Mei adalah momentum. Dalam gugus sejarah Indonesia, Mei dikenang sebagai tonggak penting kebangkitan kebudayaan di mana proyek kebangsaan dipahat dan keragaman didialogkan, sebagaimana Agustus dijadikan momentum kelahiran negara. Mei adalah nation, bangsa dan Agustus adalah state, negara. Kita kemudian mengenal dua istilah ini diringkus dalam satu pengucapan: nation-state.

Dalam konteks Halmahera Barat, Mei dipahami sebagai kebangkitan kultural, semangat ksatria, dan perayaan kesadaran baru; Mei adalah sebuah festival. Di bulan ini, kegembiraan diringkus dalam festival budaya. Sebuah perjumpaan yang menampilkan keberagaman adat dan budaya dari pluralitas suku dengan latar bahari. Festival Teluk Jailolo (FTJ), demikian festival budaya itu diberi nama dan diselenggarakan pemerintah Kabupaten Halmahera Barat di Jailolo, kemudian menjadi ritus baru merayakan asal dan mendialogkan keragaman dalam kultur bahari yang panjang.

Mula-mula festival teluk ini ingin meletakkan Jailolo dalam kosmos dunia perairan yang menjorok ke daratan. Teluk, lantaran letaknya yang strategis, banyak dimanfaatkan sebagai ikon pariwisata bahari dan sekaligus transaksi maritim (dermaga). Dengan paras dan peruntukan seperti itulah dunia mengenal Teluk San Francisco di Amerika Serikat, Teluk Guantanamo di Kuba, dan Teluk Persia di Jazirah Arab. Atau dalam konteks Indonesia, ada Teluk Cenderawasih di Papua, Teluk Tomini di Sulawesi Tengah, Teluk Bone di Sulawesi Selatan, dan Teluk Benoa di Bali.

Festival Teluk Jailolo kini telah menjadi destinasi dan tongak pariwisata Halmahera Barat. Dengan jalan Festival, Pemda Halbar menunjukkan kepada dunia luar bahwa kreativitas atau sumber daya budi Halmahera Barat belumlah redup. Festival Teluk Jailolo tidak sekadar peristiwa kebudayaan biasa untuk semata pariwisata. FTJ adalah jalan perdamaian di mana ketahanan kultural menjadi elemen terpentingnya. FTJ bukan hanya menjadi benteng preservasi cultural knowledge etnos-science, tapi juga merupakan pahatan jiwa baru bagi masyarakat Halmahera Barat Maluku Utara. Bahkan, Indonesia Raya.

 

Inilah buku yang merangkum kegiatan Festival Teluk Jailolo dari tahun 2009-201