Willem Wandik adalah petarung hidup dari rimba Pegunungan Tengah, Papua. Ia terpilih menjadi pemimpin pertama di Kabupaten Puncak; sebuah kabupaten yang lahir dari pertikaian politik saat Puncak baru memulai kultur politik baru, yakni politik demokratis. Oleh karena itu, “damai” menjadi jalan politiknya untuk melakukan resolusi konflik dan mendorong terjadinya perdamaian di Puncak Papua di awal kepemimpinannya.

 

Alam Puncak, Papua yang ia pimpin adalah kawasan sangat kaya. Namun, kehidupan masyarakatnya  terpenjara oleh dinding-dinding tebal pegunungan sehingga akses terputus dengan dunia luar. Mereka hidup masih berkutat kepada kualitas kehidupan yang memprihatinkan. Tak ada akses pintu masuk-keluar untuk menembus daerah pegunungan tengah selama ini.

 

Lima tahun ia  mengemudi dan mengeram gas sekuat-kuatnya untuk membangun dalam sukma perdamaian. Ia bekerja keras untuk  mengubah Puncak Papua dari pegunungan yang sunyi, terisolasi, penuh bara konflik, dengan biaya hidup serba mahal itu menjadi daerah yang damai, terbuka, dan terkendali.

 

Inilah memoar yang merekam jejak perjuangan hidup Willem Wandik dan proses perjuangannya membangun tanah kelahirannya menjadi daerah yang damai dan sejahtera.