ekonomi yang baik. Jadi, stop sudah perang suku di tanah Papua! Banyak yang harus kita selesaikan untuk kemajuan tanah Papua ini.Tidak ada orang yang kita harapkan untuk membangun daerah kita, selain kita sendiri. Jadi, mari kita bersama-sama membangun Ilaga, Kota Kayangan Papua ini dengan tulus dan penuh tanggung jawab. Puncak yang aman dan damai adalah harapan bersama.”

 

Nilai itu terus Willem tanamkan pada masyarakatnya. Lambat-laun nilai itu menjadi sebuah kesadaran baru pada sebagian masyarakatnya.

 

Sepekan lalu ketika mengunjungi daerah ini,  saya berkesempatan berbincang dengan kepala suku Damal dan beberapa warga. Dari obrolan itu mereka menegaskan bahwa Suku Dani dan Damal sesungguhnya bersaudara. Adik-kakak yang sama-sama memiliki tugas untuk menjaga tanah, sungai, gunung-gunung di Puncak Ilaga.

 

“Kami bergandeng tangan untuk menjaga kita punya tanah ini. Tanah Kabupaten Puncak. Masa depan Puncak kita yang bawa,” ucap Kepala Suku Damal dengan lantang dalam honainya.

 

Ya, ada kesadaran baru tengah berproses di tengah Puncak.  Pembangunan infrastruktur transportasi dan pelayanan publik dasar juga sedang menggeliat.

 

Foto Dewi Nurcahyani

Dalam sisa kepemimpinannya, Willem bergerak cepat melakukan pembangunan infrastruktur dan transportasi. Hambatan transportasi harus segera ia atasi untuk mengatasi ketertinggalan yang merambati persoalan lain. Sebab, transportasi berdampak langsung kepada ekonomi lokal, layanan publik, kesehatan, dan pendidikan.

Demi mewujudkan itu, ia menembus selapis demi selapis dinding birokrasi Pemerintah Propinsi dan Pusat, serta bekerja sama dengan pihak swasta dalam pembangunan Ilaga. Bahkan, ia nekad membeli pesawat kargo jenis Karebo PK-SWW buatan Amerika untuk menekan harga kebutuhan pokok di Ilaga.

 

Di kurun tiga tahun itu, setidaknya terdapat empat terobosan pembangunan yang tak bisa dianggap sebelah mata dalam catatan saya.

 

Pertama, mendatangkan pesawat untuk membuka akses Ilaga dan Timika, serta distrik-distrik lain melalui perjuangan yang melelahkan. Ia mulai dari lobi dengan pihak ketiga yang menyediakan pesawat, melobi ke Kementerian Perhubungan dan otoritas bandara Timika terkait perizinan, menyiapkan dukungan bahan bakar, perluasan bandara Ilaga, dan memberikan subsidi penerbangan kepada masyarakat.

Bandara Ilaga

Saat ini, tercatat ada 25 lebih penerbangan dalam sehari dengan pesawat  Jhon Lin Air, MAF, Airfast, Susi Air, Aviastar,  Asian One,dan Dimonim Air untuk memperlancar arus barang dan orang dari Timika ke Ilaga dan sebaliknya, serta ke distrik-distrik lain. Sayangnya, pesawat-pesawat  yang masuk ke Ilaga itu adalah pesawat jenis Cessna.  Pesawat kecil yang memiliki daya angkut terbatas sehingga biaya angkut pesawat juga  sangat mahal.

 

Untuk mengatasi itu, Willem membuat kebijakan khusus. Ia membeli pesawat  kargo jenis Karebo PK-SWW  dengan dana Pemda. Pesawat tersebut dikhususkan untuk mengangkut logistik dan tidak dikomersilkan. Pesawat DHC-4T turbo Caribou tersebut mempunyai daya angkut 4 ton. Jauh lebih besar dibandingkan dengan pesawat perintis yang beroperasi di Pegunungan Tengah yang daya angkutnya 1.3 ton dan  mampu mendarat di landasan sepanjang 300 meter. Tentu pesawat itu sangat membantu, mengingat saat ini Bandara Ilaga hanya memiliki landasan sepanjang 600 meter.

 

Kenekatan Willem membeli pesawat dengan anggaran APBD itu sebagai ikhtiarnya untuk menekan harga bahan pokok dan bangunan yang mahal. Terbukti, dengan adanya pesawat ini, harga-harga pokok di Puncak, Papua, sempat turun dan jauh lebih murah. Sayangnya, karena cuaca dan medan menuju Puncak yang terjal, pesawat ini mengalami kecelakaan. Menabrak gunung. Hancur. Dan, harga-harga di Puncak membumbung.

 

Pesawat, kata Willem, merupakan solusi sementara saat ini. Itu pun solusi dengan risiko tinggi. Jalur udara di Ilaga merupakan rute berbahaya karena bermanuver di sela-sela pegunungan. Willem sadar kebijakannya itu—membeli pesawat dengan anggaran APBD—juga berisiko memicu kontroversi. Tetapi, ia berani menerabas risiko itu sebagai tantangannya dalam proses perwujudan visinya: “meningkatnya ketersediaan infrastruktur dan pelayanan public dasar menuju masyarakat kabupaten puncak yangdamai, sehat, terdidik dan sejahtera.”

 

Kedua,  pembangunan  transportasi  darat. Hampir 80 persen jalan di Ilaga masih buruk.  Jalan darat dari distrik ke distrik dan kabupaten lain pun masih tertutup. Membuka akses jalan darat Puncak ke Timika dan kabupaten lain di Pegunungan Tengah Papua menjadi mimpi besar Willem Wandik. Meskipun hal itu membutuhkan perjuangan yang panjang dan membutuhkan upaya dan dana yang luar biasa besar.  Karena harus mendatangan bahan-bahan bangunan serta alat berat dari luar Ilaga dengan helikopter khusus. Dana yang dibutuhkan mencapai dua hingga tiga kali lipat harga unitnya. Harga alatnya  Rp1,5 miliar, tapi mengangkutnya ke Puncak bisa Rp3 hingga RP4 miliar karena harus menggunakan helikopter khusus.

Foto Dewi Nurcahyani

Namun, kendala itu tidak menyurutkan langkanya untuk segera membuka keterisolasian Kabupaten Puncak. Di awal tahun 2013, usai perdamaian perang antarsuku itu,  Willem langsung membangun jalan dalam kota, jembatan, serta pengerasan jalan dari kampung ke kampung dan dari distrik ke distrik. Dari Ilaga ke Beoga. Dari Ilaga ke Sinak.

 

Selain memaksimalkan keberadaan bekas lapangan terbang para misionaris gereja menjadi lapangan perintis, Willem juga memantapkan fungsi-fungsi unit pemerintahan dengan membangun sejumlah kantor-kantor pusat pemerintahan, Bank Papua, sekolah, rumah sakit, rumah sehat bagi petugas kesehatan, guru, pejabat, dan sebagian masyarakatnya, serta membangunan air bersih dan  tower telkomsel—sarana telekomunikasi—untuk memudahkan komunikasi.

Foto Dewi Nurcahyani


Dalam soal kerjasama antarinstansi, Willem melakukan koordinasi dengan bupati-bupati di sekitar wilayah Pegunungan Tengah untuk berjuang agar diizinkan mengakses jalan khusus Timika-Grasberg milik PT Freeport Indonesia. Jika jalur itu bisa digunakan masyarakat, mereka tinggal membangun jalan tembus dari Grasberg ke Ilaga. Dari Grasberg menuju Ilaga hanya perlu dibuka sepanjang 80 km sehingga akses langsung dari Ilaga dan distrik-distrik lain ke Kota Timika tercipta. Tapi, selama bertahun-tahun, izin itu tak juga diperoleh sampai sekarang—meski hanya untuk jalan sementara,  untuk membawa distribusi barang bangunan dan logistik warga pegunungan dari Timika ke Ilaga.

 

Willem tak patah semangat. Ia melobi ke pemerintah pusat. Ia berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Ia menyampaikan  betapa sulitnya kehidupan masyarakat  yang tinggal di puncak pegunungan Papua selama ini.

 

Kondisi geografis yang sulit yang menyebabkan wilayah ini terisolasi. Keterisolasian menurunkan anak-anak persoalan; mulai dari biaya hidup mahal, pendidikan, kesehatan dan perekonimian, pelayanan publik sangat tertinggal, dan rentan konflik. Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah Pusat mendorong  Freeport membuka akses jalan Timika-Grasberg tersebut.

 

Pertemuan di Istana Negara mendapat  respons dari Presiden Jokowi. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Muljono  dan Menteri ESDM Sudirman Said pada Februari 2016 berkesempatan mengunjungi Ilaga. Inilah preseden pertama kali dalam sejarah Ilaga dikunjungi seorang menteri.

 

Tentunya, kehadiran dua menteri itu memberikan harapan baru bagi masyarakat Puncak ini.  Menteri Basuki meresmikan pengerjaan proyek pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di Ilaga dan juga meresmikan proyek jalan antardistrik lintas kabupaten, yakni Sinak-Ilaga-Mulia dan Ilaga-Beoga-Sugapa dan memberi janji mendorong Freeport membuka akses jalannya meski untuk sementara terbatas hanya bagi distribusi barang.

 

Sekian tahun dari presiden ke presiden tidak ada yang berani membuka pembicaraan mengenai pembukaan akses Pegunungan Tengah Papua yang sebagaian menjadi area Freeport ini.  Daerah Pegunungan Tengah Papua ini semacam menjadi area tabu dan menakutkan untuk dibicarakan. Dan baru saat ini, Pemerintah Pusat di bawah pemerintahan Jokowi memberikan perhatian. Bupati Willem menyebutnya negara telah hadir nyata di Tanah Papua. Karena itu, Willem dan masyarakat Puncak merasa bahagia dengan komitmen Pemerintahan Pusat pada pembangunan tanah Papua, khusunya di Kabupaten Puncak.

Kini, sejumlah ruas jalan trans Papua yang menghubungkan wilayah Pegunungan Tengah dengan Nabire hingga Wamena dan Jayapura telah dibangun dengan biaya APBN.  Ruas jalan trans Papua yang sedang dibangun itu, di antaranya jalan dari Ilaga ke Beoga; Ilaga ke Sugapa, Kabupaten Intan Jaya; Ilaga  ke Distrik Sinak, termasuk jalan dari Distrik Sinak ke Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya yang rampung akhir tahun 2018.

 

Ketiga, Willem berhasil menekan harga kebutuhan pokok. Pemda Puncak Papua di bawah kepemimpinan Willem Wandik terus berupaya untuk menciptakan meratanya kesejahteraan bagi warganya. Seperti diketahui, Kabupaten Puncak merupakan salah satu daerah yang harga-harga kebutuhan di wilayahnya sangat mahal. Karena menggunakan pesawat perintis, harga-harga kebutuhan pokok, dan bahan bangunan, serta BBM di Kabupaten Puncak pun melambung sangat tinggi. 

 

Ketika ia datang ke Istana dan beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo, Willien juga membahas ketimpangan harga di daerah Pegunungan Papua dengan wilayah lain. Audensi Willem itu juga membuahkan hasil.

 

Pada peringatan HUT RI ke-71, 2016, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dibangun di Ilaga. Dengan adanya SPBU itu, harga premium yang sebelumnya Rp50 ribu per liter kini turun menjadi Rp6.500 per liter. Sementara harga solar menjadi Rp5.500 per liter. Sama dengan harga di daerah lain di Indonesia


Saat ini, masyarakat yang tinggal di puncak ketinggian Indonesia ini bisa benar-benar merasakan subsidi dari pemerintah. Namun, komitmen untuk mengatasi keterisolasian, percepatan pembangunan, serta perbaikan perekonomian di wilayah Puncak, Papua, Williem tidak berhenti sampai di situ.

Foto Dewi Nurcahyani

Ia juga membuka pusat grosir di Ilaga yang dikelola BUMD untuk menurunkan harga-harga kebutuhan pokok. Kini, harga barang sudah turun hingga 30 persen. Harga yang mendapatkan 30% lebih murah itu adalah 9 bahan pokok utama, yakni beras/sagu, gula, sayuran, daging, minyak goreng, susu, telur, minyak tanah, dan garam. Untuk harga beras, dari yang awalnya seharga Rp800 ribu kini berkurang menjadi Rp560 ribu untuk satu karung berisi 18 kg. 

 

Harga semen yang awalnya Rp2,5 Juta turun menjadi Rp950 ribu per sak. Air mineral 600 ml, dari yang awalnya Rp25 ribu, saat ini harganya Rp17.500. Material bangunan juga turun 30% dan tentunya sangat berdampak pada pembangunan di wilayah pegunungan Papua itu.Tentu saja , William merencanakan tahap demi tahap agar harga terus ditekan semurah mungkin hingga terjadi pemerataan harga di seantero kabupaten.

 

Keempat, Willem menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Selain hambatan infrastruktur dan transportasi, sumber daya manusia juga menjadi hambatan di Puncak. Willem sadar, semua pembangunan infrastruktur tanpa pendidikan, mungkin hanya akan dinikmati oleh penduduk bukan asli Papua. Sebab, sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki, jika tak ditunjang sumber daya manusia yang baik, jangan harap kekayaan dalam itu dapat dimanfaatkan dengan baik. Rendahnya tingkat pendidikan membuat masyarakat  tidak bisa beranjak dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Penyebab  masyarakat tertinggal tiada lain dan tiada bukan karena rendahnya pendidikan. Oleh  karena itu, masalah pendidikan menjadi perhatian khusus kepemimpinannya. Ketika ekonomi semakin maju, manusia-manusia Puncak siap menyambutnya.

Ada beberapa program pendidikan yang sudah dilakukan dalam menyiapkan sumber daya manusia Kabupaten Puncak saat ini. Pertama, untuk meningkatkan SDM guru, Willem membuat program rekruitmen guru tingkat PAUD, SD, SMP, hingga SMA yang dinamakan Program Rekruitmen Guru Perintis Kabupaten Puncak: “Sarjana Indonesia Mendidik Bangsa”.

 

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Kelompok Kerja Papua dan Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama (PPKK) Fisipol Universitas Gadjah Mada, FKIP Universitas Cenderawasih, dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Program ini dinamakan Program Guru Perintis karena para guru yang direkrut dari berbagai wilayah Indonesia diharapkan bisa berperan sebagai tenaga perintis yang berjuang untuk memajukan pendidikan masyarakat Kabupaten Puncak. Para guru perintis ini diharapkan mampu menjalankan tugas-tugas pendidikan, bukan hanya untuk anak-anak usia sekolah, namun juga bisa menjadi motivator dan fasilitator untuk meningkatkan semangat dan kemampuan kerja para guru setempat yang sudah lebih dulu mengabdikan dirinya di dunia pendidikan.

 

Kedua, Willem membangun asrama dan mengirim anak-anak asli Puncak menempuh pendidikan mulai dari sekolah tingkat dasar sampai jenjang kuliah dengan pendidikan khusus berpola asrama. Saat ini, ada satu asrama anak-anak Puncak yang telah berdiri di Jayapura dan dua asrama di Sleman dan Menado yang sedang dalam proses pembangunan. Tujuannya adalah untuk mempercepat kemajuan pendidikan Puncak. Di samping menempuh pendidikan di sekolah-sekolah, para siswa Papua diharapkan bisa membaur den belajar mengenai berbagai budaya yang ada di tempat tinggalnya yang baru. 

Bersama Para Mahasiswa dari Ilaga. Foto Dewi Nurcahyani

Saat ini sudah seratus lebih siswa-siswa Puncak yang dikirim ke asrama Jayapura, Sleman, dan Jakarta untuk menempuh pendidikan. Beberapa dari anak-anak Puncak itu telah lulus  menjadi pilot, dokter, pelayan kesehatan di mana mereka saat ini sudah mengabdi di pedalaman Kabupaten Puncak.

 

Ini adalah program yang menurut saya keren.  Sebuah program akulturasi yang hasilnya bisa dirasakan puluhan tahun mendatang. Bayangkan, 10-20 tahun lagi, ketika mereka selesai menempuh pendidikan tinggi dan bahkan berkarir di luar pulaunya, mereka akan membangun jejaring persahabatan yang berdampak pada kemajuan Puncak. Tidak perlu menunggu 10 tahun, saat mereka menempuh pendidikan, mereka akan berinteraksi, belajar kepada budaya lain, dan juga membangun persaudaraan antaretnis. 

 

Ke depan memang harus diperbesar skalanya dan distribusinya diperluas. Bukan hanya ke sekolah di kota-kota Jawa dan sekitarnya, tetapi juga ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya. Biarkan anak-anak Papua juga tumbuh dan merasakan interaksi dengan saudara-saudaranya di luar Papua secara dini. Agar perasaan menjadi Indonesia juga tumbuh dari sejak dini. Mereka memperoleh kesempatan yang sama, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bersama saudara-saudaranya se-Indonesia. Biar semua merasakan bahwa “Papua Adalah Kita!” 

 

Lima tahun kerja keras Willem Wandik yang sudah dipaparkan di atas mendapatkan apresiasi. Pada April 2017, Willem mendapat penghargaan pada perhelatan Indonesian Ministers Awards 2017 Goverment and BUMN yang diselenggarakan 7 media di Bali. Ada dua penghargaan yang didapat Willem. Pertama, Outstanding Regional Economic Growth, Education Sector, Infrastructure Development, and Public Health of the Year 2017. Wandik juga terpilih sebagai The Best Innovative Figures of the Year 2017, yakni bupati terbaik se-Indonesia. Penganugerahan penghargaan ini didukung sejumlah kementerian.

 

Pada bulan Mei 2017, ajang iNews Maker Award yang disiarkan secara langsung di empat stasiun TV swasta (iNews TV, Global, RCTI, MNC TV) juga memberikan penghargaan kepada Willem Wandik sebagai  “Tokoh Pembangunan Infrastruktur Daerah Tersisolir”. Pemberian penghargaan itu bersandar pada kenyataan ia mencoba tak menyerah dengan keadaan Puncak yang serbaterbatas. Willem dipandang punya ide-ide cemerlang yang terbilang gila, terutama dengan berbagai terobosan di bidang infratruktur untuk menekan harga barang yang tinggi dalam rangka mensejahterakan masyarakat Puncak-Papua.{}

 

0 Comments

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *