Membaca otobiografi dr. Abdul Gafur dalam buku ini, saya seperti membaca peta kelahiran anak manusia dan peta Keindonesiaan.

___________
Darah Abdul Gafur merupakan pertemuan dari darah Aceh dan darah Halmahere. Antara Barat dan Timur Indonesia. Karena itulah, membaca buku ini sesungguhnya bukan sekadar membaca perjalanan hidup Abdul Gafur tapi juga membaca peta Keindonesiaan—perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari enam zaman, yaitu masa penjajahan Belanda dan Jepang, masa Demokrasi Liberal, Demokrasi terpimpin (orde lama), Demokarasi Pancasila (orde baru) dan masa reformasi, yang telah dilalui oleh Abdul Gafur
____________

dr. Abdul Gafur Tengku Idris merupakan seorang tokoh nasional. Tokoh pergerakan yang gigih. Beliau berjuang meniti karier dari anak tangga yang paling bawah. Ia lahir di Patani-Halamhera Tengah-Indonesia Timur, daerah tertinggal di masa lalu. Berkat kegigihan dan kecerdasannya, beliau mampu menaklukkan Jawa dan menembus jajaran kekuasaan Orde Baru dan menjadi orang pertama dari Maluku Utara yang meraih posisi Menteri di era Soeharto sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga.

Karienya sebagai aktivis pergerakan dimulai sejak SMP di Ternate dan SMA 3 Teladan Setyabudi. Pada tahun 1966, Abdul Gafur tampil sebagai seorang pemimpin mahasiswa UI dan bergabung dengan KAMI melancarkan aksi-aksi Tritura untuk memberantas G.30.S/PKI. Dan Karier militernya dimulai sebagai Letnan Muda Pelajar AURI pada tahun 1964. Pangkat terakhirnya adalah Kolonel dan pensiun 1986.

Di era Orde Baru, kariernya dimulai sebagai anggota DPR/MPR Fraksi ABRI (1972-1978); Anggota MPR RI ( 1972-2009) Menteri Muda Urusa Pemuda dalam Kabinet Pembangunan III 1978-1983; Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (1983-1988); Angota DPA-RI (1988-1993). Atas pengabdiannya itu, ia mendapatkan tanda penghargaan dari Negara, yaitu Bintang Mahaputera Adhipradana, Satya Lencana Kesetian 16 Tahun, Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun dan Satya Lencana Dwidya Sista.

Hebatnya lagi, di tengah kesibukannya yang begitu padat itu, beliau masih memiliki energi untuk menulis buku. Saya mencatat ada 7 buku yang dilahirkan beliau. Bahkan di usianya saat ini, yang hampir memasuki angka 80 tahun, belia sanggup menyelesaikan buku Otobiografinya yang berjudul Zamrud Halmahera dengan jumlah halaman yang memukau, yaitu 732 halaman yang dibagi dalam 7 bab.

Selamat membaca, semoga mendapatkan inpirasi dan pencerahan!

Salam

Ayu Arman