Ayu Arman | 2020-06-03 04:10

 

Sebuah pesan masuk di layar handphone dua hari lalu. “Mbak Ayu, jadi salah satu pembicara mengenai  pemikiran Buya syafii maarif, ya.”

Saya sesungguhnya belum menjawab iya atau tidak atas permintaan   pesan itu. Karena saya tidak kenal dekat dengan Beliau. Saya hanya pernah berjumpa dengan beliau, kurang lebih hanya lima kali. Itu pun hanya menyapa penghormatan. Saya belum pernah punya kesempatan berdialog atau bercengkrama dengan beliau secara intensif.  

Saat berjumpa dengan beliau pun, saya membaca gerak tubuh Buya Syafii, meski beliau sangat  welcome kepada siapapun orang yang menyapa beliau, tapi beliau agak cenderung mengambil jarak atau membatasi diri dengan lawan jenis, perempuan, yang barangkali belum beliau kenal secara dekat. 

Jadi, pembacaan saya tentang Buya  Syafi’I Maarif  pada malam ini  hanya berdasarkan literasi buku, tulisan-tulisan yang berserak di media sosial, dan dari pembicaraan orang-orang, baik orang Muhammadiyah maupun non Muhammadiyah yang pernah saya  dengar, dan sedikit pengamatan saya sendiri dari jarak jauh, tentunya.

Baiklah. Jika saya melacak gagasan Buya itu ada tiga tema besar, yaitu Keislaman,  Kebangsaan, dan Kemanusiaan. Dan ujung dari pertemuan tiga tema besar itu adalah humanisme. Sebuah nilai dan sikap yang menjunjung tinggi  nilai kemanusiaan. 

Dan humanisme dalam Islam berarti kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan, bahwa manusia adalah makhluk Tuhan paling mulia yang dipercayai untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. 

Dengan pandangan inilah, Buya Syafii selalu membela kemanusiaan tanpa syarat. Berani menyuarakan suara -suara minoritas.  Berani menyuarakan keberbedaan. Berani melakukan  serangkain kritik terhadap situasi yang dianggapnya tidak sesuai dengan nurani dan akal sehat manusia. Saya pikir, jalur yang diambil Buya Syafii itu tidak mudah. Jalur yang penuh resiko. 

Lalu, mengapa Buya berani mengambil jalur itu?

 Saya pikir ada beberapa akar yang mendasarinya.

Pertama, Buya Syafii Ma’arif menghayati betul apa makna dari islam, agama yang ia yakini. Seperti yang beliau  sering katakan. “Islam itu  artinya penyerahan diri yang mutlak, sekaligus juga  bisa diartikan sebagai menyelamatkan. Jadi, disamping menyerahkan diri kepada Tuhan, orang Islam pun harus menyelamatkan orang,, lingkungan, yang ada di alam semesta ini. 

Kedua,  Buya Syafii Ma’arif juga menghayati betul menjadi manusia Indonesia. Ia lahir dan tumbuh di sebuah negeri yang kaya akan keragaman sosial budaya. Sehingga ia menghayati benar bahwa perbedaan itu sebuah realitas semesta yang harus kita terima. Itu sunatullah. Itulah yang mendasari Buya  Syafi’i Ma’arif selalu menyuarakan kemajemukan, toleransi, pluralisme. 

Bahwa perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia bukanlah untuk ditakuti  akan melahirkan perpecahan di antara sesama.  Perbedaan itu harus dijadikan sebagai pembelajaran dan pengayaan diri kita sebagai manusia akan realitas hidup di muka bumi. Karena   perbedaan-perbedaan itulah yang membuat hidup kita menjadi kaya akan warna. Wawasan kita menjadi sangat luas. Kita bisa belajar hidup dan kearifan dari orang yang berbeda. Dengan begitu, hidup tidak akan menjadi membosankan. Dan yang pasti, perjumpaan-perjumpaan dengan orang yang berbeda dengan kita itu akan membuka banyak kesempatan di luar sana. 

 Saya ingat pesan Buya Syafi’i dalam petikan-petikan wawancara beliau.

 “ Anda, Jangan sibuk dengan dunia Anda sendiri. Keluarlah dari kotak Anda.”  

“Persaudaraan dalam perbedaan itu sangat bisa. Asal, di sana ada ketulusan. “

Ketiga, pergulatan hidup dan pemikirannya itulah yang membuat Buya Syafii menjadi manusia yang “HIDUP.”  Tidak semua manusia hidup di dunia ini hidup, lho.  Manusia yang hidup adalah manusia yang mampu menghidupkan jalan kehidupannya melalui mencipta, berbagi kebaikan kepada sesama manusia dan alam semesta.  Seperti yang dikatakan oleh beliau dalam petikan wawancara.  “Hidup harus bermakna. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk orang lain.”

Sebagai penulis biografi,  pemikiran Buya Syafii Maarif  yang inspiratif  itu juga saya temukan pada tokoh-tokoh lain di Indonesia, bahkan tokoh-tokoh di daerah-daerah terpencil yang pernah saya tulis. Mereka juga memiliki gagasan dan mimpi yang sama. Mendambakan Indonesia dan seluruh negeri di semesta ini tertata dengan kebaikan, keadilan, dan kedamaian di atas segala perbedaan umat manusia.

Tetapi, apa yang menjadi “menarik” dari sosok Buya Syafii Maarif sehingga kita layak meneladani beliau? Lagi-lagi, berdasarkan pengamatan saya dari jauh. 

Pertama, beliau berani mengambil jalan “personal”, baik dalam pikiran maupun tindakannya dengan tetap menghormati organisasi besar yang pernah ia pimpin. Jalan personal itulah yang membuat beliau sampai detik ini menjadi pribadi yang otentik. Menjadi manusia merdeka. Tidak terikat oleh kekuatan apapun. Kecuali ikatan menyuarakan kebaikan. 

Dan itu ia lakukan dengan  komitmen  dan konsisten yang tinggi. Bagi saya, orang berkomitmen untuk memilih jalan kebaikan itu tidak mudah. Karena di dalam diri kita, semua manusia, terdapat dua macam manusia. Yang pertama adalah manusia yang mencari kebaikan bagi dirinya, sekaligus kebaikan yang kiranya dapat menjadi kebaikan bagi orang lain. Dan yang kedua, adalah manusia yang mencari kebaikan hanya demi sendiri, dan demi kebaikan itu, kadangkala ia mengorbankan, menyakiti, merugikan bahkan menghabisi nyawa orang lain. 

Nah, memilih jalan kebaikan untuk diri sendiri dan  kebaikan banyak orang, baik dikenal maupun tak dikenal, merupakan jalan yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. 

Niat saja tidak cukup. Karena pada perjalanannya, ada banyak halangan dari luar maupun dalam diri sendiri yang mencoba menggoyahkan. Karena jalan kebaikan adalah jalan pergolakan batin: antara ego dan hati. Dibutuhkan sebuah komitmen dan perjuangan pada diri sendiri secara kuat. Dan orang-orang yang konsisten dan komitmen memilih jalan kebaikan untuk kemaslahatan semesta ini adalah orang-orang yang telah selesai dengan egonya. Di dalam diri mereka hanya ada  pancaran cinta dan kasih. Nah,  maqom  perjalan diri Buya ini, bagi saya, sudah di tangga ini. Karena kasih dan cinta pada negeri ini, di usia yang senja itu, ia tetap menyuarakan apa yang harus ia suarakan demi kebaikan Indonesia.

Kedua, Buya itu mendidik dirinya sendiri untuk berani  “tidak menjadi siapa siapa” meski beliau adalah tokoh besar yang disegani. Ia tetap tampil sederhana. Hidup apa adanya.  Dan, katanya, beliau  hidup tanpa pembantu dirumah.  Semua pekerjaan yang ia lakukan sendiri. Bahkan  kabar terakhir yang saya baca dari media, ia kepergok rela mengantri di Rumah Sakit Muhammadiyah yang pernah dipimpinnya

 Saya mendengar cerita-cerita begitu saya kok sedih ya.  Disini,  saya ingin memposisikan diri  sebagai anak perempuannya, dan menasehati ayahnya yang telah berusia senja, dengan suara lirih.  “Buya, sesekali-kali lah menikmati fasilitas hidup yang memang Buya pantas dan berhak menikmatinya.” 

Saya tidak tahu nasehat saya akan didengar atau tidak. Karena konon  telah banyak orang-orang terdekatnya yang memberikan fasilitas kemewahan tapi  ia selalu tolak.  Disinilah saya menebak-nebak, barangkali Buya Syafii sedang melakukan “Tirakat Prihatin” untuk menjaga kesadaran dan kemurnian jiwanya. Ini saya hanya menebak saja, ya.  Semoga saja, suatu hari nanti saya bisa bercengkrama dengan beliau, dan bisa bertanya langsung  atas pilihan laku hidupnya itu sehingga jawaban saya tidak lagi berdasarkan sebuah tebakan saja.

Dari semua pengamatan literasi  saya, dan mendengar cerita dari orang-orang terdekatnya, saya mendudukan  beliau sebagai “Sang Brahmana  Nusantara.” Sang teladan hidup,  yang tidak semua orang bisa meneladani jalan laku kehidupan beliau . 

Saya akhiri catatan singkat saya ini dengan menghaturkan  salam hormat saya kepada Buya Syafi’i Maarif.  Selamat ulang tahun yang ke 85 tahun, Buya. Semoga Tuhan  dan Semesta menjaga dan melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada Buya dan sekeluarga. Amien.

Sampai ketemu pada diskusi malam ini, kawan, di bawah ini.